Retakan pada batu karang itu semakin melebar seiring hentakan ombak yang membanting keras dari bawah. Darah dari telapak tangan Bara mengalir membasahi permukaan batu yang licin, membuat genggamannya semakin sulit dipertahankan. Di atasnya, Melia menarik sekuat tenaga meski kepalanya berputar hebat akibat racun yang menyebar, keringat dingin bercampur air matanya jatuh membasahi wajah suaminya. “Pegang erat, Mas! Jangan lepaskan! Aku tidak akan membiarkanmu jatuh!” teriak Melia dengan suara parau, nadanya memancarkan keteguhan yang tak terduga meski tubuhnya melemah. “Tenang… aku tidak akan pernah melepaskan apa pun yang menjadi milikku,” jawab Bara sambil menggigit bibir menahan rasa sakit yang luar biasa. “Termasuk hidupku, dan terutama dirimu. Rasa posesif ini bukan sekadar keinginan

