The Truth Is Best Way For Us Arjuna Mahardian

1404 Words
Aku mengatakan yang sejujurnya pada Aline tentang diriku. Ibu yang menghendaki segalanya, bukan aku. Bagaimana jika memang tidak ada hasrat pada diriku. Padahal jika ia menikah dengan laki-laki normal pasti ia akan bahagia, ia cukup cantik dengan pipinya yang tembam membuatnya terlihat sangat imut. Namun tidak bagiku. Aku tidak bergairah saat melihat perempuan dihadapanku, entah mau secantik apapun parasnya. Ah ibu, kau membuatku menjadi serba salah. Aku tertidur di sofa ruang tamu dengan rasa bersalah yang memenuhi dadaku, aku mendengar rintihan tangisannya. Apa aku berikan saja ia uang yang banyak agar dia bahagia? Biasanya kan wanita diberikan uang banyak pasti senang. Ia bisa berbelanja apapun. Drrrt..Drrrtt.. Tumben sekali ponselku berdering malam-malam. Anton. “Bagaimana malam pertamamu dear, dengan istrimu?” “Aku tidak menikmatinya, aku tidur di luar.” “Tidak ingin merasakan perempuan?” Aku menggelengkan kepala, sadar bahwa dia tidak bisa melihatku dan segera membalas pesannya. “Tidak, karena hatiku sudah terpaut dengan hati yang lain”balasku, seulas senyum tergambar di wajahku saat membalas pesannya. “Hatiku kah?” “Tentu saja Anton, hatimu..” Aku mematikan ponselku, aku tidak ingin membaca pesannya lagi. Hatiku rasanya berdegup kencang. Aku tahu ini salah, tapi aku memang lebih terbiasa dengannya. Aku terbangun dari tempatku berbaring dan mendekatkan telingaku ke daun pintu. Ia sudah tidak menangis lagi, ia sudah tertidur. Syukurlah. Aku membuka pintu perlahan karena aku tidak ingin membangunkannya, wajahnya terlihat lelah. Pipinya terlihat basah. Pasti ia terlalu banyak menangis karena aku. “Maafkan aku..”bisikku sambil menyelimutkan tubuhnya dengan selimut merah milikku, “Hanya ini yang bisa aku perbuat untukmu,” Aku mematikan lampu dan kembali berbaring di sofa, mengingat kembali bagaimana aku dan Aline berkenalan.   14 Februari 2012 Hari itu aku sengaja mengambil cuti panjang untuk menjenguk ibu yang sakit dan terus menerus meminta aku pulang. Aku tidak mau karena waktu aku terlalu sibuk, aku jadi lupa dengan ibuku sendiri. Kemewahan metropolitan membuatku tenggelam dalam kekejaman waktu. “Le ibu sudah tua, sudah waktunya kamu juga menikah. Ibu tidak mau kamu hidup sendirian, ibu ingin ada wanita yang mengurus kamu, menyiapkan makanan kamu, membahagiakan kamu setiap harinya. Umur kamu sudah 30 tahun, kapan lagi le?” “Bu, Arjuna belum menemukan yang perempuan Arjuna mau bu, ibu tunggu sebentar lagi..”sahutku, mengelus kedua tangan rapuh digenggamanku. “Uhuk..uhukk..” “Le.. huk.. kamu sudah bilang ini dari tahun ke tahun, ibu sudah bosan menunggu. Ibu sudah memilihkan kamu dengan pilihan ibu, berpendidikan tinggi, rajin, cantik, dan penyabar..” “Bu, sudah bu..”sahutku mengambilkan ibu segelas air putih. “Ibu tidak akan memberikan kamu pilihan yang salah nak, ibu tahu wanita yang pantas untuk kamu..” “Bu, Juna saja tidak tahu siapa orang itu, lagi pula dia sepertinya terlalu pintar untuk Juna..” “Kamu dan dia tidak ada tingkatan yang berbeda, kalian berdua sama nak.. sama-sama manusia yang umumnya hidupnya di bumi.” “Terserah ibu, tapi jika Juna tidak cocok jangan memaksakannya bu..” “Harus menikah tahun ini kamu Jun, ibu mohon.. rasanya hidup ibu tidak lama lagi..” “Ibu bicara apa sih? Ibu masih bisa hidup 100 tahun lagi.” “Kamu ini Juna, kamu kan bukan Tuhan bisa menentukan lama kehidupan ibu.” “Ibu lebih baik istirahat ya sekarang, jangan banyak kegiatan.”sahutku, khawatir melihat wajahnya yang semakin pucat. “Kamu mau kemana, le?”tanyanya saat aku berdiri, aku mengecup kening ibu sebagai pengantar ibu tidur. “Juna mau cari angin bu.”jawabku pendek. “Besok kamu di rumah kan?” “Iya bu. Juna kan ambil cuti supaya bisa jagain ibu.” Ibu tersenyum lembut, “Besok calon istri kamu datang nak, jangan kemana-mana ya.” Aku menghela nafas, tidak mungkin saat ini aku melawan ibu. Ibu sedang sakit. “Iya, besok Juna ada di rumah”jawabku, ibu menganggukan kepalanya dan tertidur. Aku keluar dari kamar ibu dan menyandarkan tubuhku pada dinding. Ibu tidak tahu aku yang sebenarnya.. laki-laki yang ibu miliki hanya aku, ayah sudah pergi sejak aku berusia 8 tahun. Memang hanya aku harapannya. Maaf bu Arjuna bukan anak yang seperti ibu inginkan.   15 Februari 2012 Cahaya matahari menusuk kearah mataku. Samar-samar aku mendengar suara pembantuku yang sedang menarik tirai, “Den bangun den, ada tamu. Ibu nyuruh bibi bangunin aden, cepat mandi dan temui tamunya ya den..” Aku merenggangkan tubuhku dengan malas. Aku tidak ingin bertemu dengan wanita yang dijodohkan denganku. Sengaja aku membuat durasi mandiku menjadi lama, siapa tahu mereka jadi kesal dan pergi dari sini. Ternyata tidak. Mereka tetap menunggu. Aku menemui mereka dengan tampilan paling jelek dari diriku. Aku memakai kaos oblong, celana pendek, dan rambutku yang sudah gondrong sengaja tidak aku sisir. “Maaf ya Juna agak lama, sini le duduk.”sahut ibu sambil menepuk kursi disampingnya. Di depan ibu ada 2 orang perempuan, perempuan muda berusia sekitar 25 tahun, rambut hitamnya digerai, memiliki pipi yang tembam, matanya sedikit sipit dengan alis tebal. Dia tidak berdandan menor seperti kebanyakan wanita yang aku temui. Satu lagi perempuan berusia paruh baya seperti ibu, rambutnya dicepol dan menggunakan kebaya bewarna coklat muda, dandanan khas jaman dulu. Aku tersenyum kaku sambil menyapa keduanya. “Oh ini, anakmu jeng, si Arjuna Mahardian. Dia kan artis apa tidak terlalu tinggi buat Aline?”sahut salah seorang tamu itu, perempuan yang lebih tua. Ibu menggelengkan kepalanya, “Anakku ini biasa saja, tidak berpendidikan tinggi. Ia hanya populer walau memang bakat beraktingnya luar biasa, ya kan le?” Aku menganggukan kepala mengiyakan ucapan ibu, tidak tahu harus membalas apa. “Nak Juna, perkenalkan nama saya Rahayu, ibu Rahayu. Lalu ini anak perempuan saya semata wayang, namanya Zavira Aline. Biasanya dipanggil Aline..”sahutnya sambil menujuk kearah perempuan yang lebih muda.  Perempuan itu tersenyum kecil dan memandang kearah ibu lagi. Terlihat jelas ibu begitu bahagia saat melihatnya. “Le ini ada sedikit buah tangan dari kami, buatan Aline sendiri. Kue bolu ketan hitam. Kata ibu kamu, kamu suka dengan bolu ketan hitam.”sahutnya lagi sambil menyodorkan sebuah kotak, aku menerimanya sambil tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terimakasih walaupun hanya sekedar basa-basi. “Aduh anak ini sudah tampan, mapan, dan sopan. Cocok sekali dengan kamu, Aline.” “Kalau boleh tahu Aline sekarang sedang bekerja di mana?” tanya ibu membuka pembicaraan tentang Aline agar aku tertarik. “Saya sekarang sedang menjadi relawan guru di dusun kecil, tidak dibayar. Hanya seikhlasnya saja.”sahut perempuan itu. Suaranya terdengar sopan. “Sayang sekali ilmumu S2 tidak dimanfaatkan sebaik mungkin..”cetusku agar perempuan di depanku ini merasa illfeel dan menganggapku menyebalkan. Ia tersenyum menatap mataku dengan tegas, “Saya tidak menyayangi ilmu yang saya dapat. Menurut saya, ilmu bisa saya simpan dan saya bisa bagikan untuk orang yang membutuhkan. Saya tidak butuh gaji yang besar.”ujarnya tersenyum puas. Aku tidak bisa membalas ucapannya. “Ehmm.. bagus sekali niat kamu. Jarang orang jaman sekarang yang memikirkan orang lain..”sahutku asal “Cocok kan ya, le?”tanya ibu memegang tanganku. Aku tidak menjawab apa pun. Hatiku gelisah dengan semua ini. Ingin rasanya aku mengungkapkan semuanya, tapi aku tidak mau ibu terkena serangan jantung karena aku. “Ya sudah mari kita diskusikan tanggal pernikahan mereka, jangan lama-lama nanti Aline keburu diambil orang.”canda ibu Rahayu sambil tertawa kecil. “Aline dan Juna bisa ke halaman belakang untuk lebih banyak berkenalan lagi.”ujar ibu menengok ke arah halaman. Aku bangun dan memberi tanda untuk dia mengikutiku ke halaman belakang. Ia mengikutiku. Ibu dan Bu Rahayu tersenyum senang melihat kami berjalan berdampingan. “Halamannya luas ya.” ujarnya senang menikmati matahari yang menerpa wajahnya. “Iya, dulu ibu dan bapak berencana setiap akhir pekan membuat perkemahan di halaman belakang.”sahutku sekenannya. “Hmm begitu, pasti asyik ya..” “Iya, mungkin tapi rencana itu gak berjalan lancar karena bapak sudah pergi meninggalkan kami duluan.” “Maaf, soal itu.”sahutnya, wajahnya menunduk membuatku merasa bersalah. “Enggak apa-apa.” “Oh iya, maaf juga pertemuan kita. Hmm, sepertinya kamu terlihat tidak begitu senang karena perjodohan ini?” ujar Aline menyadari ketidaknyamananku. “Aku hanya belum terbiasa saja. Kalau begitu, kamu nikmati pemandangan dulu saja, ada yang harus aku kerjakan dan maaf tidak bisa menemanimu lama-lama.”sahutku. Aline mengangguk dan berjalan meninggalkanku, ia berjalan ke dataran yang lebih tinggi dari halaman kami. Dia tersenyum senang melihat pemandangan. Aku meninggalkannya ke dalam aku lebih memilih berdiam diri di kamarku dari pada menemaninya. Perjodohan? Omong kosong..  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD