Angin malam terasa lebih dingin, membawa kabut yang menyelimuti seluruh tebing. Dalam pelukan Bara, tubuh Melia terasa semakin lemas; napasnya melambat, dan wajahnya perlahan memutih. Bara memeluknya makin erat, seolah ingin memindahkan seluruh panas tubuhnya untuk menahan racun yang menyebar perlahan. “Tetap sadar, Melia. Jangan lepaskan kesadaranmu. Aku berjanji, sebelum matahari terbit, penawar itu akan ada di tanganmu,” bisik Bara dengan suara serak namun penuh tekad. Di dadanya berkecamuk rasa takut, amarah, dan rasa posesif yang meledak menjadi dorongan hidup terbesarnya. Di situlah konflik batin mereka kembali muncul. Melia berusaha mengangkat tangannya yang lemah untuk menahan pergerakan suaminya. “Mas… jangan terburu-buru. Mereka ingin memancingmu bertindak sembarangan. Rasa pos

