2

1087 Words
Riuh pernikahan kami sudah lewat. Kakiku terasa pegal karena berdiri seharian. Kebanyakan memang hanya temanku yang dekat juga dari keluarga ibu, dan bapak. Arjuna juga tersenyum dan selalu mendapatkan pujian dari setiap tamu. Bahkan beberapa temanku berteriak histeris melihatnya. Wajar saja karena dia adalah aktor tampan yang sering muncul di televisi. Karena hal itu mereka memanggilku Cinderella. Karena bagaimana mungkin seorang perempuan biasa tiba-tiba menikah dengan seorang aktor terkenal dan dikagumi oleh seluruh perempuan di dunia ini? Aku sudah melepaskan pakaianku, menghapus makeupku, dan mengenakan piyamaku. Arjuna masih terduduk di ruang tamu, sibuk memainkan ponselnya. Ibu dan bapak memilih menginap di rumah saudaranya, begitu juga ibu Rafah mereka tidak ingin mengganggu kami, padahal semua itu malah membuat kami merasa canggung. Sebelum menikah memang ibu Rafah sudah memberikan kami rumah, tujuannya agar kami mandiri dan bisa mengatur segalanya berdua. Aku memandangnya dari bibir pintu kamar kami. Ia mengenakan kaos oblong bewarna putih, juga celana pendek selutut. “Mas...” aku memanggilnya tergugup. Dia tidak menoleh. “Mas Jun..”panggilku lagi, ia menatapku dengan tatapan datar. “Mas mau tidur? Aku sudah rapihkan kamarnya, dan mas mau minum apa?” Ia menggelengkan kepalanya. “Mas..?” “Sudah kamu tidur duluan saja, aku sibuk.” sahutnya, memilih untuk mengabaikanku dan kembali menatap ponselnya. Aku menghela nafas panjang dan masuk ke dalam kamar. Aku tidak mau memaksanya. Aku takut dia membenciku. Aku menunggunya untuk masuk kamar. Aku terduduk di sofa baca yang terdapat di sudut kamar. Sofa itu ia yang meminta dengan warna coklat dan beberapa motif bunga. Malam pertama kami, kami menghabiskannya di rumah Arjuna dan ini adalah kamarnya sedari kecil. Banyak buku bacaan mulai dari self improvement sampai buku fiksi novel. Tidak heran kalau melihat Arjuna saat di wawancara di TV terlihat jawabannya selalu penuh isi tidak asal jeplak. Arjuna termasuk actor yang terhindar dari gosip murahan. Dia selalu masuk TV karena film baru, penghargaan, dan segudang prestasi lainnya. Mungkin ada beberapa isu yang menyandungnya, tapi tidak mempengaruhi karirnya begitu banyak. Arjuna aktor favorit dan kesayanganku tentunya. Aku jadi teringat tentang sofa yang aku sedang duduki. “Aku ingin membaca buku bu, sebelum tidur. ” Begitu alasannya yang kudengar saat kami berbelanja perabotan rumah di toko funiture. Ibu Rafah tersenyum dan mengambil sofa itu untuk tambahan rumah kami di Jakarta nantinya di bawa. Ibu Rafah memang menceritakan padaku betapa sukanya Arjuna terhadap buku, tidak bisa sehari pun dia melewati hari tanpa membaca buku. Aku tidak keberatan, aku juga suka membaca buku. Buku menurutku adalah hal yang paling menyenangkan daripada menonton televisi. Tapi, aku jadi suka televisi karena Arjuna ada di sana. Aku tahu dia berpura-pura bahagia. Jelas saja dia kan aktor untuk berakting seolah-olah dia juga mencintaiku dan tersenyum bahagia itu adalah hal yang mudah. Aku meraih buku yang sering ia baca, ia sudah menyusunnya dengan rapi. Rata-rata bukunya mengenai sastra, dan kumpulan puisi. Slap.. Sepotong foto kecil terjatuh dari buku-buku yang kertasnya sudah menguning. Seorang anak laki-laki tersenyum gembira tangannya memegang bola sepak. Aku mengenali matanya. Arjuna Mahardian.. Dari kecil memang wajahnya sudah tampan, hanya perbedaannya saat masih kecil belum ada bewok seperti sekarang. Aku mendengar langkahnya mendekati pintu kamar, aku menyelipkan asal foto itu. Aku tidak ingin membuatnya marah. “Mau tidur mas?” tanyaku perhatian. “Iya, tapi tidak di sini.”sahutnya “Lalu kamu mau tidur di mana?” “Di ruang tamu, aku harus bangun besok pagi.”ujarnya sambil mengambil bantal dan guling dengan sigap. Aku menahan kata-kata yang ingin aku ucapkan. Aku ingin menjaga perasaannya. “Aku tidak menyukai perempuan, percuma kamu menikahiku. Aku tidak akan menyentuhmu Aline.. jadi jangan berharap lebih dariku” sahutnya, tanpa menatap mataku. Rasanya tubuhku langsung membeku mendengar ucapannya. “Kamu bohong kan mas?”tanyaku, suaraku tercekat. Aku berharap bahwa itu sekedar kebohongan belaka yang dia ucapkan karena memberontak atas pernikahan ini. “Aku tidak bercanda. Pernah kamu mendengar aku berpacaran dengan wanita lain? Tidak kan? Itu kenapa ibu ingin aku menikah. Karena ia mendengar desas-desus yang tidak enak tentangku.. dan kamu..”sahutnya, memberikan penjelasan. “Sudah mas, aku tidak percaya dengan yang kamu ucapkan. Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini kenapa kamu tidak bilang yang sejujurnya saja! Jangan membuat karangan yang tidak-tidak!!” Tanpa sadar aku berteriak karena tidak tahan lagi mendengar kata-katanya. “Mas, jika kamu ingin menceraikanku, carikan alasan untuk kita berpisah. Jangan menyiksaku seperti ini dengan kata-katamu.” ucapku dengan suara parau. Bagaimana bisa laki-laki yang tidak menyukai seorang perempuan, bisa menikah dan menyetujui pernikahan bodoh ini? Sial! aku bodoh! “Aline.. aku tidak akan pernah menceraikanmu. Ibu yang memintaku, dan aku tidak pernah melawan ucapan ibu. Jangan berani-berani kamu melarikan diri dari rumah ini dan jangan juga membuat berita heboh dengan pernikahan kita. Kamu tahu kan, kamu bisa merusak karirku! Pernikahan bodoh ini..” sahutnya menutup pintu kamar meninggalkan debuman keras. Setelah mengatakan kalimat yang sangat menusuk hatiku itu dia meninggalkanku seorang diri. Aku tahu betapa susahnya menjadi sosok Arjuna seperti sekarang, pastilah tidak mudah. Banyak kompetisi dan badai yang harus dilewatinya. Aku juga setuju untuk tidak mempublish pernikahan kami. Aku sadar diri jika aku hanya wanita biasa, bukan wanita yang diinginkan setiap laki-laki. Pernikahan atas landasan disuruh ibu ini, membuatku dilema. Aku bahkan melupakan semua kesenangan di kampung demi Arjuna. Aku tahu hatinya rapuh dari tatapan matanya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur yang sudah susah payah aku dan ibu hias. Aroma terapi juga sudah aku nyalakan. Aku tidak berharap lebih malam ini, aku hanya ingin berbicara dengannya baik-baik. Aku menutup mulutku dengan bantal agar tidak terdengar suara tangisku. Aku bisa gila jika terus menerus seperti ini. Harapanku akan keluarga kecil bahagia musnah.. Harapanku akan hadirnya sosok anak manis di kehidupan kami, musnah.. Ini semua baru saja dimulai apakah aku harus tetap berjuang? Harapan - harapan manis yang tidak menjadi nyata. Kenapa aku? Apa salahku? Ibu, menantu yang kau bilang sempurna ini tidak seperti bayanganmu.. Ibu, aku ingin pulang. Aku menangis terus menerus sampai rasanya mataku terasa berat, dan terlelap begitu saja, berharap aku tidak pernah terbangun dari tidurku. Aku sang sepatu kanan Kamu sang sepatu kiri Ku senang bila diajak berlari kencang Tapi aku takut kamu kelelahan Ku tak masalah bila terkena hujan Tapi aku takut kamu kedinginan Kita sadar ingin bersama Tapi tak bisa apa-apa Terasa lengkap bila kita berdua Terasa sedih bila kita di rak berbeda Di dekatmu kotak bagai nirwana Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya Ku senang bila diajak berlari kencang Tapi aku takut kamu kelelahan Ku tak masalah bila terkena hujan Tapi aku takut kamu kedinginan Sepatu - Tulus
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD