Setelah rapat besar akhirnya Food Health setuju menjadikan Arjuna menjadi ambasaddor. Luna tidak berhenti membicarakan Arjuna sampai aku bosan mendengarkannya. Besok jadwal pemotretan Arjuna. Aku bersama pak Anton harus melihat sesi pemotretan itu. Untuk memberikan arahan jika ada yang kurang, dan banyak yang harus dibicarakan. Semuanya sudah rapi aku catat. Sebenarnya bertemu dengan mas Juna membuat hatiku berdebar.
“Alineeee liat deh foto Arjuna di internet yang gua berhasil download. Ganteng banget!”sahut Luna sambil menyodorkan ponselnya. Terlihat foto mas Juna terpampang depan mataku. Aku hanyak menganggukan kepala dan tersenyum.
“Aline, lo merasa aneh enggak sih sama nih artis ganteng? Dia tuh udah 36 tahun, wajahnya ganteng, gak menua, terus mapan, tapi.. gak punya pacar! Dia juga enggak pernah kena gosip lagi dekat sama siapa.”
“Ya mungkin dia mau membangun karir dulu”ucapku asal. Padahal mas Juna sebenarnya sudah menikah. Dan istri mas Juna itu di depan mata kamu Luna.
“Masa sih ganteng begini dia gay? Please deh, gue sih kalau dia gak kasih makan gue, tapi asalkan gue boleh menatap wajahnya seharian penuh, gak apa-apa deh.”
Luna memainkan ponselnya membesar dan mengecilkan wajah Arjuna. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Luna.
“Pemotretan dia nanti gue pakai baju apa ya? Siapa tahu kalau gua dandan cantik, dia mau sama gue. Eh Aline kalau gue sama Juna, lo orang pertama yang gue traktir apa aja. Semua yang lo mau.”
Aku terkekeh mendengarkan Luna. Kembali fokus dengan pekerjaanku sambil mendengarkan celotehannya.
“Aline lo mau temenin gue ke salon gak hari ini?”
“Boleh aja sih, asalkan kamu mau bantuin aku selesaikan pekerjaan ini.”sahutku, memberikannya setumpuk dokumen yang Luna tampak menimang-nimang tawaranku.
“Yaudah deh gue bantuin, gue juga lagi gak ngapa-ngapain sih.”
Luna mendekatiku dan menanyakan hal apa saja yang harus ia bantu.
“Tumben Luna punya pekerjaan, biasanya nganggur.”celoteh Dino melihat Luna yang sedang memegang stabilo kuning.
“Heh diem deh lo! Gue nih lagi kerja. Mau gue aduin Pak Anton supaya gaji lo dipotong karena lo setiap hari kerjaannya cuma buka f*******: aja di komputer?”sahut Luna sengit. Dino segera bungkam dan kembali ke layar komputernya.
“Usil banget mulutnya, gak bisa liat gue lagi kerja deh.” Luna bersungut-sungut sambil terus menyamakan data di ponselnya dan kertas di depannya.
“Gue tahu kenapa pak Anton gak punya pacar, sibuk banget jadwal dia. Bisa-bisa dia jadi bujang lapuk kalau pekerjaannya begini terus.”ujar Luna mengibas-ngibas kertas di depannya.
Akhirnya pekerjaanku rampung juga karena Luna membantuku. Sesuai janjiku, aku menemani Luna untuk perawatan diri.
Sebuah salon yang penuh dengan nuansa pink menjadi pilihan Luna. Ia juga bercengkrama dengan karyawan salon itu akrab.
“Nah Aline, salon ini langganan gue, gue udah biasa nyalon di sini. Karena gue punya 2 voucher gratis jadi lo gak usah bayar. Serahin semua ke mbak Dini, dia yang biasanya ngenanganin gue. Jadi lo tinggal ikutin dia aja.”
Luna menarik tanganku dan menyerahku ke wanita berambut pendek, cantik, dan lebih terawat dari pada aku.
“Udah lo diem aja ya, ikutin mbak Dini aja. Dia gak mungkin salah. Gue mau spa dulu ya Aline.. Bye!”
Luna meninggalkanku di ruangan yang penuh dengan peralatan kecantikan.
“Mbak mari ikuti saya, saya tahu apa yang cocok untuk mbak.”ujar mbak Dini.
Aku menurut saja dan mengikuti langkah mbak Dini. Mulanya ia mencuci rambutku, mengeringkannya, dan memotong rambut panjangku. Awalnya aku menolak untuk memotong rambutku. Aku senang dengan rambut panjang hitamku. Apa boleh buat karena Luna memintaku untuk percaya pada mbak Dini jadi aku menurut saja. Lalu ia mengambil peralatan mewarnai rambut, tangannya yang gesit mengecat rambutku bewarna coklat keemasan. Mbak Dini memintaku berjalan ke area perawatan wajah. Entahlah apa namanya alat uap yang membuat wajahku segar, dengan teliti mbak Dini membersihkan wajahku. Wajahku terasa halus, dan bersih. Perawatan terakhir yaitu spa. Tubuhku benar-benar dimanjakan dengan aroma theraphy, pijatan, dan mandi susu. Semua itu menghabiskan waktu 3 jam. Luna sudah menungguku dengan wajah cerah.
“Wah ini Aline? Cantik banget. Beda abis!”
Luna mengacungkan jempol ke mbak Dini yang berdiri di belakangku. Aku hanya tersipu malu.
“Aline gue pengen belanja. Baju gue udah pada kosong. Eh lo jomblo kan? Gak ada yang nyariin dong? Ikut gue belanja yuk ke mall Plaza Indonesia. Ayo..”
Aku mengucapkan terima kasih untuk mbak Dini lalu mengikuti Luna yang sudah menarik-narik tanganku dengan tidak sabar.
Mall Plaza Indonesia ternyata lebih besar dari bayanganku. Luna berseru senang.
“Aline ayo kita ke atas, di lantai 2 ada butik yang bajunya bagus-bagus, gue jamin lo gak akan nyesel milihnya!”serunya
Butik yang memajang baju-baju limited edition, sesuai dugaanku harganya juga tidak murah. Luna sudah bolak-balik mencocokan bajuku dengan baju merah, kuning, hitam, biru tua, dan hijau tosca. Kata Luna aku bisa mengenakan baju warna apa pun karena kulitku yang putih tidak sulit menentukan baju apa yang harus aku kenakan.
Setelah Luna kelelahan memilih baju untuk dirinya sendiri dan juga aku, akhirnya kami membayar. Aku terbelalak kaget 4 potong dress yang aku beli total belanja 4,5 jt. Aku menatap Luna nanar. Luna mau meminjamkan uangnya padaku, tapi aku menolak. Aku ingat ada kartu ATM yang mas Juna selalu isikan setiap bulannya tidak pernah aku gunakan untuk berbelanja. Kalau aku gunakan mas Juna tidak akan marah ya kan? Aku menyerahkan kartu atm ku, dan berhasil. Aku bisa bernafas lega, jadi aku tidak menyusahkan Luna.
“Sekarang kita ke sepatu, dan tas! Ayo Aline, nanti keburu tutup.”
Aku mengikuti langkah Luna terseok-seok. Rasanya aku sudah lelah, tapi Luna masih bersemangat loncat dari satu toko ke toko lainnya. Alhasil tangan kanan dan kiriku penuh dengan kantung belanjaan. Dalam waktu beberapa jam aku sudah mengeluarkan uang sebesar 8 juta hanya untuk baju dan sepatu. Aku hanya bisa menghela nafas, baru sekali dalam hidupku berbelanja menghabiskan uang sebanyak ini. Memang benar teman bisa mempengaruhi kita.
Luna akhirnya memilih J.co menjadi tempat kami beristirahat, Luna memesan 2 iced coffee 2 gelas dengan cream di atasnya, dan donat coklat. Luna tersenyum puas melihat belanjaan kami yang tergeletak di lantai. Rasanya tanganku juga pegal karena membawa belanjaan mengitari mall besar ini.
“Aline rambut coklat lo itu bagus deh pas banget sama wajah lo. Cantik!” Aline memujiku dan mengambil fotoku dengan ponselnya.
“Liat deh cantik kan, gue merasa jadi punya saingan nih.”
Luna memanyunkan bibirnya melihatku.
“Enggak kok, kamu tetap perempuan paling cantik di Food Health.”
“Iiih, Aline bisa aja deh.”
Luna menyeruput minumnya lagi.
“Aline lo udah 27 tahun, dan lo belom punya pacar?”
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak punya pacar tapi aku punya suami.
“Kalau gue sih emang mematok cowok idaman gue. Dia harus mapan, tampan, setia, dan menuruti apa saja yang gue mau. Kalau lo gimana?”
“Kalau aku memilih laki-laki yang mencintaiku apa adanya, udah itu aja.”
Luna tertawa mendengar ucapanku.
“Hello Aline ini bukan negeri dongeng, lo harusnya bisa realistis dengan dunia jaman sekarang. Ya lo harus cari yang mapan supaya hidup lo terjamin, cari yang tampan kalau lo ke kondangan teman lo, cowok lo ganteng dan bisa dipuji-puji orang, dan setia sih penting. Kalau gak setia juga gak apa-apa sih sebenarnya. Udah jarang cowok setia di dunia ini,” Luna menjentikan jarinya.
“Gue ada kenalan cowok, dia masih jomblo dan kayaknya dia bisa mencintai lo apa adanya kayak yang lo mau. Lo mau kenalan sama dia?”
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak mau dengan siapa-siapa.
“Nanti pas acara food health dia gue bawa ya, gue kenalin sama lo! Kenalan dulu gak apa-apa kan?”sahut Luna sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya terdiam. Terserah Luna saja.
Aku tetap ingin berdiri di samping mas Juna sampai kapan pun, walau aku harus ditolak berkali-kali, di tusuk pedang tajam, bahkan 1000 anak panah menerpaku. Aku masih menginginkan mas Juna. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, dan aku ingin menjadi tua bersama mas Juna di sampingku.
“Udah jam 11, gak kerasa banget ya. Ayo Lin balik, panggil taksi dulu kita.”
Aku bangun dari tempatku duduk sambil bersusah payah membawa belanjaanku dengan heels yang aku kenakan. Jujur saja tumitku sudah terasa sakit. Aku ingin cepat pulang.