The Day - Arjuna Mahardian

1218 Words
Shinta sudah mengatur semua keperluanku, studio foto juga sudah diatur sesuai dengan tema. Sedari pagi aku sudah dipilihkan baju yang harus aku kenakan. Makeup artis juga datang lebih pagi. Semua tampak sibuk hari ini. Aku hanya terduduk diam melihat lalu lalang orang sambil memainkan ponselku. Fotografer bertubuh jangkung, berkulit hitam menenteng kameranya mendekatiku. “Hello Arjuna, kenalkan saya Abraham. Saya yang akan mengambil foto anda, saya harap kita bisa bekerja sama menghasilkan foto yang bagus.”sahutnya. Abraham menjabat tanganku sebagai salam perkenalan. Lalu ia mengeloyor pergi memastikan semua peralatan untuk mengambil fotoku sudah ready. Shinta bilang bos Food Health akan datang untuk memantau foto hari ini. Aku mengangguk, aku tahu orang itu pasti Anton. Aku didandani seperti pria metropolitan penyuka makanan sehat. Makeup natural. Fotografer memintaku untuk menoleh kiri atau kanan, bergaya yang sesuai dengan properti yang ada. Pria berkemeja biru tua, berkulit putih, berambut cepak mengedipkan matanya padaku. Itu Anton. Disampingnya seorang wanita berambut kecoklatan, mengenakan dress merah, dan high heels juga memperhatikanku. Pasti dia sekretaris Anton yang baru. Aku sudah berganti baju tiga kali, dan akhirnya sesi pemotretan berakhir. Setelah pemotretan selesai, Shinta memintaku mendatangi Anton sebagai bos dari Food Health. Anton sudah menungguku bersama sekretarisnya. Anton menjabat tanganku menyebutkan namanya. Sekretaris di sampingnya juga menjabat tanganku. Aku tidak terlalu memperhatikannya, aku hanya memperhatikan Anton. “Foto-foto tadi sepertinya bagus, tinggal dipilih saja mana yang menarik lalu bisa menjadi iklan di website kita.” Anton memang cerdas, ia juga jago berakting seakan tidak mengenalku. “Ini sekretaris baru saya, namanya Aline.” Aku terbelalak mendengar namanya. “Siapa?”tanyaku sekali lagi, lalu wanita disamping Anton merapihkan rambutnya, dan tersenyum ramah. “Nama saya Zavira Aline.” Lututku terasa lemas mendengar namanya. Benar dugaanku sekretaris Anton adalah Aline. Tapi penampilannya sangat berbeda dengan Aline. Rambut hitam legamnya berubah menjadi coklat, bermakeup, dan pakaiannya modis. Aku sampai tidak bisa mengenalinya. “Ehem..” Anton berdeham membuat lamunanku buyar. “Jangan lama-lama berjabat tangan dengan sekretaris saya.”ujar Anton. Aku duduk di depan Aline, aku masih tidak bisa fokus dengan pembicaraan. Tapi Aline tampak biasa saja, seperti tidak mengenalku. Dia ternyata benar-benar memegang komitmennya untuk menyembunyikan identitas kami. “Juna selanjutnya kamu bisa berbicara dengan sekretaris saya, dan sekretaris saya juga akan memberikan undangan untuk acara ulang tahun Food Health.” Anton pamit untuk mengangkat telepon, Shinta juga pergi untuk mengurusi hasil foto. Hanya aku dan Aline di meja bundar ini terdiam. Aline berdeham dan membuka laptop kecilnya juga mengeluarkan undangan. Terlihat wajahnya tegang. “Begini perusahaan kami Food Health resmi menjadikan anda ambsaddor kami, ini ketentuan dari perusahaan kami.” Aline memutar laptopnya ke depanku, jadi aku bisa melihat jelas isi dari kontrak tersebut. Aku memanggut-manggutkan kepalaku. Aku melihat sekitarku, dan menutup bibirku dengan tanganku jadi suara aku hanya akan terdengar kecil. “Aline kamu kenapa gak bilang kalau kamu kerja di Food Health?” Aline terdiam tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menatapku. “Aline kalau saya tahu kamu bekerja di Food Health saya tidak akan mau bertemu dengan bos kamu, dan ini bisa menimbulkan kekacauan.” Aline menegakan tubuhnya, membuat garis wajahnya terlihat tegas. “Saya bekerja profesional, saya minta jangan membawa masalah pribadi ke ranah pekerjaan. Saya hanya minta tanda tangan anda, dan datang di acara ulang tahun food health. Tidak lebih.” Aku kaget mendengar nada bicaranya yang tegas, dia belum pernah berbicara seperti ini. padahal selama ini aku membuatnya kesal. “Oh baiklah.”sahutku, berusaha menghilangkan kekagetanku dan mengambil pulpen hitam untuk menandatangani berkas. Aline memberikan undangan bernuansa hijau, dan tertera namaku. Ia merapihkan berkasnya kembali dan menjabat tanganku. Bibir merahnya tersenyum merekah. “Senang bekerja dengan anda.”sahutnya sambil menunduk. Ia pergi meninggalkanku yang hanya terheran-heran. Sepertinya dia baru saja bekerja, tapi dia sudah menjadi orang yang berbeda. Bukan Aline yang aku kenal. Ia melenggang pergi dengan rambut coklatnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya. Aku memperhatikan punggungnya yang terus melangkah menjauhiku. Aku terus menatap tubuhnya yang mulai menghilang diantara kerumunan orang. Aku memegangi dadaku.   Kenapa rasanya aneh sekali disini?    Deg! Zavira Aline Jantungku berdegup kencang tak karuan. Sulit menghadapi mas Juna dengan sikap yang tidak biasa. Aku juga tidak tahu kenapa lidahku bisa melontarkan kata-kata itu.  Aku bisa menangkap rasa cemas mas Juna tadi. Selepas meninggalkannya tadi aku merasa tidak enak. Aku ingin berbalik badan dan meminta maaf atas kata-kataku tadi. Ah tapi sudahlah, toh semua itu juga dia yang minta. “Aline kamu kenapa?” tanya Pak Anton melihatku bersandar di dinding luar studio foto. “Enggak apa-apa pak, saya hanya pusing.” Pak Anton memperhatikanku, dan memegang keningku. “Kamu gak sakit kok, cuma kelelahan aja.” Aku menganggukan kepalaku dan berdiri tegap lagi. “Pak semua dokumen sudah beres, dan pihak Arjuna juga sudah menandatangani kontrak.”sahutku memperlihatkan sekilas isi map ditanganku. Pak Anton menganggukan kepala dan membuka pintu mobilnya dengan remote. “Ayo kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan!” Aku mengarahkan AC mobil ke wajahku. “Awas, kamu nyender dong! Saya gak bisa liat spion nih.” Sinting. Entah kenapa pria tampan di Jakarta ini semuanya tempramental. Pak Anton memasang radio, radio sedang memutarkan lagu cinta sedih yang anak jaman sekarang sering bilang lagu galau. Aku menyanyikan lirik lagu yang aku dengar dengan suara pelan. Membuat hatiku bertambah sedih. “Ah cengeng banget sih nih lagu, ini tuh faktor orang-orang jadi cengeng kalau putus cinta.”sahut pak Anton sambil memutarkan kemudinya. Aku hanya mendengarkan pak Anton mengomentari lagu lagu galau yang mengalun di radio. Ingin rasanya aku membungkam mulutnya. “Aline kamu juga lagi galau? Saya gak suka sama sekretaris yang suka galau.” Aku menegakan dudukku dan tersenyum paksa untuk pak Anton. Saya juga enggak suka sama bapak. “Kamu lagi mikirin Arjuna? Suka ya?” “Semua wanita pasti suka sama Arjuna, dan setelah bertemu dengannya setiap perempuan pasti memimpikannya.”sahutku, memandang kearah luar jendela mobil. Pak Anton berdecak heran mendengarkan penjelasanku. “Kaum hawa memang berlebihan ya dalam mengagumi kaum adam, sampai terbawa mimpi segala.” “Bapak pernah jatuh cinta?” tanyaku lancang, aku benar-benar ingin membenahi pikiran pak Anton yang sepertinya apatis terhadap cinta. “Tidak pernah. Menurut saya cinta tidak penting, apa bedanya nafsu dengan cinta?” “Cinta itu tidak pernah menuntut hal lebih, tapi nafsu selalu meminta lebih. Cinta itu mengikuti bagaimana arus mengalir dengan orang yang dicintainya, berbeda dengan nafsu.” “Bagi saya cinta dan nafsu itu sama saja. Tidak ada perbedaan sama sekali. Contohnya ketika seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama. Pasti yang ada dipikirannya karena wanita atau pria itu lebih menarik dibandingkan dengan wanita atau pria yang sering dilihatnya. Karena ada nafsu yang berlebihan pada awal mereka bertemu, makanya mereka bisa saling jatuh cinta pada pandangan pertama.”ujar pak Anton. Aku memilih menutup mulutku rapat-rapat, mengomentari pak Anton rasanya percuma saja. Luna benar, pak Anton tidak bisa dinasehati atau diajak diskusi di luar hal pekerjaan. “Sudahlah ngapain berbicara cinta, pekerjaan dan karir lebih penting daripada hal yang penuh omong kosong itu. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana acara ulang tahun Food Health bisa banyak menarik sponsor dan konsumen.” Sepanjang perjalanan sampai kantor aku hanya bungkam.Tidak memikirkan konsep yang diminta pak Anton, tapi memikirkan Arjuna.   Harusnya cinta memang tidak dimiliki satu arah saja. Harusnya kedua arah saling mencintai dan saling mengisi satu sama lain. – Zavira Aline-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD