Awal Ketemu
Adera terduduk lemas setelah kedatangan Wilson di rumahnya. Sebagai yatim piatu membuat Adera selalu berjuang untuk membuat dirinya lebih baik agar selalu diterima orang lain dengan terbuka tanpa mengasihani dirinya. Sayangnya kenyataan kadang selalu lebih kejam dengan apa yang dipikirkan. Sekarang Wilson datang ke rumahnya hanya untuk menyampaikan jika pernikahan mereka di batalkan, padahal pernikahan tinggal satu bulan lagi. Adera terduduk dengan air mata yang keluar tanpa suara, gadis itu meresapi ras sakit yang kini menjalar dalam hatinya. Bukan salah Wilson, keluarga pria itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Mereka ingin yang terbaik untuk penerus Nirwana group, dan Adera bukan orang itu. Adera tidak pernah menyangka akan mendapatkan musibah sepahit ini.
"Hiks hiks hiks," gadis itu memukul dadanya dengan kuat. Bahkan Wilson pergi setelah menyampaikan keputusan keluarganya, pria itu tidak lagi menenangkannya seperti dulu-dulu, tidak lagi menguatkan dirinya. Lagi pula siapa juga yang menginginkan seperti ini?
Semua ini terjadi karena Minggu kemarin Adera terbangun di kamar hotel yang terkenal tanpa mengenakan apapun, Adera gadisnya tidak mengerti mengapa dirinya bisa ada di hotel itu. Adera memeriksa, bajunya tidak ada yang terbuka sama sekali kecuali atasannya. Setelah kejadian itu tidak terjadi apa-apa, Bahkan Adera menanti jika mungkin ada yang akan mencari ya setelah kejadian malam itu. Namun sampai hari ini pun tidak ada yang mencarinya, terkecuali foto-foto dirinya di hotel itu yang kini terpajang indah di seluruh media sosial. Pagi ini, Adera baru paham jika ternyata malam itu dia bersama seorang pria yang Adera juga tahu pria itu pengusaha kaya raya yang sukses. Tapi Adera tidak pernah ingat bagaimana ceritanya sampai dia bisa sama-sama dengan pria itu. Apa yang sudah terjadi pada dirinya? Garis itu menggelengkan kepala, tidak ada ingatan apapun yang ada dikepala ya untuk menjelaskan malam itu.
Gambar-gambar itulah yang membuat keluarga Wilson benar-benar menolaknya bahkan mereka tidak meminta penjelasannya sama sekali. Tidak ada yang mau memberikan kesempatan pada dirinya untuk membela dirinya, menegakkan kebenaran untuk dirinya. Bukan hanya itu bahkan sekarang media sosialnya dipenuhi oleh pesan-pesan yang penuh dengan cacian. Adera kembali menangis, siapa yang benar-benar tega menzaliminya seperti ini?
Capek dengan tangisannya Adera melangkah menuju kamarnya. Gadis itu dengan pelan naik ke atas ranjangnya. Setelah itu pelan-pelan jarinya bergerak membuka media sosialnya, sekuat apapun Adera menyugesti dirinya agar tidak membaca kata-kata yang menyakitinya tetap saja matanya menangkap kata-kata itu. Kata-kata yang penuh dengan cacian untuk dirinya. Adera segera mengunci kolom komentar di setiap unggahannya. Gadis itu segara menghapus aplikasi yang sudah di unduhnya ini. Demi apapun gadis itu butuh sandaran malam ini, untuk menghilangkan kesedihannya. Adera tidak ingin mengganggu sahabat-sahabatnya dengan masalahnya kali ini.
Setelah memastikan semua aplikasi yang digunakannya terhapus, Adera melangkah ke meja riasnya dan menatap dirinya yang terlihat sangat kacau. Gadis itu masuk untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi Adera mengoleskan make up di wajahnya walaupun sebenarnya tidak mampu menutupi wajah sembabnya. Adera mengambil pakaian tersexy yang dimilikinya, gadis itu menatap bayangannya dengan tatapan menantang. Semua orang mengatainya murahan, penggoda dan bahkan ada yang sampai memaki-makinya dengan kata yang lebih keji. Seolah-olah dirinya menjadi sampah sekarang. Adera kehilangan kewarasannya dengan memikirkan semua itu, dengan mengoleskan lipstik merah darah di bibir kenyalnya dan menyambar jaket Adera meraih kunci mobilnya untuk ke klub malam. Mari kita lihat siapa yang akan menggantikan Wilson, siapa yang akan bertekuk lutut padanya malam ini gadis itu tersenyum menyeringai. Adera tidak minum, gadis itu hanya memerhatikan orang-orang yang bergoyang mengikuti alunan musik. Setelah merasa cukup dengan menjadi penonton, Adera melangkah untuk bergabung bersama mereka menikmati alunan musik yang diharapkannya dapat menghilangkan kesakitan yang dirasakan dalam dadanya.
Malam ini Pandhu menemani Rico untuk ke klub malam, Pandhu hanya akan menghabiskan waktu dengan minum. Pria itu sudah lama tidak tertarik pada wanita, bukan karena dirinya mengalami kelainan orientasi seksual tapi karena memang ini yang harus dilakukannya karena tidak ingin patah hati lagi setelah kehilangan orang yang dicintainya. Sejak tadi duduk dan menikmati minumannya Pandhu memicingkan matanya menatap pada gadis yang terlihat duduk sendirian, Pandhu bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis ini? Apalagi dengan matanya yang terlihat bengkak. Sudut bibir Pandhu terangkat ketika menyadari siapa gadis yang kini berada di hadapannya. Ini gadis yang sama dengan yang pernah menarik perhatiannya, tapi sayangnya saat itu gadis itu sudah memiliki pasangan sehingga Pandhu kembali mengabaikan perasaannya yang menginginkan gadis itu. Mari bermain tebak-tebakan kira-kira apa yang dilakukan gadis itu di tempat ini dengan mata yang terlihat sembab? Pandhu menyesap minumannya dan masih setia menatap gadis itu. Gadis yang mirip dengan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Pandhu akhirnya berdiri ketika melihat gadis itu berjalan menuju kerumunan orang dan ikut meliuk-liukkan tubuhnya. Pandu tidak peduli apapun yang akan terjadi malam ini, dirinya hanya mengikuti hatinya melangkah ke arah gadis itu bahkan Pandhu juga mulai meliuk-liukkan badannya dan mulai mendekati gadis itu. Pria-pria yang berada di sekitar Pandhu segera menyingkir. Mereka tahu siapa Pandhu, dan mereka yang masih waras untuk tidak berurusan dengan Pandhu. Walaupun Pandhu yang sebenarnya baik hati tapi itu bukan berarti pandu berhati lembut. Pria itu memiliki hati yang keras, dan sangat susah untuk dikalahkan.
Adera menerima uluran tangan yang diberikan pria dewasa di hadapannya, persetan dengan semua aturan-aturan dan prinsip-prinsipnya selama ini. Malam ini Adera hanya ingin meluapkan semua kesedihannya. Pria itu merapatkan tubuhnya pada Adera. Adera menelan ludah melihat wajah pria itu yang semakin dekat dengan dirinya. Pandhu tidak bisa mengendalikan dirinya fokusnya sekarang hanyalah bibir gadis itu, bibir yang terlihat menggiurkan apalagi dengan jarak sedekat ini. Pelan tapi pasti bibirnya segera meraup bibir gadis itu, Adera terkejut tapi mengingat kata-kata yang menyakitkan hatinya akhirnya gadis itu dengan terengah-engah mencoba membalas ciuman pria asing yang kini memeluknya.
Pandu mengernyit kenapa gadis ini seperti sangat amatir mengimbangi ciumannya, apa ini ciuman pertamanya? Pandhu tidak peduli, dengan nakal bibirnya mengulum bibir bawah gadis itu kemudian lidahnya menari-nari menyesap semua yang ada dalam mulut gadis itu. Adera sampai merasakan tulang-tulangnya lunglai, pria ini sepertinya sangat mahir berciuman. Pandhu menahan gadis itu dengan kedua tangannya ketika merasakan pelukan gadis itu melemah. Selesai dengan ciumannya pandu menciumi rahang dan membersihkan saliva yang membekas di bibir ranum gadis itu dengan lidahnya.
Tidak ingin mencoreng dirinya lebih jauh, pandu mengisyaratkan para bodyguard-bodyguard untuk mendekat padanya, kemudian pria itu membawa Adera pergi dari situ. Adera yang sepertinya shock oleh ciuman itu melangkah dengan pelan mengikuti pria itu. Adera meraba jantungnya yang masih berdebar kencang mengingat ciuman itu. MobilMobil milik Pandhu melaju dengan cepatnya di atas hamparan aspal yang keras. Adera yang berada di samping pandu hanya menatap jalan tanpa menoleh sedikitpun pada pria itu. Pandhu yang menyetir berulang kali menghela napas untuk mengusir pikiran-pikiran yang aneh dari kepalanya.
“Namaku Pandhu Bagaskoro. Aku masih single, aku suka makan rendang dan opor.” Adera mengernyit tidak mengerti. Untuk apa pria ini memberi tahunya? Adera tidak berniat untuk dekat dengan pria manapun dalam keadaan seperti sekarang. Wilson saja yang benar-benar mencintainya dengan terang-terangan membatalkan pernikahan mereka tanpa mau mendengar penjelasan dari dirinya. Adera meringis dalam hati, ini cara berkenalan paling aneh menurutnya. Pria ini masih single? Adera tidak peduli tapi pria ini terlihat sudah sangat matang.
“Kamu kok diam? Kamu belum mengenalkan dirimu loh.” Adera menghela napas. Gadis itu menatap sekilas pada Pandhu yang masih menyetir. Adera yakin pria ini pasti sudah tahu namanya, apalagi dengan profesinya sebagai model. Bukan rahasia lagi jika banyak pengusaha-pengusaha yang berusaha mendekati mereka. Terkecuali Adera, dia punya Wilson jadi tidak tertarik untuk mengenal lebih jauh dengan pria-pria yang dulu ingin dekat dengan dirinya.
“Tanpa berkenalan, Anda pasti sudah tahu namaku, Tuan!” Adera mengucapkannya penuh percaya diri. Pandhu menyeringai, penuh percaya diri.
“Anda terlalu percaya diri Nona, tapi khusus untukmu aku memang sudah tahu banyak yang bahkan tidak pernah kamu tahu sekalipun.” Adera mencibir dalam hati lalu tersenyum sinis. Dasar perayu ulung, ini trik yang sangat murahan menurut Adera.
“Ternyata Anda juga sama dengan pria yang lain, Tuan. Memperlakukan seseorang seakan-akan menjadi yang teristimewa kemudian menghempaskannya tiba-tiba.” Pandhu tertawa mendengar kata-kata wanita ini. Dengan masih tertawa pandu melirik Adera.
“Aku pikir kamu masih sakit hati karena sudah buang oleh tunanganmu. Aku tidak sekonyol itu, Savannah.” Adera menatap pria ini tajam. Pria ini benar-benar keterlaluan, berani-beraninya pria itu mengungkit tentang pernikahannya yang batal.
“Kau ternyata sangat lancang juga tuan, aku tidak mengizinkanmu membicarakan pernikahanku. Kamu tidak punya hak untuk itu!” Adera mengucapkannya dengan tegas, Pandhu hanya tersenyum simpul pada wanita itu.
“Hahahahaha. Santai saja nona, aku hanya berkata jujur dan itu memang kenyataannya kan? Tapi lupakan tentang itu, aku lebih tertarik untuk mengantarmu pulang. Katakan dimana rumahmu!” Adera memutar bola matanya, lalu menatap pria itu kembali sinis. Tadi katanya semua tentang Adera dia tahu, tapi sekarang pria itu malah bertanya lagi?
“Aku pikir Anda sudah tahu dimana rumahku tuan, jadi untuk apa Anda bertanya lagi?” Pandhu tertawa, gadis ini ternyata pandai juga menyindirnya. Pria itu mengangkat alisnya dan melirik wanita itu.
“Aku senang mendengar suaramu nona. Lagi pula akan lebih sopan kalau aku menanyakan rumahmu karena kalau mengikuti hatiku aku ingin membawamu ke rumahku, menghabiskan malam dikamarku dan aku yakin tak lama kemudian kita akan menjadi orang tua.” Pandhu mengedipkan matanya, dan terlihat nakal dan sexy secara bersamaan di mata Adera. Gadis itu menunduk karena pipinya tiba-tiba terasa panas. Pandhu menyembunyikan senyum melihat gadis itu yang terlihat malu-malu.