Amarah yang Tak Terkendali

1238 Words

Udara di dalam ruangan yang kini kosong itu terasa sesak dan dingin, seolah masih menyisakan jejak keberadaan Melia yang baru saja dibawa pergi. Bara menepuk-nepuk permukaan pintu besi tebal itu dengan tinjunya, berulang kali hingga buku jarinya robek dan darah segar menetes membasahi lantai batu. Rasa frustasi bercampur amarah meledak di dadanya bukan hanya pada musuh yang berani mengambil istrinya, tapi juga pada dirinya sendiri yang merasa gagal melindungi satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya. “Mereka tidak akan lari jauh,” suara Ardi memecah keheningan, namun nadanya tetap tenang meski situasinya kritis. Ia membentangkan peta tua itu di atas meja kayu yang sudah lapuk, jari-jarinya menelusuri garis-garis yang samar namun tetap terlihat jelas. “Ini adalah terowongan yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD