BAB - 9

1255 Words
            Dion seperti biasa dia selalu betah berlama-lama di dekat Ilona dan Melodi dan juga Rezz. Dia enggan pulang setelah dengan jelas Erick menolak kedatangannya. Dan akhirnya setelah mendapat telepon dari Mona untuk segera kembali ke kantor, Dion memilih kembali ke kantor.             “Mona menelponku,” ujarnya memberitahu Ilona yang baru saja menyajikan kue brownies buatannya.             “Mam, bolehkah Melodi main ke luar bersama Rezz?” Ilona mengalihkan tatapannya dari Dion ke arah Melodi.             “Kemana?”             “Hanya sekitaran komplek kok.”             “Boleh, tapi jangan jauh-jauh ya.”             Melodi mengangguk. Dia menggendong Rezz ke luar rumah. Melodi merasa Rezz butuh udara segar dan dia tidak ingin kucingnya yang hiperaktif itu menjadi stres karena tidak pernah diajak keluar rumah untuk sekadar jalan-jalan menikmati rumah dan pohon-pohon di sekeliling mereka.             “Apa kabar Arrabella?” tanya Ilona iseng.             Dion hanya menatap Ilona tanpa mau menjawab pertanyaan adik iparnya itu. Malam itu saat kejadian yang nyaris membuat Arrabella diperlakukan tidak senonoh oleh Raihan. Malam saat dia memukul Raihan kedua kalinya setelah pertikaian mereka dulu saat kuliah. Tapi sekarang pemukulan itu dalam konteks yang berbeda. Pemukulan saat kuliah dulu karena Dion tahu sesuatu dan Raihan tidak ingin bertanggung jawab atas sesuatu yang dilakukannya dan pemukulan setelah sekian tahun ini Raihan mencoba memperkosa Arrabella.             “Kamu tidak mau menjawabnya?” Ilona melipat kedua tangan di depan d**a.             “Aku rasa aku harus pergi ke kantor.” Dion dengan sengaja menghindari topik Arrabella. Bukan Arrabella yang dihindarinya tapi dia tidak ingin keceplosan menceritakan apa yang terjadi pada Arrabella karena ini menyangkut Raihan dan tentu saja Erick tahu soal Raihan.             Ilona dapat meraba gelagat aneh dari Dion. Sejauh ini pria itu memang misterius meskipun berusaha terbuka pada Ilona tapi Ilona tahu ada beberapa hal yang berusaha disembunyikan Dion darinya dan tentu saja dari Erick juga.             Ilona masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Erick berbaring di atas ranjang dengan bertelanjang d**a.             “Apa dia sudah pulang?”             “Ya,” sahut Ilona. “Kamu mau aku masak apa?”             “Aku tidak lapar. Kemarilah.” pinta Erick yang membuat Ilona kikuk. Ini bukan pertama kalinya melhat Erick bertelanjang d**a ataupun pertama kalinya dia dan Erick berduaan di dalam kamar, tapi ternyata jarak pemisah yang hanya sekitar sebulan kurang menciptakan perasaan yang seakan-akan masih awal-awal mereka mengakui perasaan masing-masing.             “Aku tidak ingin membicarakan apa pun selain kita.” ujar Erick memulai tanpa mau berniat bangkit dari atas ranjangnya.             “Melodi kemana?” tanyanya.             “Dia jalan-jalan bersama Rezz.”             Erick tersenyum. “Ini waktu kita Ilona.” dia menarik Ilona jatuh ke atas tubuhnya. “Kamu kenapa?” tanyanya melihat ekspresi Ilona yang tampak agak sedikit tegang.             “Emmm, tidak. Aku tidak apa.”             Erick membelai lembut pipi Ilona sebelum menarik wajah Ilona dan mencium bibir busur cupid Ilona. Ilona meresponsnya dengan hangat, namun dering ponsel Erick menginterupsi. Erick tidak menghiraukannya, dia ingin mematikan ponsel yang mengganggu waktunya bersama Ilona.             Saat Ilona meraih ponsel Erick, Amarta yang menelponnya.             “Mamahmu,” Ilona menyodorkan ponsel kepada Erick. Dia mengganti posisi yang semula berada di atas Erick bergulir ke arah samping Erick. Dia memeluk tubuh Erick dengan perasaan rindu yang selama ini dibendungnya. Memeluk tubuh Erick dan memejamkan mata.             “Maksud Mama?” tanya Erick dengan nada suara serius.             Ilona membuka matanya dan menatap ekspresi suaminya yang berbeda dengan ekspresi sebelum dia menerima telepon dari Amarta. ***             “Kamu mau mema’afkan aku kan?” Arrabella bertanya sembari memiringkan kepalanya, bersungguh-sungguh meminta ma’af pada Dion yang mengaduk espresso gratis dari Arrabella dengan gaya angkuh.             “Aku tidak bisa mema’afkan orang begitu saja.” katanya dengan gaya bicara yang elegan namun terlalu dibuat-buat.             “Lalu, kamu mau aku apa agar bisa menebus kesalahanku? Aku sudah membuatkanmu espreso gratis, lho.” kata Arrabella malu-malu seakan espreso gratis setara dengan pemberian sekarung emas.             Dion mengangkat sebelah alisnya dengan gaya yang masih angkuh. Dia merasa sombong hanya karena pernah menyelamatkan wanita itu dari tindakan asusila Raihan.             Arrabella menebak-nebak apa yang akan dikatakan pria beraroma mahal ini. Tapi seketika dia teringat akan pengakuan Sheila tentang putri kandungnya itu. “Eh, memangnya keponakanmu itu anak kandung aktris itu ya?” tanyanya penuh rasa penasaran.             Ekspresi Dion berubah drastis. Membicarakan Sheila seperti membicarakan seorang pengacau. Padahal Dion senang bisa mempermainkan Arrabella yang tampak bersungguh-sungguh meminta ma’af padanya.             “Hei, kita sedang membicarakan masalah kita. Jangan mengalihkan topik pembicaraan.”             Arrabella langsung mencucu. “Jadi, Tuan ini maunya apa agar saya dima’afkan. Apa aku harus membuat nasi goreng, membuat espresso lagi, membersihkan rumah, mengelap toilet, berlutut atau apa?” Arrabella tampak frustrasi. “Asal tidak menyuruhku untuk bermalam di kamar Anda semua akan aku laksanakan.”             Dion menyeringai nakal.                                            Arrabella menatap takut-takut Dion. “A-aku salah ngomong ya.”             “Yang bermalam di kamar bagus juga.” kata Dion sambil tersenyum misterius.             “Kalau seperti ini sama saja lolos dari lubang buaya masuk lubang singa.” gumam Arrabella polos.             “Kamu mau kan bermalam denganku?” penawaran autentik dari Dion membuat Arrabella ngeri.             Arrabella menatap Dion dengan tatapan ngeri.             “Aku hanya bercanda.” kata Dion takut Arrabella menganggap ucapannya serius. “Tapi, kalau kamu mau sih ayo.” *** “Jangan khawatir, Sayang.” Erick membelai kedua pipi Ilona dengan gerakan lembut. “Aku akan mencari tahu maksud dari kedatangannya. Aku janji padamu aku akan segera menyelesaikan masalah ini dan  meminta Sheila untuk tidak muncul kembali di kehidupan kita.”             Erick memeluk Ilona. Pelukan dari Erick selalu disukai Ilona tapi kali ini pelukan itu tak mengurangi ketakutannya sama sekali.             Erick menarik tubuh Ilona perlahan mendekati ranjang. Kedatangan Sheila membuat Ilona takut kehilangan Erick dan dia berniat membuat Erick tidak akan melepaskannya dan berusaha memberikan yang terbaik untuk Erick. Mengingat, betapa cantik dan menakjubkannya Sheila hingga mampu menghipnotis puluhan mata di sana. Tidak heran kalau Erick dan Dion pun pernah merebutkan wanita cantik itu.             Ilona melingkarkan tangannya di leher Erick yang berada di atas tubuhnya. Dia merespon segala gerakan Erick yang memberikannya sensasi yang menyenangkan di setiap kulit yang bersentuhan dengan tubuh Erick.             Erick baru saja membuka kemejanya saat dering ponsel menginterupsinya.             Awalnya Erick berniat mematikan ponselnya untuk menghindari gangguan-gangguan yang tidak diinginkan tapi layar itu menampilkan nama ibunya.             “Halo, Mah.”                                                     “Erick, datanglah ke rumah. Cepat. Mamah tunggu.”             Ponsel mati.                                                        Erick menatap Ilona yang balik menatapnya dengan gaun yang mulai turun dari bagian dadanya.             “Ada apa?”             “Aku harus pergi ke rumah mamah, Ilona.”             Dia membereskan kemejanya dan mengecup singkat Ilona sebelum meninggalkan wanita kesayangannya itu.             Ilona teringat akan masa itu...             Masa di mana dia merasa dikecewakan oleh Erick dan Sheila saat menduga kalau Melodi adalah putri mereka berdua. Dia teringat pertemuan, teriakan Sheila yang menuntut pada Erick.             Dia menarik tangan Sheila. “Apa maksudmu melakukan ini?!” tanya Erick tidak sabar.             “Melodi, putrimu.” jawab Sheila santai.             “Bohong!” elak Erick.             “Sungguh. Aku meminta pertanggungjawabanmu setelah sembilan tahun lamanya..”             “Pertanggung jawaban macam apa hah?! Kamu saja tidak bertanggung jawab pada Melodi. Kamu membuangnya, Sheila!” Jeda sejenak.                                  “Semua sudah berlalu dan kamu tiba-tiba muncul dengan maksud untuk menghancurkan aku?!”             “Sebagai balasan untukmu yang lari dari tanggung jawab.”             “Kamu tidak pernah bilang kalau anak yang kamu kandung adalah putriku.”             “Karena aku bingung saat itu, Erick. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak mungkin—“ Sheila menatap Erick dengan napas tersengal-sengal seakan dia baru saja lari maraton sejauh tiga kilometer.             “Melodi, putrimu.” kata Sheila kembali menegaskan.             Ketakutan Ilona kembali terulang... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD