Suara itu menggema di celah bebatuan, menusuk hingga ke tulang sumsum. Bara berdiri membeku, seolah seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir. Selama dua puluh tahun, ia memendam rindu, memelihara ingatan tentang sosok ibu yang lembut, yang meninggal dalam kecelakaan tragis. Namun malam ini, suara yang sama itu terdengar sebagai pemilik jebakan yang merenggut kedamaian hidupnya. “Mustahil…” gumam Bara parau, tangannya masih menggenggam gagang pistol, namun kekuatannya terasa merosot. “Jika kau masih hidup… mengapa kau menghilang? Mengapa menyakiti putramu sendiri?” Dari puncak karang, sosok wanita berbalut jubah gelap turun perlahan diiringi dua pengawal bersenjata lengkap. Cahaya obor menyinari separuh wajahnya cukup jelas memperlihatkan garis keturunan yang tak dapat disangkal, mata

