Udara di lorong rumah yang seharusnya terasa hangat kini berubah sedingin ruang mayat. Cahaya lampu yang menyala terang menerangi wajah Surya kepala pelayan yang telah melayani keluarga Pratama selama lebih dari dua puluh tahun, orang yang selalu mengatur segalanya dengan rapi, orang yang dianggap seperti keluarga sendiri. Namun saat ini, tangannya gemetar memegang senapan yang diarahkan tepat ke arah d**a Melia. “Turunkan senjatamu, Surya,” suara Bara terdengar rendah dan berat, namun mengandung tekanan yang membuat dinding seolah bergetar. Tubuhnya langsung melangkah sedikit ke depan, menempatkan dirinya sebagai perisai tak tergoyahkan di hadapan istrinya. Matanya menatap tajam ke arah pria yang ia percayai selama ini, bercampur rasa kecewa yang dalam dan amarah yang siap meledak kapan

