Hunter

1102 Words
(POV: Kai) Ada banyak hal yang bisa kukendalikan—pesawat tempur, cuaca buruk, bahkan situasi darurat. Tapi Amelia Thorne tidak pernah termasuk salah satunya. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun, dia kembali tepat di jalur terbangku, seolah langit sendiri sengaja mempertemukan kami lagi. Seolah apa pun yang pernah ada di antara kami tak pernah benar-benar berakhir. Langit pagi ini terlalu tenang. Aku tidak pernah menyukai langit seperti ini—terlalu sunyi, terlalu bersih, seolah semuanya berjalan sempurna. Biasanya itu pertanda ada sesuatu yang akan pecah. Ribuan kaki di atas tanah, F-35B melesat mulus menembus udara, merespons setiap gerakanku seolah pesawat itu adalah perpanjangan tubuhku sendiri. Getaran mesin terasa stabil, akrab, bahkan hampir menenangkan. Semuanya sempurna. Dan justru itu masalahnya. Aku sedikit menggeser genggaman pada kontrol, mataku tetap terpaku pada cakrawala. Namun pikiranku tidak berada di tempat yang seharusnya. Tidak sejak briefing pagi tadi, tidak sejak namanya disebut. Amelia Thorne. Bukan sekadar nama, melainkan sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi—hanya terkubur cukup dalam untuk kuabaikan sampai sekarang. "Shadow-1 dalam posisi. Menunggu instruksi." Suaraku terdengar tenang, datar, profesional. Persis seperti yang seharusnya. "Shadow-1, pertahankan jalur. Atlas-1 akan memasuki sektor dalam dua menit." Atlas-1. Hanya itu yang dibutuhkan. Aku tetap menatap lurus ke depan, tetapi jemariku tanpa sadar mengencang di atas kontrol. Reaksi itu hanya berlangsung sesaat, namun cukup untuk membuatku kesal pada diriku sendiri. Aku sudah tahu sejak pagi. Namun tetap saja, semua ini terasa tidak nyata. Aku mengembuskan napas perlahan. Fokus. Ini hanya sebuah misi. Setidaknya itulah yang terus kukatakan pada diriku sendiri. Aku mencoba mempercayainya. Sayangnya, aku gagal. Aku memiringkan pesawat sedikit, menyesuaikan jalur secara refleks. Lalu aku melihatnya di radar. Satu titik. Besar. Stabil. Atlas. Tatapanku bertahan satu detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan pada pesawatnya. Melainkan pada orang yang berada di dalamnya. "Atlas-1, ini Shadow-1. Visual di belakangmu." Suaraku tetap stabil. Tetap terkendali. Seolah tidak ada yang berubah. Keheningan menjawab. Singkat. Namun terasa berat. Lalu— "Shadow-1, diterima." Suaranya. Sial. Aku mengenalinya bahkan sebelum otakku sempat mengejar apa yang sebenarnya ia katakan. Kini terdengar lebih dingin, lebih tajam, lebih terkendali—namun tetap Amelia. Senyum kecil hampir lolos dari bibirku. Aku menahannya. "Jadi benar..." gumamku pelan. "Amelia yang menerbangkan Atlas." Ya. Aku seharusnya tidak mengatakannya. Tapi tidak masalah. Beberapa kebiasaan memang sulit mati. "Fokus pada tugasmu, Dawson." Nah. Itu dia. Tajam. Bersih. Tidak memberi ruang untuk hal-hal yang tidak perlu. Aku hampir tertawa. Masih sama seperti dulu. "Selalu," jawabku ringan. "Aku cuma memastikan kau tidak tersesat lagi." Begitu kalimat itu keluar— Ya. Itu kesalahan. Terlalu akrab. Terlalu... kami. Radio kembali sunyi. Namun kali ini keheningan itu tidak kosong. Ada ketegangan yang pekat dan tak terucapkan, menggantung tepat di antara kami. Aku mengembuskan napas perlahan dan memaksa fokus kembali ke misi. Tidak berhasil. Suaranya masih terngiang di headset, dan sebelum sempat menghentikannya, pikiranku sudah kembali ke rumah lama itu. Pikiranku melayang kembali ke rumah, ke cahaya pagi yang masuk melalui jendela dan udara hangat yang seharusnya terasa menenangkan. Aku berdiri di dapur sambil memegang secangkir kopi yang belum kusentuh. Suara ayahku terdengar dari luar. "Kau butuh disiplin, Kai! Angkatan Udara akan membuatmu menjadi pria sungguhan, bukan seseorang yang hanya pandai bicara!" "Akademik." Ayahku selalu mengucapkan kata itu seolah sedang menyebut sebuah kegagalan. Aku tidak membantah. Tidak pernah. RAF terasa sangat jauh saat itu, nyaris tidak nyata, namun sekaligus tampak seperti jalan keluar. Dua hari kemudian, aku melihatnya. Dari jendela kamarku. Amelia. Sedang membawa sebuah kotak yang hampir terlalu besar untuk dipeluknya. Aku bahkan tidak perlu membaca labelnya dua kali. Panduan Persiapan Masuk RAF. Aku tertawa pelan. Tentu saja. Bahkan tanpa bertanding pun, Amelia selalu berhasil berada satu langkah di depanku. Atau mungkin... Dia memang tidak pernah berniat membiarkanku mendahuluinya. Aku bersandar pada kusen jendela sambil memperhatikannya. "Jadi kita mulai lagi, ya..." Perang itu tidak pernah berakhir. Hanya berpindah arena. Cranwell. Hari pertama dengan udara dingin dan tanah yang masih basah oleh hujan semalam. Dia sudah berada di sana. Tentu saja. Kami berdiri di sisi yang berlawanan, sementara orang-orang di sekitar kami sibuk membicarakan kehormatan, masa depan, dan impian mereka. Kami tidak peduli. Kami hanya saling menatap tanpa senyum, hanya anggukan kecil yang terasa seperti kesepakatan diam-diam. Ini belum selesai. Dan memang tidak pernah selesai. Barisan pengambilan perlengkapan. Semua bergerak cepat. Dan seperti biasa— Dia tepat berada di depanku. "Thorne, coba berdiri yang benar." Ia menoleh dengan satu alis sedikit terangkat. "Aku di sini lebih dulu, Dawson." Ya. Masih sama seperti dulu. Aku melangkah mendekat. Dia tidak bergerak. Dia memang tidak pernah mundur. Lalu— Sebuah kesalahan bodoh. Tanganku menyenggol tasnya. Ia bergeser. Aku kehilangan keseimbangan. Dan tiba-tiba— Kami terjatuh. Punggungku menghantam lantai sementara tas perlengkapan berserakan ke segala arah, dan untuk sepersekian detik suara-suara di sekitarku seperti menghilang. Amelia berada tepat di atasku—terlalu dekat, jauh terlalu dekat. Aku masih ingat bagaimana napasku sempat tertahan dan cara matanya membelalak saat menyadari jarak di antara kami nyaris tidak ada. Dan satu hal yang tidak pernah kuakui kepada siapa pun... Saat itu, aku tidak ingin bergerak. "Shadow-1." Suaranya menarikku kembali ke masa kini. Tajam. Presisi. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. "Ya, Atlas-1?" "Jaga jarak. Aku tidak butuh bayangan." Senyum tipis kembali muncul di bibirku. Masih sama. Tapi tidak sepenuhnya. Ada sesuatu yang baru sekarang—jarak yang terasa seperti tembok tak kasatmata di antara kami. Dan entah kenapa, itu justru membuatku ingin melangkah lebih dekat. "Sayangnya," jawabku ringan, "itu memang tugasku hari ini." Aku menyesuaikan posisi dengan mulus. Tepat di belakangnya. Cukup dekat. Selalu cukup dekat. "Jadi kau harus menerimanya, Thorne." Tidak ada jawaban. Dan memang tidak perlu. Aku sudah bisa membayangkannya: rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan, dan seperti biasa dia akan berpura-pura tidak ada yang mengganggunya. Namun tetap saja... Ada sesuatu yang berubah. Mungkin bukan dia yang berubah. Mungkin aku. Mungkin selama ini lebih mudah membencinya ketika dia hanya hidup sebagai kenangan, karena kenangan tidak pernah membalas tatapanmu dan tidak pernah berbicara kembali. Aku menatap Atlas di depanku—stabil, kokoh, dan dapat diandalkan. Sangat mirip dirinya. Dan untuk pertama kalinya— Aku berhenti berpura-pura. Seharusnya ini hanya persaingan. Setidaknya itulah yang selalu kukatakan pada diriku sendiri. Namun melihatnya lagi membuat alasan itu terasa semakin rapuh. Aku menarik napas perlahan. Detak jantungku sedikit lebih cepat dari seharusnya. Langit masih tenang. Pesawat tetap stabil. Semuanya terlihat sempurna. Namun di dalam diriku, tidak ada yang terasa baik-baik saja. Amelia Thorne kini kembali berada dalam jangkauan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku berhenti mencari alasan untuk menjaga jarak. Mungkin itu kesalahan. Bahkan mungkin kesalahan terbesar yang pernah kubuat. Tapi saat melihat Atlas terbang tepat di depanku, satu hal terasa sangat jelas. Kali ini, aku tidak berniat menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD