Suasana di atas tebing itu terasa membeku seketika. Angin malam berhembus kencang, membawa kabut yang menyelimuti setiap sudut, seolah ikut menyembunyikan kebenaran yang selama ini terkunci rapat. Bara memeluk tubuh Melia makin erat, matanya menatap tajam namun waspada ke arah Jaka, orang yang selama dua puluh tahun ia anggap sebagai saudara dan tangan kanan terpercayanya. “Bicaralah tanpa berbasa-basi. Jika rahasia itu menyangkut nyawa Melia, maka tidak ada lagi yang perlu ditutupi. Bahkan jika kebenaran itu membuat langit terbalik, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu,” perintah Bara dengan suara berat, namun tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Rasa posesifnya kini bekerja ganda: melindungi istrinya dari bahaya luar sekaligus bersiap melindungi hatinya sendiri dari kemungki

