The Sunshine - Zavira Aline

1085 Words
Empat  tahun ini aku hanya berdiam diri saja di rumah. Kadang-kadang jika aku tidak tahan dengan rasa bosanku, aku pergi ke toko buku, mall, atau berjalan-jalan ke taman sendiri. Mas Arjuna melarang aku kerja karena dia tidak mau aku kelelahan. Besok dia akan pulang, iya besok tanggal 24 Desember. Setiap tanggal 24 tiap bulannya dia akan pulang. Melihat wajahnya saja aku sudah senang walau hanya kalimat-kalimat pendek yang terlontar dari mulutnya. Besok juga ada yang ingin aku bicarakan dengannya. Aku ingin bekerja. Itu saja. Kalau ada anak kecil di antara kami, aku juga tidak berpikir untuk kerja. Mengurus anak saja. Tapi, karena belum ada, bahkan Mas Juna saja tidak menyentuhku, aku ingin kembali bekerja. Memanfaatkan ijazah S2 milikku. Kemarin aku lihat di internet ada perusahaan yang membutuhkan karyawan sesuai dengan skillku. Tak ada salahnya mencoba. *** “Selamat datang mas..” sambutku ketika melihat mas Arjuna membuka pintu rumah kami. Wajahnya tampak lelah, dengan sekilas senyuman dia masuk ke dalam rumah. “Siapkan Air panas Lin..” Aku mengiyakan permintaannya dan menyiapkan air panas di kamar mandi. Aku bergegas menyiapkan air panas untuknya. “Mas airnya sudah siap,” Ucapku. ia meletakan ponselnya dan berjalan ke kamar mandi. Aku menunggunya selesai membersihkan diri, di meja makan. Aku sudah memasak udang balado, capcay, ayam goreng, dan nasi yang masih hangat. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlihat basah, air menetes dari rambutnya. Ia menggusak-gusak kepalanya menggunakan handuk. Rambutnya sudah terlihat sedikit panjang, rambut halus yang tumbuh disekitar wajahnya juga belum ia rapihkan. Ia menyampirkan handuknya di pundak. “Ayo mas makan..”ajakku, sambil menggeserkan piring kosong kearahnya. Ia menggeser kursi makan dan langsung menyendok sekadarnya lauk-lauk yang ada. Tak lupa aku membuatkannya teh manis hangat. “Mas ada yang ingin aku bicarakan,”sahutku, entah kenapa aku merasa gugup walau sebenarnya percakapan seperti ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh suami-istri. Dia mengangguk, terus melanjutkan kegiatan makannya. “Apa? Bilang saja.” “Mas, aku boleh bekerja tidak?”tanyaku, aku melihat ia mendelikkan matanya dengan kaget. Dia menatap wajahku, menunggu penjelasan lebih lanjut. “Mas.. aku bosan jika harus selalu berada di rumah. Aku ingin bekerja..” ucapku tergugup, ia menyesap teh manis hangatnya. “Memangnya uang dariku masih kurang? Kamu kan tinggal meminta saja dan kamu bisa memiliki segalanya yang kamu mau..” “Bukan begitu mas, aku jenuh berada di rumah..”sahutku sambil menunduk, aku tidak ingin menatap matanya. Aku tahu ia pasti tidak senang dengan pembicaraanku. Matanya tajam ketika marah dan membuatku takut. “Terserah kamu sajalah! Kalau aku melarangmu juga kamu pasti tetap bekerja. Buat apa aku susah-susah melarangmu!” jawabnya dengan gusar. Dia meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan apa pun lagi. “Mas mau kemana?” tanyaku, memperhatikannya. “Bukan urusan kamu!” bentaknya, dia mengenakan sendal sembarang dan keluar begitu saja, tak lama suara mesin mobil menjauh terdengar. Dia sudah pergi lagi.. Aku menangis karena aku merasa gagal menjaga perasaannya. Sebegitu muaknya dia dengan diriku. *** Aku menunggunya pulang di ruang tamu. Beberapa kali aku mengecek ponselku, aku takut terjadi apa-apa dengan Mas Juna. Aku membuka aplikasi w******p ingin menanyakan keadaannya, tapi aku urungkan lagi. Status whatsappnya juga offline. "Duh mas, bisa gak si. Gak buat khawatir." Ibu pernah bilang sama aku, kalau orang pergi dengan marah, bisa terjadi apa-apa di luar sana. Bisa jadi kecelakaan atau hal buruk lainnya. Aku tak mau itu terjadi kepadanya. Lebih baik dia membentakku daripada dia pergi begini. Aku membuka ponselku menatap foto pernikahan kami. Hanya ini satu-satunya foto yang aku punya, foto berdua dengan Mas Juna. Aku merebahkan kepalaku di sofa. Rasanya tidak nyaman, kalau aku tidur di kamar padahal Mas Juna belum juga pulang dan tidak ada kabar. Kemana si kamu mas?  Cklek.. Aku bergegas bangun dari sofa dan menghampirinya. Mas Juna kelihatan sangat kacau, jalannya juga sempoyongan. Aku langsung memapah Mas Juna. Dari nafasnya tercium bau alkohol. "Mas.." gumamku. Aku membawanya ke kamar, melepaskan sendalnya dan menyelimuti tubuhnya. Aku ke dapur mengambil teh hangat. Aku meminumkannya ke Mas Juna. Teh itu ditepisnya. "Dasar perempuan!" bentaknya. aku mundur dan menunggunya tertidur pulas. Aku duduk di pinggir kasur, menatap Mas Juna. "Kenapa mas, kamu sesulit ini untuk dihadapi?"  ***  Pagi hari aku memasak sup ayam dan telur omlet. Mas Juna hari ini akan kembali pulang ke apartemen. Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Tapi, Mas Juna belum juga bangun. Aku mengintip sedikit ke kamarnya. Mas Juna masih tertidur dengan selimut menutupi tubuhnya. Karena di rumah ini ada 2 kamar. Jadi, pastilah kami tidur terpisah kamar. "Baiklah, masakanku sudah selesai. Sebentar lagi Mas Juna pasti bangun." "Lin.. Lin.." panggil mas Juna dengan suara serak baru bangun tidur. "Ya mas.." "Kepala saya sakit." aku tersenyum kecil. "Mas semalam dari mana? mas mabuk semalam. Ini efeknya." Mas Juna hanya memijat-mijat keningnya. "Mau sarapan? aku udah siapin sarapan mas." "Iya nanti saya keluar kamar." "Mau mandi air panas?" "Air biasa aja, Lin." "Ok." aku keluar dari kamarnya dan menunggunya di meja makan. Mas Juna langsung mandi dan duduk makan pagi. Suasana di meja makan hening. Aku tidak ingin mengingatkannya akan kejadian semalam. Mas Juna makan tanpa berbicara, aku juga bingung mau memulai pembicaraan apa. "Mas.." "Lin.." "Eh, mas duluan saja yang bicara." "Gak apa-apa kamu aja." "Mas aja," "Soal kamu mau kerja karena jenuh di rumah, nanti saya pikirkan. Tapi, kalau saya berpendapat tidak usah kamu kerja. Uang dari saya bahkan 2x lipat dari gaji kamu kalau bekerja." "Iya mas, uang dari mas sangat cukup bahkan lebih. Aku hanya ingin menggunakan ijazahku saja." "Terserah kamu." jawabnya dengan nada datar. "Tapi, kalau mas gak izinin aku gak maksa mas." "Hmmm, nanti saya pikirkan lagi." "Baik mas." "Apa yang mau kamu omongin tadi?" tanya Mas Juna mengingat aku tadi ingin berbicara sesuatu kepadanya. "Gak mas, aku cuma mau tanya Mas Juna hari ini aktivitasnya apa?" "Syuting biasa." "Ohh.." "Kamu mau ke toko buku?" Mas Juna hafal kebiasaanku dengan ke toko buku. "Bulan ini belum ada buku menarik mas." "Sudah buka katalog onlinenya?" "Belum si." "Coba buka, kemarin saya tertarik dengan salah satu buku self improvement. Ada novel juga yang cocok dengan bacaan kamu sepertinya." "Mas mau nitip sekalian aku belikan?" "Boleh." Aku tersenyum. Akhirnya pembicaraan kami tentang hobi yang sama. Hal sekecil apa pun dari Mas Juna terasa beharga untukku, walau tidak untuk Mas Juna. Mataku terus tertuju padamu Saat kulihat dirimu tersenyum Ingin aku menyapa Namun, ku terdiam tak kulakukanMungkinkah kau pun juga begitu Tahu kau masih malu mungkin Sungguh ingin ku sapa Namun ku terdiam tak kulakukan Terdiam - Maliq & D'essentials
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD