Why? - Arjuna Mahardian

1166 Words
Aku merasakan bibir lembutnya di keningku, sebenarnya aku belum tertidur. Hanya saja kali ini aku ingin membiarkannya merasakan menjadi seorang istri. Setelah dia meninggalkan kamar, aku mengambil ponsel. Mengabarkan Shinta bahwa aku baik-baik saja, juga menanyai kabar Anton. Selama aku mengetik pesan, tanpa aku sadari tanganku menyentuh keningku. Padahal setiap bermain film tak jarang aku mencium bibir lawan mainku tapi rasanya tidak seaneh ini. Kecupan Aline membekas dikeningku dan meninggalkan rasa yang tidak biasa. Anton juga sering mengecup keningku. Ah sudahlah kenapa kecupan kecil aku pikirkan. Aku harus menghubungi Anton, mengabarkan kalau aku sakit, dan sekarang aku sudah baik-baik saja. Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara Anton yang selalu menenangkan pikiranku. Aku melirik jam di dinding, ini masih jam kerja Anton. Lebih baik dia aku kirimkan pesan singkat saja. Aku rindu Anton.     **** 11 September 2008 Karena musim hujan ini, aku jadi sulit beraktivitas. Padahal hari ini latihan teater, dan hari terpenting karena ada pemilihan pemeran utama. Aku harus mendapatkan posisi itu! Gelisah, aku menunggu hujan reda di sebuah pertokoan kecil, rasanya aku ingin berlari menembus hujan, tapi aku tidak mau bajuku basah. Tidak ada kendaraan yang lewat, karena hujan deras pasti orang-orang malas keluar dari tempat mereka. Aku merapatkan jaket hijau yang aku kenakan. Dingin.. Tinnn..Tinnnn.. Sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Sang pemilik kendaraan membuka kaca mobilnya. “Mau bareng?” suaranya tidak terdengar jelas karena bersaing dengan deru hujan deras. “Apa?” “MAU BARENG SAMA SAYA?” Kali ini suaranya terdengar jelas karena ia menaikan intonasi. “TIDAK USAH SAYA TIDAK MAU MEREPOTKAN ANDA. TERIMA KASIH!”sahutku berteriak, suaraku hampir tenggelam oleh derasnya air hujan. “TIDAK APA-APA, SAYA SEPERTINYA SEARAH DENGAN ANDA. CEPAT MASUK!” Aku menoleh ke kiri dan kanan tidak ada kendaraan lagi. Dengan perasaan campur aduk, aku membuka pintu mobilnya dan membiarkan tubuhku duduk disampingnya. Tuhan memang baik hati, mengirimkan aku malaikat tidak bersayap di tengah hujan ini. Semoga saja lelaki ini seseorang yang baik. “Terima kasih, saya mau ke teater purnama.” ujarku sambil menggunakan sabuk pengaman. “Saya juga mau ke teater purnama, kebetulan sekali ya?”sahutnya sambil menurunkan suhu didalam mobil, lesung pipitnya terlihat jelas saat ia tersenyum menatapku. Aku berdeham mencairkan suasana. “Nama saya Anton.” ia mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. “Saya Arjuna Mahardian, panggil saja Juna,” aku membalas uluran tangannya. “Kamu pemain teater?”tanyanya, memutarkan kemudinya. “Iya hari ini adalah pemilihan pemeran utama, saya ingin pergi ke Jakarta.” “Kebetulan saya adalah salah satu juri yang akan menilai setiap pemain.”sahutnya tersenyum. Aku terkesiap tidak menyangka aku bisa satu kendaraan dengan jurinya. “Semoga kamu berhasil ya!”sahutnya, suara ban berdecit berbelok di teater Purnama. “Te..terima kasih..”sahutku tergugup, aku turun dari mobil Anton dan berlari cepat ke teater. Jantungku berdegup kencang, aku memerankan diri sebagai pangeran tampan yang berwibawa tapi licik di belakang rakyatnya. Peran yang cukup sulit namun aku masih bisa membawakannya dengan baik. Aku melihat Anton mengacungkan jempolnya di antara juri yang lain untuk menyemangatiku, membuatku percaya diri. Seusai itu semua juri bertepuk tangan, aku merunduk mengucapkan terima kasih. Setelah aku turun dari panggung, aku melihat Anton sudah berada di belakang panggung. “Aktingmu bagus sekali tadi, seperti aktor profesional!”sahutnya sambil menepuk pundakku. “Terima kasih.”jawabku, tidak bisa menahan senyuman lebar yang menghiasi wajahku. “Jika kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu makan malam bersama, sekaligus membicarakan tentang karirmu nanti.” aku mengiyakan ajakannya cepat. Aku juga ingin mengenalnya lebih jauh.     *** Ia menepati janjinya, seusai teater mengumumkan hasilnya dan merapihkan semua peralatan Anton sudah menunggu di luar dengan mobil hitamnya. Ia melambaikan tangan saat langkahku kebingungan mencari sosoknya. “Kamu tahu tempat makan yang enak?” tanya Anton sambil mengendarai mobilnya. “Saya tidak tahu”jawabku polos. Tentu saja, aku mana tahu daerah sekitar sini. Aku bukanlah tipe lelaki yang sering keluar rumah.  “Kamu tinggal di daerah sini kan? Masa sih gak tahu?”tanyanya lagi, menatapku dengan pandangan keheranan.  Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku terbiasa makan di rumah masakan Bi Sum, dan temanku juga tidak banyak. Tidak ada alasan untuk aku makan di luar. Di rumah terasa lebih nyaman. Aku menggeleng kearahnya, tidak tahu bagaimana harus menanggapi pertanyaannya. “Kalau begitu saya tahu tempat makan yang enak.”sahutnya sambil memutarkan kemudi mobilnya. Aku menuruti saja sarannya menyambangi tempat makan yang enak di Surabaya. Mobil berhenti di sebuah restauran yang berarsitektur Bali, ada ikon bebek di atas restaurannya. “Kamu suka makan bebek panggang enggak?” “Suka, tapi saya baru tahu kalau di sekitar sini ada restauran bebek panggang.”sahutku, memperhatikan dekorasi bangunan restoran tersebut. Aku masih memperhatikan pola lukisan di depan bangunan sampai telingaku mendengar suara Anton tertawa, membuatku heran apa yang ia tertawakan. “Ya jelas saja, ini restauran milik pamanku. Restaurant bebek panggang ini baru dibuka  1 minggu yang lalu.”sahutnya, berusaha menjelaskan.  Aku ikut menertawakan omonganku tadi. aku kira aku benar-benar sudah tertinggal banyak hal. “Ayo turun, mengobrol lebih banyak di dalam saja.” Sesampainya di dalam restauran 2 pelayan menyambut kami. “Pak Anton, menu seperti biasa yang di pesan?”tanya seorang wanita cantik sambil mengeluarkan buku menu berwarna kecokelatan dengan kaligrafi emas didepannya. “Iya seperti biasa, kalau bisa yang lebih lezat lagi. Saya ada tamu spesial yang harus dihidangkan makanan spesial.”canda Anton sambil melirikku di sampingnya. Anton menunjuk satu meja di sudut restauran. “Restaurantnya bagus ya? Kayak di Bali beneran.”sahutku membuka pembicaraan.  Anton tersenyum, “Memangnya kamu udah pernah ke Bali?” Aku menggelengkan kepalaku, “Ya belum sih. Tapi kan sering liat di televisi.”jawabku, membuat suara tertawanya kembali terdengar. “Berarti ke Jakarta minggu depan juga pertama kali ya?” Aku menganggukan kepalaku lagi. “Oh iya aku sampai lupa mengucapkan selamat atas kelulusan kamu dari seleksi tadi. Kamu termasuk ke dua orang beruntung yang berangkat ke Jakarta. Kalau kamu beruntung bisa saja nanti ada producer yang melihat bakatmu, dan menjadikan talent yang tetap di production house.” “Terima kasih untuk doanya. Padahal kita baru saja kenal tapi sudah seperti orang lama yang saling mengenal ya?” “Maklum saja aku bekerja di Jakarta sebagai pengacara, jadi untuk kata-kata manis nan menggiurkan sudah keahlianku.” “Kamu bekerja di Jakarta? Wahh.. aku kira kamu tinggal menetap di Surabaya” “Aku kesini hanya diminta temanku untuk menilai bakat-bakat pemain teater di Teater Purnama. Aku suka sekali dengan lakon teater tidak seperti sinetron-sinetron murahan jaman sekarang. Lebih dalam makna sastranya.” Aku setuju dengan perkataannya. Dengan alasan yang sama dari itu aku meniti karier dari bermain teater. “Jarang sekali orang-orang di era 2000’an ini masih menyukai sastra.” “Aku ini jenis yang langka. Aku termasuk dalam 1001 orang yang masih menyukai sastra.”sahutnya sambil menyantap makanannya. Sepanjang malam itu sambil menyantap bebek panggang kami bertukar pikiran. Rasanya nyaman sekali mengobrol dengan Anton. Itulah yang membuatku jatuh hati pada Anton.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD