Sorry - Arjuna Mahardian

1276 Words
Tidak sengaja aku melihat tiket bioskop tergeletak di atas meja. Awalnya aku tidak ingin tahu tiket film itu, apa pun yang Aline lakukan sehari-hari saya tidak mau peduli. Saat aku melihat tulisan yang tertera di tiket bioskop itu aku merasa bersalah. Ia menonton film yang aku mainkan My World, Is You My Love. Padahal kan ia bisa menghubungiku jika memang ia rindu dan ingin melihatku. Mungkin aku bisa meluangkan waktu 5 menit untuk meneleponnya via skype atau line video call. Seperti aku akan mengangkat teleponnya atau membalas pesannya saja. Tidak sengaja juga aku membuka rekaman di televisi yang ia rekam selama aku tidak ada dan bisa diputar berkali-kali. Semua yang ia rekam adalah sinetron dan ftv yang aku perankan. Aku mengacak-ngacak rambutku benar-benar merasa bersalah. Aline,  kamu memang tidak pernah bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Kalau kamu meminta aku mendengarkanmu ungkapan hatimu paling tidak kamu tidak tersiksa seperti ini. Aku tadi melontarkan kata-kata pedas mengenai penampilannya. Sebenarnya walau ia merias diri seperti Paris Hilton pun tidak bisa menarik perhatianku. Aku membuka kamarnya diam-diam, ia sedang sholat. Setiap memiliki masalah aku tidak pernah mendengar ia mengadu pada ibunya sekali pun, mengadu padaku, atau memiliki teman-teman di sekitarnya. Dia begitu sederhana dan diam. Aku bisa mendengar isakan diantara doa-doa yang ia pinta. Ia terlalu sabar menghadapiku.. Aku melirik jam dinding di ruang tamu, jam menunjukan pukul 22.00 malam. Aku ingin mengajaknya mencari udara segar, membuatnya merasa lebih baik mungkin. “Aline..” panggilku. Ia langsung menoleh dan membuka mukenanya. Wajahnya yang polos tanpa riasan membuatku secara tidak sadar tersenyum lebar. “Iya mas? Mas mau aku siapin cemilan? Atau badan mas merasa sakit lagi?”tanyanya, menghampiriku. Aku menggelengkan kepalaku. “Makan diluar yuk bareng aku?”tanyaku. Sontak wajahnya berubah. Wajahnya tampak kaget dengan ajakanku yang mungkin pertama kali didengarnya. “Enggak apa-apa mas aku makan sama mas?”tanyanya lirih. Aku menganggukan kepala. Terlihat jelas wajahnya senang mendengar ajakanku. “Cepat ya siap-siap, gak usah cantik-cantik dandannya. Deket kok.” sahutku sambil menutup pintu kamar Aline. Aku mengenakan pakaian seadanya, mengambil topi hitamku, juga masker untuk menutupi wajahku. “Aku sudah rapi mas!”teriaknya Aku memberikan kode untuk ia keluar terlebih dahulu. Ia menuruti saja, lalu aku mengambil kunci mobil yang Aline gantung dekat pintu. Aku duduk di bagian kemudi, menyalakan mesinnya dan memasukan gigi satu. Aku menjalankan mobil menuju seafood kaki lima yang aku maksudkan. Aline hanya berdiam diri saja menatap keluar jendela. Aroma dari mobil Aline mengeluarkan aroma parfum khas Aline, vanilla. Aku memberhentikan mobil di pertigaan, aku pernah makan seafood di sini bersama Anton. Menurutku rasanya enak. Terakhir kali aku ke sini para pengunjung langsung meminta foto bersamaku, sampai Anton merasa kesal karena merasa dianggap tidak ada. “Aline kamu lihat dulu gih, di dalam ramai gak?” Aline turun dari mobil dan melihat suasana dalam tenda oranye tersebut. Ia mengetuk jendela mobil. “Sepi mas, gak ada pengunjung. Gimana kamu mau tetap makan di sini?”  Aku mengangguk, mematikan mesin mobil, dan memarkir mobil. Aku langsung duduk di bagian tersudut dari tenda oranye, dan membelakangi penjual seafood, agar ia tidak bisa mengenaliku. Aku menuliskan menu yang aku suka dan menyuruh Aline memberikan kepada si penjual. Tak lama makanan sudah jadi, dan aku masih mengenakan maskerku. “Mas kamu emang bisa makan pakai masker?” tanyanya polos. Matanya menatapku dengan raut penasaran. Aku membuka maskerku, sebelumnya aku melihat dulu suasana di sekitarku. Aku beruntung malam ini kaki lima seafood ini sepi. “Seafood di sini enak banget, aku pernah makan di sini sekali.”sahutku sambil membuka kerang asam manis yang masih mengepul panas. Aline membantuku membuka kerang yang masih panas itu dengan cekatan dan meletakannya di atas piringku. “Oh ya? Makan sama siapa?”tanyanya, menyuapkan sesendok makanan ke bibirnya yang tipis. “Sendiri.”ujarku, berbohong kepadanya. Aline membentuk mulutnya seperti bulatan kecil lalu mengangguk. Dia terus membuka kerang yang masih panas itu dan meletakannya dengan cekatan dipiringku. “Makasih..”sahutku “Mas ini pertama kalinya kita keluar bersama.”sahutnya, tersenyum lebar. Aku menganggukan kepalaku setuju. “Kamu lagi sibuk banget ya mas belakangan ini?” “Ya begitulah, kan kamu tahu sendiri. Setiap kamu buka majalah pasti ada wajahku di situ.” “Iya kamu selalu menjadi model pakaian dan selalu terlihat tampan.”pujinya sambil tersenyum, aku membalas senyumnya. “Masa sih saya tampan? Masih banyak perempuan yang bilang saya jelek.” Aku membalas setiap obrolannya. Aku ingin menghilangkan rasa bersalahku padanya. Aku harus bisa memanfaatkan bakat berkatingku dalam suasana dan keadaan apa pun. “Masa sih? Pasti perempuan itu membenci mas.. Menurutku dari kita belum kenal dan hanya melihat mas di televisi saja, mas tampan sekali!” Ia bercerita dengan semangat. Sampai ia lupa menyantap makanannya. Aku juga terhanyut mendengarkan ceritanya. Hal baru yang aku baru ketahui tentang Aline, dia pintar mengemas cerita menjadi menarik untuk di dengarkan. “Mas ada orang, cepat pakai masker kamu..” bisik Aline. Aku menenggak teh manisku, dan langsung mengenakan masker. “Kamu sudah kenyang Lin?” tanyaku.  “Mas, mau ke jembatan biru di ujung jalan sana gak?” “Sudah malam Aline, kamu mau nyaingin si Manis Jembatan Ancol ya? Main kok di jembatan?” “Mas mau ya? Mumpung mas lagi libur.” “Terserah tapi bayar dulu makanannya.” “Aku saja yang bayar.  Mas langsung ke mobil ya!” Aku mengacungkan jempol dan menundukan kepala saat melewati para pelanggan. Aku merasa ekor mata mereka mengikuti langkahku. Saat tiba di mobil rasanya aku lega. “Ayo mas kita ke jembatan biru!” “Sebentar saja ya, saya kan baru sembuh.” “Kalau begitu tidak usah, aku lupa kalau mas baru saja sembuh.”sahutnya. Aku tersenyum melihat wajahnya yang kecewa namun ia berusaha menyembunyikan rasa kecewanya walau jelas terlihat. “Saya hanya bercanda, baiklah kita ke jembatan biru. Ingat sebentar saja ya!” Aline bertepuk tangan senang. Sesekali aku mendengar senandungnya seperti anak TK yang diajak study tour. “Mas di sini airnya memantulkan cahaya bulan yang cantik. Aku sudah lama mau ke sini tapi aku takut sendirian. Kan aku enggak mau saingan sama si Manis.” “Ya bagus sih, sepi lagi.” Aku melihat sekitar, suasananya terlihat sepi, gelap, dan hanya ada suara serangga juga percikan air. Pasti itu hewan air yang sedang bermain. “Lihat deh mas, pas banget kan bulannya lagi bulat dan terang!” Aline keluar dari mobil tanpa bisa aku larang. Aline duduk di kap mobil, menyandarkan tubuhnya pada kaca tanpa rasa takut jatuh. Aku terpaksa mengikutinya duduk di sampingnya. Aku tidak mau melihat mahluk lain tak kasat mata. “Mas, aku harap waktu bisa berhenti agar kamu dan aku bisa menikmati keindahan malam seperti ini lebih lama.”bisiknya, tatapanya terus mengarah ke langit. Aku terdiam tidak membalas ucapannya. Aku bisa melihat cahaya rembulan yang membias di wajahnya yang terlihat merona senang. Bibirnya yang mungil mengerucut seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia menahannya. “Walau aku tahu, hanya aku yang menginginkan malam indah seperti ini bersamamu. Aku tahu mas tidak pernah ada tempat untukku di hati kamu. Aku sadar itu.” Aku berdeham dan lalu berpura-pura memijat keningku, “Aku pusing.” “Mas, masih sakit?”tanyanya hati-hati. Aku berhasil mengalihkan ucapannya. “Ayo kita pulang, besok saya ada jadwal pemotretan..” Ia langsung masuk ke dalam mobil, kami berdua membisu di perjalanan pulang. Membisu kembali seperti biasa lagi. Rasa bersalah datang lebih dari yang aku duga. Walau aku tahu, hanya aku yang menginginkan malam indah seperti ini bersamamu. Aku tahu mas tidak pernah ada tempat untukku di hati kamu. Aku sadar itu.. Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku, sampai rasanya kepalaku ingin pecah..  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD