Bab 1
Bab 1:Nama yang Keluar Saat Tidur
"Aku pulang."
Suara Bimo terdengar dari arah depan, tepat ketika jarum jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam. Aku segera menoleh ke arah pintu. Lelaki itu melangkah masuk sambil melonggarkan ikatan dasinya. Wajahnya tampak lelah seperti biasa; kemeja putihnya sedikit kusut, dengan rambut berantakan akibat terlalu sering disisir dengan jemari tangan.
Dan seperti biasa pula... jantungku tetap berdebar norak melihatnya.
Menyedihkan, memang. Sudah dua tahun kami menikah, tetapi aku masih saja bisa salah tingkah hanya karena melihat suamiku pulang kerja.
"Baru sampai?" tanyaku, berbasa-basi.
Bimo mengangguk lesu. "Hari ini gila banget."
Aku tertawa kecil mendengar keluhannya. "Hari kemarin juga kamu bilang begitu."
"Soalnya yang kemarin memang gila, dan yang hari ini jauh lebih gila," sahutnya jenaka. Ia menyempatkan diri mengecup puncak kepalaku sebelum berjalan menuju meja makan.
Sesederhana itu, tetapi aku langsung tersenyum seperti orang bodoh. Mungkin karena sejak awal, aku memang menikahi lelaki ini karena cinta—cinta yang diam-diam tumbuh dan mengakar sejak pertama kali aku melihatnya.
Bimo itu tampan. Sangat tampan, malah. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering memergoki perempuan lain meliriknya dengan tatapan memuja. Di minimarket, di restoran, di pesta keluarga... di mana pun kami berada.
Dulu, ada rasa bangga yang membuncah di dadaku. Namun sekarang? Aku tidak tahu. Kadang-kadang ada rasa takut yang sulit dijelaskan menyelinap masuk ke hati. Aku takut suatu hari nanti Bimo tersadar, bahwa dengan modal fisiknya, dia bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih cantik dariku.
"Apa?" tanya Bimo tiba-tiba, membuyarkan lamunanku.
Aku tersentak. "Hah?"
"Kamu ngeliatin aku terus dari tadi." Bimo menatapku jenaka dari balik meja makan.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, merasa tertangkap basah. "Nggak, siapa juga yang ngeliatin."
Bimo tertawa. Tawa rendah dan berat yang selalu berhasil membuat pipiku mendadak panas. "Dua tahun nikah, kok, masih malu-malu begitu?"
"Berisik, ah." Aku mengambil selembar tisu lalu melemparnya gemas ke arahnya.
Tawa Bimo semakin keras terdengar.
Malam itu pun bergulir seperti malam-malam biasa yang kami lalui. Makan bersama, menonton televisi, mengobrol santai sebentar, lalu pergi tidur. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tanda-tanda buruk. Bahkan tidak ada firasat aneh sekecil apa pun.
Jika kelak ada yang bertanya malam mana yang paling menghancurkan hidupku... aku akan menjawab tanpa ragu: malam yang terlihat paling normal ini.
Aku terbangun di tengah malam karena rasa haus yang mendera tenggorokan. Kamar kami sangat gelap, hanya ada semburat cahaya samar dari lampu jalan yang menyelinap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Tanganku meraba permukaan nakas di sisi tempat tidur, mencari botol minum.
Lalu, di tengah keheningan malam, aku mendengarnya.
Sebuah suara pelan. Sangat pelan.
Awalnya aku mengira suara itu hanya bagian dari bunga tidurku sendiri.
"Hhh..."
Gerakan tanganku membeku. Suara parau itu berasal dari sampingku—dari Bimo.
Aku menoleh perlahan. Suamiku masih tertidur pulas. Matanya tertutup rapat dengan napas yang terdengar agak berat.
"Hhh..."
Keningku berkerut heran dalam kegelapan. Apakah dia sedang bermimpi buruk?
Namun kemudian, bibirnya bergerak lagi. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih jelas.
"Ahh..."
Aku mengerjap. Entah mengapa, jantungku mendadak berdegup dengan ritme yang aneh dan tidak nyaman. "Bim?" panggilku lirih.
Tidak ada jawaban. Bimo tetap terlelap dalam posisinya.
Lalu, suara itu kembali keluar dari celah bibirnya. Pelan, serak, dan terdengar sensual—seperti seseorang yang sedang menikmati mimpi yang teramat indah.
"Ahh..."
Dadaku mulai terasa sesak. Firasat buruk mendadak mencengkeramku. Dan hanya dalam hitungan detik kemudian, duniaku runtuh seketika.
"Ahh... lanjut, Ria..."
Tubuhku kaku sepenuhnya. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar itu. Pikiranku mendadak kosong melongpong, menyisakan gema nama yang baru saja diucapkannya.
Ria?
Siapa Ria?
Aku menatap wajah suamiku lekat-lekat dalam kegelapan. Kepalaku langsung mencari pembenaran. Mungkin aku salah dengar. Iya, pasti aku yang salah dengar karena masih mengantuk.
Aku bertahan dalam posisi kaku itu, menunggu. Menunggu dia bicara lagi, menunggu sebuah kebetulan yang bisa menyelamatkan hatiku dari rasa hancur. Namun, Bimo hanya bergumam pelan sekali lagi sebelum akhirnya kembali diam dan tidur dengan sangat nyenyak. Seolah-olah dia tidak baru saja menjatuhkan bom di kepalaku.
Sedangkan aku? Aku tidak bisa memejamkan mata lagi sisa malam itu.
Mataku terus menatap langit-langit kamar yang gelap gulita sampai fajar menyingsing. Hanya ada satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa henti di kepalaku, mencabik-cabik ketenanganku;
Siapa Ria? Dan kenapa suamiku menyebut namanya dengan suara seperti itu?
***
Pagi itu, Bimo bangun seolah tidak terjadi apa-apa. Ia beraktivitas dengan santai, seakan-akan tidak baru saja menghancurkan seluruh ketenangan yang kubangun dengan susah payah selama dua tahun terakhir.
"Kenapa?" tanyanya tiba-tiba sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.
Aku yang sedang merapikan seprai tempat tidur langsung tersentak kaget. "Hah?"
"Kamu dari tadi ngelamun terus." Bimo menatapku heran.
Aku buru-buru menunduk, menyembunyikan riak di mataku. "Oh... nggak apa-apa, kok."
Bimo hanya mengangguk kecil, lalu kembali sibuk memilih kemeja di lemari. Sementara dia memunggungiku, aku diam-diam memperhatikannya lekat-lekat. Mataku memindai setiap gerak-geriknya, mencari sesuatu. Entah apa—mungkin kilat rasa bersalah, kegugupan yang tertahan, atau tanda sekecil apa pun bahwa dia sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar dariku.
Namun, hasilnya nihil. Bimo tetap menjadi Bimo yang biasanya. Suamiku yang tampan, santai, dan terlihat begitu polos tanpa beban. Sialnya, kewajaran itu justru membuat dadaku semakin bergemuruh gelisah.
"Bim," panggilku saat kami sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Akhirnya, aku memberanikan diri.
"Hm?" sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari piring.
"Kamu... kenal orang yang namanya Ria?"
Gerakan sendok di tangan Bimo terhenti sepersekian detik. Sangat cepat, nyaris tak kentara. Jika aku tidak sedang mengawasinya seperti elang, aku pasti sudah melewatkan refleks kecil itu.