bc

After Ten Years, It's Still You

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
drama
enimies to lovers
war
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Sepuluh tahun lalu, Amelia Thorne dan Kai Dawson saling bersumpah untuk menjadi yang terbaik.Mereka bersaing dalam segala hal—nilai, peringkat, pelatihan, bahkan impian.Lalu hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.Amelia mengira semuanya sudah berakhir.Ia mengira sepuluh tahun cukup untuk melupakan seorang rival yang pernah membuat hidupnya berantakan.Ia salah.Kini mereka kembali dipertemukan sebagai pilot militer elit dalam misi yang sama.Kai Dawson masih sama menyebalkannya.Masih terlalu dekat.Dan yang paling buruk, masih mampu membuat Amelia kehilangan kendali.Sementara Kai menyadari satu hal yang tidak pernah berani ia akui selama bertahun-tahun:mungkin ini tidak pernah hanya tentang persaingan.Dua rival. Satu masa lalu yang belum selesai. Dan kesempatan kedua yang datang saat mereka paling tidak menginginkannya.Karena setelah sepuluh tahun...orang yang paling sulit dilupakan ternyata masih orang yang sama.

chap-preview
Free preview
Angin Silang
(POV: Amelia) Pria yang ditugaskan mengawal penerbanganku hari ini adalah pria yang sama yang pernah membuatku kehilangan kendali. Dan di duniaku, kesalahan tidak datang dengan kesempatan kedua. Kai Dawson tidak pernah sekadar menjadi sebuah kesalahan. Dia adalah satu-satunya hal yang tak pernah benar-benar bisa kuhapus, tak peduli sekeras apa pun aku mencoba. Dan pagi ini, kesalahan itu kembali. Langit di atas Oxfordshire membentang dalam warna abu-abu pucat yang suram saat aku melangkah keluar dari ruang briefing. Pintu di belakangku menutup dengan bunyi klik pelan, lalu suara itu segera tenggelam dalam dinginnya udara pagi. Semuanya terlihat normal. Terlalu normal. Angin ringan menyapu landasan, membawa aroma tajam bahan bakar jet dan logam yang memanas. Dulu aroma itu selalu menenangkanku, dan sampai sekarang pun masih begitu, setidaknya di sebagian besar hari. Itu berarti rutinitas. Kendali. Kepastian. Hal-hal yang jarang mengecewakanku. Tidak seperti manusia. Aku berhenti sejenak di anak tangga, menarik napas perlahan. Menahannya cukup lama hingga kurasakan sesuatu dalam diriku kembali tenang sebelum akhirnya mengembuskannya. Aku sudah melakukan ini ribuan kali. Napas masuk perlahan, lalu keluar kembali. Fokus. Terkendali. Setidaknya, seharusnya begitu. Karena hari ini, ada sesuatu yang terasa tidak beres. Dan aku sudah tahu penyebabnya. Sepuluh tahun. Cukup lama untuk belajar bahwa perasaan hanya akan mengacaukan segalanya. Cukup lama untuk melihat orang membuat keputusan buruk karena mereka terlalu peduli. Dan dalam pekerjaanku, kelemahan bukan hanya membuatmu kehilangan kendali. Kelemahan bisa merenggut nyawa. Jadi aku berhenti memikirkannya, berhenti menoleh ke belakang, dan berhenti bertanya-tanya tentang hal-hal yang tidak bisa kuubah. Pada akhirnya, aku juga berhenti memikirkan dia. Aku kembali melangkah. Sepatu botku menghantam beton dalam irama yang teratur. Terkendali—seperti semua hal dalam hidupku sekarang. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang tidak perlu. Di sebelah kiriku, kru darat bergerak dengan ketepatan yang sudah terlatih. Tidak ada keraguan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Semua orang tahu persis apa yang harus mereka lakukan. Aku menyukai itu. Karena di sini, tidak ada kejutan. Sampai aku melihat pesawat yang menunggu di ujung landasan. Atlas berdiri di sana—besar, kokoh, dan dapat diandalkan. Jenis pesawat yang bisa kaupercayai dengan nyawamu, jenis yang tidak akan mengkhianatimu. Sama sekali tidak seperti jet tempur. Sama sekali tidak seperti dia. Langkahku melambat, nyaris tak terlihat. Namun aku merasakannya—sesuatu bergerak di bawah kulitku, seperti tekanan yang perlahan membangun diri sebelum badai datang. "Aku dengar hari ini kita dapat pengawalan jet tempur." Aku berhenti. Hanya sesaat. Tapi itu sudah cukup. "Siapa?" tanyaku dengan suara datar. "Dari skuadron tempur. Penugasan sementara." Keheningan menggantung selama setengah detik. Lalu— "Callsign-nya... Hunter." Jemariku berhenti bergerak sepersekian detik, cukup lama untuk membuatku membenci reaksiku sendiri. Tidak. Tidak mungkin. "Flight Lieutenant Kai Dawson." Detak jantungku meleset satu ketukan dan rahangku mengeras. Bodoh. Sudah sepuluh tahun, namun hanya mendengar namanya saja masih cukup untuk membuat otot-otot di bahuku menegang. Aku tidak berbalik. Tidak bergerak. Namun tubuhku sudah lebih dulu mengenalinya. Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan dia? Kai Dawson. Nama yang tak pernah benar-benar hilang. Selama ini ia hanya menunggu di sudut pikiranku, diam dan sabar, sampai suatu hari kembali muncul dan merobek semua yang sudah kututup rapat. Satu-satunya bagian dari masa laluku yang tidak pernah benar-benar selesai. Kenangan itu menghantam tanpa peringatan. Pagar yang miring. Pecahan keramik berserakan di trotoar. Suara ayahku memotong udara—tajam, cukup keras hingga seluruh jalan bisa mendengarnya. Dan Kai... Berdiri di sana. Tidak membela diri. Tidak meminta maaf. Tidak mengatakan apa pun. Entah kenapa, justru itu yang paling kuingat. Setelah hari itu, tidak ada yang kembali sama. Kami selalu saling mengejar—di ruang kelas, di papan peringkat, dan di setiap misi yang diberikan. Semuanya berubah menjadi perang sunyi. Siapa yang lebih dulu sampai. Siapa yang berdiri lebih tinggi. Siapa yang menolak jatuh. Dan entah bagaimana, persaingan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Aku berkedip keras hingga landasan di depanku kembali fokus. Misi. Kendali. Ini hanya sebuah penugasan. Tidak lebih. Aku bukan gadis itu lagi. Aku tidak sedang berdiri di Cherrywood Lane. Aku bukan lagi kadet yang menjadikan Kai Dawson pusat dari setiap pertarungan kecil. Aku adalah Flight Lieutenant Amelia Thorne. Aku sudah membangun hidup ini terlalu lama untuk membiarkan satu nama mengguncangnya. "Baik," kataku datar. "Selama Dawson tidak menghalangi jalanku." Terdengar tawa kecil dari belakangku. "Aku justru penasaran siapa yang akan menghalangi jalan siapa." Aku mengabaikannya. Aku tidak perlu menanggapi. Sebaliknya, aku terus berjalan menuju pesawat. Jemariku sempat menyentuh permukaan logam dingin Atlas. Logam dingin itu terasa kokoh di bawah ujung jariku. Nyata. Dapat diandalkan. Tidak seperti sesuatu di dalam dadaku yang mulai bergerak kembali, entah aku menginginkannya atau tidak. Kokpit menyambutku seperti biasanya. Semuanya berada di tempat yang seharusnya—rapi, logis, dan dapat diprediksi. Di dalam sini, semuanya masuk akal. Semuanya bisa dikendalikan. Selalu. Aku duduk di kursiku, mengencangkan sabuk pengaman, lalu menyalakan sistem satu per satu. Daftar pemeriksaan berjalan otomatis di kepalaku, setiap langkah terasa presisi dan begitu akrab. Namun di antara sakelar dan angka-angka itu, namanya masih ada. Kai Dawson. Seperti retakan tipis pada sesuatu yang selama ini tampak sempurna. Aku mengatupkan rahang. Ini hanya sebuah misi. Dan misi selalu berakhir. Apa pun yang terjadi sepuluh tahun lalu tidak memiliki tempat di kokpit hari ini. Di luar, mesin mulai mengaum hidup. Kru darat memberi isyarat. Saatnya bergerak. Ini rutinitas. Seharusnya begitu. Namun ketika aku menatap lurus ke depan, jemariku tanpa sadar mengencang di atas kontrol. Karena jauh di lubuk hati, aku tahu. Tanganku tetap tenang di atas kontrol dan napasku tetap stabil. Semua instrumen berada tepat di tempatnya, persis seperti yang seharusnya. Namun entah kenapa, aku merasa seperti baru saja memasuki wilayah udara yang sama sekali asing—wilayah yang tidak muncul di peta mana pun. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak yakin ingin berbalik arah. Mungkin itulah yang paling menggangguku. Bukan karena masa lalu kembali. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak langsung ingin menjauh darinya. Dan entah kenapa, pikiran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada badai yang baru saja kami lewati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
761.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
991.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.8K
bc

Not just, the Beta

read
352.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook