-Love is bittersweet, it’s up to you to make it bitter or sweet-
Aku percaya semakin angin berhembus kencang, cobaan semakin banyak. Setelah ibu meninggal aku memang jarang pulang menuju rumah di kampung. Iya tempat yang aku sebut rumah itu. Rumah di kampung tidak seindah dulu, saat ibu masih ada di sana. Kehangatannya menghilang. Rasanya juga setiap melihat dia 'Aline' perasaan gusar menguasaiku, dan aku tidak ingin melihat wajahnya. Di wajah Aline aku bisa merasakan ada Ibu yang menungguku. Karena Aline bisa berada di hidupku karena Ibu yang memintaku. Aline peninggalan ibu yang beharga tapi juga menyakitkan. Sampai detik ini aku masih belum tahu bagaimana cara mencintai Aline dengan benar sesuai permintaan ibu. Aline maafkan aku. Karena rasa bersalahku, aku tidak bisa tinggal satu rumah dengannya Untung saja apartementku masih ada jadi aku tidak perlu kebingungan di mana aku harus istirahat setelah shooting usai. Aku juga hanya mengabarkan Aline sekali-kali, uang untuknya perbulan tidak pernah lupa aku transfer. Aku membebaskannya uangnya akan digunakan untuk apa. Belanja keperluan pribadinya juga tidak apa-apa. Aku juga mengingatkan Aline jika uangnya kurang untuk sebulan tidak perlu sungkan minta kepadaku. Aku akan dengan senang hati menambahkannya untuk menggantikan rasa bersalahku. Uang mungkin bisa menggantikan predikat 'Suami baik'. Aku tidak memperbolehkannya bekerja karena aku tidak mau terlihat seperti orang yang tidak bertanggung jawab, meski pun dia memiliki ijazah S2. Walau pernikahan kami sudah masuk tahun ke-4 aku masih belum pernah menyentuhnya. Aku pulang hanya untuk melihatnya, lalu esoknya aku pergi lagi. Di rumah kami juga tidak banyak berkata-kata, Aline begitu mengertiku.
Sebenarnya aku heran dengan Aline dia terlihat begitu sabar menghadapiku, dan uang yang selalu aku kirimkan juga dia tidak pernah ia gunakan. Padahal dia tidak bekerja dari mana uang untuk memenuhi keperluannya sehari-hari. Tatkala sangat lelah begitu menerpaku aku pulang ke rumah ibu, walau di sana sudah tidak ada ibu lagi tapi kenanganku masih tertinggal di sana jadi aku menangis di sana sendirian menyalahi diriku sendiri.
Bibi Sum selalu aku kabari saat aku sedang libur panjang, ia tidak pernah lupa menyiapkan makanan untukku. Aku menikmati setiap sudut kamar ibu walau wangi dari ibu kian samar.
Anton juga jarang bertemu denganku karena dia sibuk dengan perusahaannya. Aku mencoba memahami kesibukannya. Aku juga sibuk dengan photoshoot juga shooting kita berdua sama-sama memiliki waktu yang sulit.Anton baru saja menjadi salah satu pendiri perusahaan makanan sehat organik. Perusahaan yang baru berdiri memang membutuhkan konsentrasi yang besar. Jadi, aku tidak merengek ke Anton untuk selalu bersama denganku. Anton pun juga tahu dengan kegiatan padatku di pemotretan, film, dan acara lainnya tidak menuntut kami harus selalu bersama. Kami pasangan yang saling mengerti, kan?
Tapi, aku melakukan hal kebalikan dengan Aline. Aku seperti membuangnya dan Aline tidak menyerah sedikit pun. Padahal kalau Aline mau mengajukan perceraian, aku akan menurutinya. Aline selama 4 tahun ini benar-benar menjadi wanita yang patuh. Barang mewah yang dapat kutemukan di rumah hanyalah buku. Aline juga sama sepertiku suka membaca buku. Mungkin, setiap hari Aline membaca buku, untuk membunuh waktu agar tidak bosan. Sepertinya jika wanita lain, mungkin akan kabur atau selingkuh mencari laki-laki baik yang lebih memahaminya daripada menunggu yang sia-sia. Aku jadi merasa bersalah dan menyalahkan diriku, kenapa Aline mendapatkanku. Kenapa tidak laki-laki lain yang pasti bisa membuatnya bahagia? Bukan aku orangnya.. Sampai kapan aku membuatnya jadi seperti ini. Rasanya tidak nyaman.
Aline.. Aline aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan agar dirimu bisa muak denganku?
Hujan deras tidak kunjung berhenti sedari pagi di rumah ibu, aku sedikit khawatir dengan Aline. Biasanya saat Aline merasa jenuh dia pergi ke toko buku, semoga saja hari ini dia tidak pergi ke toko buku.
Untuk memastikannya lebih baik aku mengiriminya pesan..
“Jangan pergi ke luar, hujan deras.”
Mengetik..
“Aku tidak pergi kemana-mana..”
“Jangan membuat dirimu terluka, aku tidak ingin ibu nanti memarahiku..
“Iya..”
Aline memang wanita yang baik, dia begitu penurut dan tidak pernah membantahku, dia benar-benar menuruti pesan ibu. Sayang sekali Aline, kamu tidak bisa memasuki celah hatiku.. hatiku hanya untuk Anton. Sepertinya impian Ibu untuk memiliki cucu juga tidak akan tercapai, semua ini salahku.
Maafkan aku..
***
"Den Juna.." Bi Sum membangunkanku yang tertidur pulas di kamar ibu.
"Udah magrib den, Bibi mau pulang. Makanan sudah bibi siapkan ya." Aku memanggutkan kepalaku saja, mataku rasanya masih berat untuk diajak kompromi.
"Bibi pulang ya den."
Rumah sepergi bibi terasa semakin sepi. Di mimpiku tadi, aku rasanya seperti bersama ibu membicarakan sesuatu. Apakah itu pesan dari ibu?
***
"Juna.. Juna.. bangun nak." Di depan mataku ibu menggunakan baju favoritnya, tersenyum hangat sambil mengelus-ngelus rambutku.
"Juna, kamu sehat nak?" Aku segera memeluk ibu. Aku merindukannya.
"Aline apa kabar?"
"Baik bu."
"Juna, kamu mau sampai kapan menutup hati untuk wanita baik seperti Aline?" aku melepas pelukan ibu. Aku sendiri saja tidak tahu kapan hati ini akan terbuka.
"Sudah waktunya nak. Sebelum semua terlambat. Kamu tidak akan menemukan wanita setia seperti Aline."
"Tapi, bu.."
"Kamu bisa Juna, pelan-pelan. Semua akan ada jalannya. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri nak.. Ibu sayang Juna." Perlahan-lahan ibu seperti hilang ditelan cahaya.
"Maafkan Juna, bu.."
***
"Bi Sum memasak nasi goreng kesukaanku lengkap dengan telur dan kornet. Rasanya tidak berubah tetap lezat." Dapur terlihat kosong dan luas tanpa ibu. Biasanya ibu memasak apa saja di dapur, membuat teh atau kopi saat hujan seperti ini. Tak terasa air mata terjatuh, aku buru-buru menghapusnya. Ibu sudah tahu selama ini aku belum mencintai Aline. Apa ibu bahagia di atas sana melihat hidupku yang kacau seperti ini?
Di benakku terlihat Aline dengan tubuhnya yang kecil sedang memasak di dapur. Membuat kue, membuat masakan. Ikatan rambutnya ikut bergoyang seiring dengan gerak langkahnya. Aline senang memasak dan rasanya pasti lezat. Aku mengambil ponselku untuk menelfon Aline.
"Halo mas.."
"Halo Aline, kamu sudah makan?"
"Sudah mas. Mas sudah makan?"
"Sudah, lagi makan nasi goreng buatan Bi Sum."
"Di sana pasti dingin ya mas. Masih asri."
"Iya, ini kan kampung kita berdua."
"Kamu makan apa, Lin?"
"Sup ayam aku tadi membuatnya sendiri."
"Pasti enak ya."
"Lumayan mas."
"Kamu selama ini bosan gak di rumah sendirian?"
"Iya sedikit bosan mas. Tapi, engga apa-apa. Mas Juna kan sibuk kerja juga."
"Maafin aku ya, Lin."
"Maaf kenapa mas?"
"Karena aku, kamu merasa sendiri. Terbuang."
"Gak mas, mas makan dulu ya abisin. Nanti kita telfon lagi."
"Iya, Aline. Selamat malam."
***
Sulit bagiku menghadapi kamu
Tapi ku takkan menyerah
Kau layak kuperjuangkan
Perih bagiku menahan marahku
Tapi ku akan lakukan
Bahkan lebih dari itu
Lebih dari egoku - Mawar Eva De Jongh