Seharian ini mas Juna hanya berdiam diri di rumah. Sibuk membuka halaman demi halaman buku di tangannya, televisi di depannya menyala tanpa ia tonton. Aku melihatnya senang, akhirnya ia sudah sehat, dan aku bisa melihatnya di rumah. Ia menatapku.
“Kalau kamu terus memperhatikan saya seperti itu, saya merasa seperti maling.”sahutnya, memecahkan keheningan dianatara kami berdua. Aku berdeham, memilih duduk di depannya.
“Mas Juna sudah merasa lebih baik?”tanyaku
“Sudah.”
“Oh begitu.”
“Kamu mau ikut nonton televisi? Nonton aja.”
“Enggak kok mas, aku hanya mau memastikan mas baik-baik saja..”
Mas Juna menutup buku yang ia baca dan menghela nafas.
“Aline,” sahutnya, sambil menarik nafas panjang. Aku menunggu kelanjutan ucapannya dengan berdebar-debar.
“Aline, kamu boleh bekerja. Tapi…”
“Tapi apa mas?”
“Tapi saya tidak mau sampai ada orang yang tahu kalau kamu istri saya, paham?” sahutnya, matanya berwarna hitam menatapku dengan tajam. Aku menganggukan kepalaku, tentu saja hal itu sudah menjadi konsekuensi semenjak kami menikah.
“Ada lagi yang ingin kamu bicarakan dengan saya, Aline?”
“Mas, tidak bisa pulang 3x dalam sebulan?” tanyaku gugup, tanpa sadar aku memainkan ujung kemejaku.
Juna memejamkan matanya “Aline, kamu tahu kan saya sedang sibuk membintangi film layar lebar. Jadwal saya padat. Saya tidak bisa sering pulang.”
“Maaf.” aku menundukan kepala merasa bersalah dengan permintaanku.
“Sudahlah, pokoknya kamu kalau mau bekerja. Silahkan saja, tapi jangan sampai ada yang tahu kalau kamu istri saya. Ingat, Aline! Sampai ada yang tahu, karier saya bisa hancur.”
Aku menganggukan kepalaku.
“Terima kasih, Aline. Kamu sudah mengerti saya, mungkin saya suami paling menyebalkan sedunia ini ya?”
Aku ingin mengiyakan pengakuannya, tapi aku tetap diam.
“Aline saya rasa kamu harus sering ke salon, merawat rambutmu itu. Kelihatan kusam dan tidak modis.”sahutnya, memperhatikan tampilanku. Jariku sontak merapihkan rambutku.
“Paling tidak jika kamu ingin saya menyentuhmu, kamu harus tampil lebih cantik daripada lawan main saya di film.”sindirinya. Aku merasa tersinggung dengan perkataannya, bagaimana aku bisa menyaingi para pemain film. Mereka memiliki stylish sendiri, dan bisa mengikuti semua trend berbeda sekali denganku yang hanya berdiam diri di rumah.
“Baik mas.”sahutku menahan kekesalan. Aku langsung masuk ke kamarku, dan mematut diriku depan cermin. Wajahku memang biasa saja, rambutku juga hitam tidak modis.
Mas Juna benar, aku tidak cantik dan hanya membuatnya muak saat ia kembali pulang ke rumah..
Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadianAku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak menegaskan kucinta padamu
Terima kasih pada Mahacinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadianCinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejatiSaat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
BCL - CINTA SEJATI