Asap putih mengepul dari moncong senjata di kejauhan, bergoyang perlahan ditiup angin gunung yang dingin. Rania terhenti seketika, senjata di tangannya melorot jatuh ke tanah batu dengan bunyi berdentang yang nyaring. Di bahu kanannya, lubang kecil perlahan memerah, darah segar menembus pakaian gelap yang ia kenakan. Ia menoleh bingung ke arah sumber tembakan, lalu perlahan ambruk berlutut, pandangannya mulai kabur. Bara tidak menyia-nyiakan waktu. Dalam sekejap ia sudah berada di samping Melia, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang begitu erat hingga seolah ingin menyatukan tulang dan daging mereka. Tangan kirinya yang terluka menekan kepala Melia ke dadanya, sementara tangan kanannya tetap mencengkeram gagang pedang, matanya menatap tajam ke arah Damar yang masih gemetar mem

