Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski udara di lereng perbukitan hanya berhembus pelan. Di dalam rumah persembunyian yang kokoh dan tertutup rapat, ketenangan itu hanyalah topeng tipis. Bara masih duduk termenung memegang liontin dan selembar kertas tua berisi tanda tangan yang membuat seluruh keyakinannya selama ini terasa goyah. Di sampingnya, Melia tetap terjaga, menyadari bahwa meski sudah berjanji untuk berbagi segalanya, ketakutan terbesar Bara bukanlah kematian, melainkan kemungkinan bahwa orang yang ia percayai ternyata telah menusuknya dari belakang. “Mas,” panggil Melia pelan, menyentuh lengan suaminya yang terasa tegang seperti besi dingin. “Aku tahu kau gelisah. Aku juga takut. Tapi jangan biarkan kecurigaan ini membuat jarak tumbuh di antara kita. Sikap posesifmu

