Angin pegunungan yang semula hanya terasa dingin kini terasa menusuk hingga ke tulang sumsum, seolah membawa peringatan bahaya yang tak kasat mata. Bara masih menggenggam erat tangan Melia, ruas jarinya memutih karena tekanan, matanya tak berkedip menatap buku catatan yang kini ada di tangan ayahnya, Ardi. Lembaran yang terbuka itu terasa lebih berbahaya daripada senjata apa pun yang pernah mereka hadapi selama ini. “Racun sudah disisipkan pada orang yang paling dipercaya…” gumam Ardi pelan, matanya menyempit meneliti setiap tulisan dan tanda di peta. “Mereka tidak hanya menyerang dari luar. Mereka sudah masuk ke jantung pertahanan kita sendiri.” Bara menarik tubuh Melia semakin mendekat ke dadanya, seolah ingin melindunginya bahkan dari udara yang berhembus. “Selama ini aku berpikir rum

