BAB - 10

1301 Words
            Erick menarik napas lega setelah tahu alasan Amarta menelponnya; Dion. Ini lebih baik daripada Sheila yang menjadi alasan karena Erick tidak ingin Sheila mengacaukan kehidupannya bersama Ilona. Dia tidak ingin membuat Ilona khawatir untuk kedua kalianya.             Setelah mencium kedua pipi putranya, Amarta membuatkan teh hangat. Amarta tidak tahu kalau menelpon Erick saat ini mengganggu proses program kehamilan Ilona—cucu kandung yang diinginkan Amarta.             “Kakakmu memukul Raihan di pesta ulang tahun adiknya.” Amarta memejamkan mata lelah. Dion dimata Amarta persis anak kecil. Membuat masalah dengan memukul putra seorang mafia sekaligus pejabat tinggi negeri.             Erick teringat akan Raihan. Seorang pria pemalas yang hanya bisa bermain dengan para wanita. Di kampus dulu dia terkenal playboy. Dan Erick ingat kalau kakaknya pernah memukul Raihan. Pria yang ketampanannya mirip aktor Korea dengan model rambut dandy itu. Erick tidak tahu alasan Dion memukul Raihan sampai sekarang dan pemukulan kedua ini, Erick berharap tahu sehingga dia juga bisa tahu alasan kenapa Dion melakukan pemukulan kepada Raihan dulu. Tak bisa dipungkiri kalau Erick juga dulu adalah rival Raihan dalam beberapa hal termasuk mendapatkan Sheila.             “Dia kembali membuat masalah.” Amarta memijit batang hidungnya. “Dion pura-pura tidak tahu atau bagaimana sih? Kenapa dia kembali mengulangi kesalahan saat kuliah dulu. Ya, memang keluarga Raihan tidak menuntut atau meminta ganti rugi tapi karena kelakuan kakakmu itu perusahaan kita mengalami penurunan pendapatan.”             “Kenapa dia memukul Raihan lagi?” tanya Erick pada Amarta.             Amarta menarik napas perlahan. Rambutnya yang baru dicat hitam dan dicepol anggun khasnya tampak bergerak mengikuti alunan gerakan kepalanya yang menoleh pada putranya.             “Mamah tidak tahu ceritanya, tapi ini soal perempuan.” jawab Amarta tampak jengah. “Harusnya dia memang menikah lebih dulu darimu, Erick. Sekarang dia malah seperti ini. Berebut perempuan dengan Raihan?!”             Erick menyipitkan mata sambil berpikir. Apakah mungkin Dion dan Raihan memperebutkan satu wanita?             “Apa kakakmu itu perlu dinikahkan saja.” ***             Sheila menatap Ilona dengan gaya angkuh. Rambut sebahunya digerai dan di sisi sebelah kiri diberi penjepit dengan motif kupu-kupu. Mantan kekasih Erick itu menghubungi Ilona dan mengajaknya bertemu di kafe berkonsep retro yang sangat private. Kafe itu tidak membolehkan pengunjung berfoto di sana atau hanya sekadar selfie.             “Apa maumu?” tanya Ilona tanpa basa-basi pada wanita yang sedari tadi mengulum senyumnya itu.             “Keinginanku masih sama, Ilona. kembali bersama Erick.” Dia menyunggingkan senyum licik.             “Silakan, kalau kamu bisa mengambilnya dariku.” Sebelah alis Ilona terangkat ke atas. Dia yakin Erick tak kan berpaling darinya. Dia yakin Erick hanya mencintainya. Dan Ilona selalu yakin kalau Erick tidak akan mengkhianatinya. Sheila dan Sasa memang jauh berbeda. Sheila—perlu diakui dia teramat cantik. Dia memiliki tubuh bak gitar spanyol yang selalu tampak jelas keindahannya kala mengenakan dress yang ketat. Dan wajah cantiknya membuat siapa saja yang memandangnya akan betah berlama-lama untuk memandanginya. “Kamu benar-benar tidak tahu malu.” Sindir Ilona pedas. Sayangnya, Sheila tidak menganggap perkataan Ilona sebagai bentuk menjatuhkan harga dirinya. Harga dirinya sudah jatuh di mata Ilona dan keluarga Erick. “Asal kamu tahu, Ilona, dulu Erick sangat mencintaiku. Dia selalu mujiku.” Sheila mengulurkan lehernya mendekati wajah Ilona. “Dan dia bilang kalau tubuhku adalah candu baginya.” Sheila tersenyum puas melihat ekspresi merah Ilona. “Apa dia pernah memujimu setelah kalian menghabiskan kebersamaan?” dia mengatakannya dengan nada memanas-manasi. “Ups, aku minta ma’af itu hanya masa lalu. Tapi, aku yakin Erick pasti akan kembali ke pelukanaku lagi.” katanya percaya diri. Ilona menahan diri untuk tidak menampar mulut Sheila. “Agaknya kamu lupa kalau kamu hanya masa lalu Erick, Sheila. Aku adalah istri sah Erick. Kamu hanya mantan kekasihnya yang berusaha datang dan merusak kebahagiaan wanita lain. Sayangnya, Erick bahkan membencimu. Membenci kebodohanmu dan semua hal yang sudah kamu lakukan pada kami.” Ilona mengatakannya dengan nada teratur. Rendah namun tegas layaknya seorang ratu yang berbicara. Dia menahan kesabarannya untuk segera pergi dari hadapan wanita sinting ini. “Kamu sama sekali tidak tahu terima kasih. Kamu menggunakan Melodi sebagai alat untuk mencapai keinginan busukmu itu.” tambah Ilona pedas sekaligus tajam. “Ilona, kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.” Sheila mengatakannya seolah-olah dia punya kekuasaan. “Oh ya? Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa.” Ilona menatap tajam kedua mata Sheila yang menggunakan kontak lensa warna hijau cerah. Beberapa saat mereka saling menatap dalam diam dan kesenyapan yang membungkus atmosfer di sekelilingnya. “Kamu meminta aku melepaskan Erick? Kenapa kamu tidak meminta Erick untuk melepaskanku kalau dia masih mencintaimu? Dan kalau dia masih mencintaimu, dia akan memilihmu saat tahu kalau Melodi adalah putrimu!” Sebelah sudut bibir Sheila tertarik ke atas. “Kita lihat nanti, Ilona.” ***             Arrabella terbangun kala suara kakek yang seperti suara kecekik maling meneriaki namanya dengan penuh semangat membara. Arrabella mengucek-ngucek mata. Ya, semalam dia menginap di rumah kakek atas permintaan sang kakek kesayangannya itu. Ngomong-ngomong kakek mulai agak pikun sekarang. Dia bahkan lupa dimana toilet rumahnya waktu Arrabella baru datang ke rumah.             “Arrabella... bangun, Nak! Lihat ada tamu di minggu pagi ini!” pekiknya.             “Hooooaaammm...” Arrabella menguap lebar. “Yang jelas bukan tamuku kan, Kek.” gumamnya kembali memejamkan mata. Rasanya terlalu nikmat bangun jam 8 pagi di minggu pagi ini.             “Tamu macam apa yang datang ke rumah orang sepagi ini.” gumamnya lagi sambil mengganti posisi tidur.             “Bangun pemalas!”                                  Suara itu...             Bukan suara kakek. Itu suara pria yang masih muda. Tapi Arrabella masih cuek mungkin kakeknya berubah muda seperti film Miss Granny.             “Bangun, woi!”             Selimut Arrabella ditarik begitu saja sambil mengeluh Arabella membuka mata. Matanya terbelalak seketika melihat sosok pria beraroma mahal berdiri di sampingnya..             “Dion?!” pekiknya kaget.             Dion melipat kedua tangannya di atas perut. Sebelah alisnya terangkat dan seringai lebar menghiasi wajahnya.             “Astaga, mau apa kamu?!” sejurus kemudian Arrabella bangkit dari ranjangnya.             “Tamu spesial di minggu pagi.” jawab Dion menaikkan kedua alisnya. “Cepat bangun sebelum aku membuka semuanya.”             “M-maksudnya buka semua apa?” Arrabella tergagap.             Dion kembali menyeringai dan Arrabella meluncur ke kamar mandi dengan kecepatan yang luar biasa.             Setelah mandi dan sarapan masakan kakek yang luar biasa asin namun harus tetap ditelan Arrabella dan Dion. Mereka saling menatap dan saling memperhatikan raut muka satu sama lain demi mengetahui reaksi saat melahap masakan kakek.             “Nah, Arrabella, ini teman Kakek yang pernah Kakek bicarakan denganmu itu, lho.” kata Kakek riang gembira. “Hari ini, Kakek tugaskan kalian berdua ke Hutan Arrabella untuk membersihkan daun-daun kering di sana.”             Arrabella terbelalak. Ke hutan itu dan membersihkan daun kering dengan pria beraroma mahal ini?             “Dion ini salah satu aktivis lingkungan, lho, tapi sudah pensiun karena fokus membangun bisnis keluarganya.”             Dion mengangguk bangga.                   Emmm, jadi ini temen Kakek yang mau dinikahkan denganku? What?! Aku pikir yang kakek-kakek.             Arrabella terbahak karena pikirannya sendiri.             “Arrabella, kenapa?” tanya Kakek serius takut kalau Arrabella mendadak sakit jiwa.             “Oh, tidak, Kek. Arrabella suka bersih-bersih.” Dengan nada ragu Arrabella melanjutkan. “Meskipun bersih-bersihnya di hutan?”             Mau dibersihkan bagaimana pun hutan kecil itu tetap saja akan kotor dan dipenuhi daun yang berguguran. ***             Sulit dipercaya kalau anak semanis Melodi terlahir dari rahim Sheila.             Melodi anak yang baik, cerdas dan penyayang bagaimana bisa dia lahir dari seorang ibu yang bahkan tampak begitu jahat? Ilona mengupas kulit apel sambil memperhatikan Melodi yang bermain dengan Rezz. Tanpa sengaja dia melukai jarinya sendiri.             “Aw!”             “Mam, kenapa?”             Melodi melihat darah meluncur bebas dari jari telunjuk Ilona. “Mam berdarah.” Katanya setelah mendekati mamahnya.             “Melodi ambil obat antiseptik dulu, Mam.” Melodi segera berlari ke arah tempat P3K. Dia tampak panik melihat luka yang lumayan menganga lebar.             Ilona terlalu memikirkan perkataan Sheila hingga dia lupa bahwa dia sedang mengupas kulit apel untuk Melodi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD