Angin kencang menerpa wajah mereka, membawa kabut dan semprotan air laut yang terasa menusuk. Cincin tua itu tergeletak memantulkan cahaya redup, seolah menjadi saksi bisu yang diputarbalikkan maknanya. Tatapan semua orang tertuju pada benda itu, lalu beralih ke Melia yang berdiri kaku, air mata mulai membasahi pipinya bukan karena takut mati, melainkan karena takut kehilangan kepercayaan satu-satunya yang paling berharga baginya. “Mas… katakan padaku apa yang kau pikirkan sekarang,” bisik Melia dengan suara gemetar, tangannya terulur ingin menggenggam tangan Bara namun ragu sejenak. “Jika kau mencurigai aku, katakan saja. Tapi tolong jangan biarkan kebohongan mereka merusak apa yang kita bangun bersama.” Konflik rumah tangga yang paling berat pun meletus saat itu juga bukan lagi soal ba

