“Kamu sih macam-macam, tahu Arrabella kan bukan w************n yang gampang diajak-ajak.” celoteh Kesha kesal di depan Raihan yang sedang memakan roti selai apelnya.
“Biasanya kan cewek-cewek yang datang di pesta kamu pasti maulah denganku.” Raihan mencari pembelaan dengan alasan yang sudah-sudah.
Nyaris 95% wanita yang didatangi Raihan akan kegirangan karena semua orang tahu siapa Raihan dan keluarganya. Tidak akan ada yang menolak pria tampan sekaligus cute yang mirip aktor drama Korea itu. Dan lagi, dia salah satu pria kaya yang akan mewarisi tahta bisnis keluarganya. Orang tuanya adalah orang terpandang di kalangan pejabat negeri ini. Namun, Arrabella yang malang tidak tahu seluk beluk soal Raihan. Kalaupun dia tahu, dia tetap tidak akan mau disentuh Raihan. Permasalahannya adalah saat itu Raihan mabuk sehingga dia lepas kendali. Wajah Arrabella mengingatkannya pada mantan kekasihnya dulu yang sekarang sering muncul di akun gosip dan infotainment. Tidak mirip sebenarnya tapi mengingatkan. Mungkin kalau Raihan tidak mabuk dia tidak akan berpendapat kalau wajah Arrabella mirip mantan kekasihnya.
“Dia temanku. Masih polos. Agak bar-bar dan sembrono. Kamu menghancurkan kesempatan aku mendapatakan Dion. Dion marah padaku. Dion bahkan bilang agar aku mengajarimu cara menghormati wanita. Sialan!” gerutu Kesha.
“Tidak dulu tidak sekarang dia selalu saja membuat masalah denganku.”
“Bukannya kamu yang sering membuat masalah dengannya.” balas Kesha sinis.
“Kakakmu ini dipukul di depan umum, kamu masih saja membela pria berengsek itu.” Raihan tampak murka.
“Bukannya yang berengsek kamu. Jangan samakan Dion denganmulah. Jangan-jangan anak Sheila itu juga putrimu.”
“Diam kamu, sialan!”
Kesha bangkit dari kursi kayu eboni dengan marah. Rencana agar dia dapat menjebak Dion gagal setelah dulu berusaha mati-matian mendapatkan Erick juga gagal. Dan itu semua karena kakaknya. Kesha tidak tahu kenapa pria-pria yang diinginkannya malah tidak didapatkannya meskipun dia memiliki semua unsur kesempurnaan sebagai seorang wanita.
Raihan tampak sangat tidak menyukai apa yang dilakukan Dion saat ini. Dan ya, semua yang melakukan kesalahan padanya perlu diperhitungkan. Dibesarkan dengan manja oleh kedua orang tuanya, apa pun keinginan Raihan dituruti sehingga saat anak itu tumbuh besar dia akan melakukan apa pun untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Aku akan membuat perhitungan dengan Dion.” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri. “Dan Arrabella, aku harus mendapatkannya.”
Raihan dan Kesha adalah kakak beradik yang berbeda ayah. Raihan masih ingat betapa keukeuhnya ibunya meninggalkan ayahnya demi mengejar ayah Kesha. Raihan ingat terakhir kalinya melihat ayahnya yang seakan tidak merelakan kepergiannya bersama sang ibu tapi mau bagaimana lagi, ibunya tidak bisa hidup dengan gaya sederhana ayahnya.
Karena itulah Raihan menjadi pria yang menyamaratakan semua wanita.
***
Erick pulang dengan persaan waswas. Dia takut pikiran negtifnya tentang Ilona dan Dion terjadi. Dia tidak ingin kehilangan Ilona. Dia sangat mencintai Ilona hingga memilih pulang lebih cepat daripada yang dijadwalkan diawal. Apalagi Dion tampak agresif mendekati Ilona bahkan setiap kali Erick menghubungi Ilona selalu ada Dion di sana. Bagaimana Erick tidak khawatir kalau dulu saja Dion bisa merebut Sheila darinya?
Pelukan dan ciuman pertama tertuju pada istrinya—Ilona. Kemudian Erick membungkuk agar dapat memeluk dan mencium kening Melodi. Wajah semringah Ilona dan Melodi membuat Erick yang agak lelah karena kurang tidur kembali bersemangat. Ilona dan Melodi sengaja menjemput Erick di bandara demi bisa menuntaskan kerinduan mereka.
“Mamah tidak ikut?” tanya Erick berjalan menuju mobil mereka.
“Dia cuma menyuruh aku dan Melodi saja yang menjemputmu.”
Erick mengangguk.
Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai di rumah. Erick membuka pintu dan Rezz langsung mengeong bersemangat menyambut Tuan kesayangannya. Erick menggendong Rezz.
“Kamu merindukan aku, Rezz?”
Rezz menjawab dengan mengeong sambil menatap Tuan kesayangannya itu.
“Ah, aku rindu rumah ini.” Erick merebahkan diri di atas sofa masih dengan Rezz dipangkuannya. Dia menoleh pada Ilona yang duduk di sampingnya. “Tapi aku lebih merindukanmu.”
Ilona tersenyum lembut. “Kamu tahu, tidak ada yang lebih aku rindukan selain kamu.”
Erick tertawa renyah. “Tapi sepertinya aku yang lebih merindukanmu, Ilona. Kamu bahkan bersikap biasa saja setiap kali aku menghubungimu.”
Erick tidak pernah tahu kalau setiap detiknya Ilona merasa dadanya ditikam rindu. Tapi Ilona selalu berhasil menyembunyikan apa pun dibalik ekspresi datarnya.
Erick melepaskan Rezz yang menyusul Melodi ke dapur.
“Kemarilah,” kata Erick yang dituruti Ilona.
Ilona menggeser tubuhnya ke dalam dekapan suaminya. Dia duduk di atas pangkuan Erick. Erick melingkarkan tangannya di tubuh Ilona seakan menghalangi apa pun yang mencoba merebut Ilona darinya. Sebelah pipi Ilona menempel di sebelah pipi Erick.
“Aku ingin kita selamanya seperti ini.” ucap pria itu dengan suara dalam dan serius. “Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku, Ilona. Menjadi istriku hingga rambut kita beruban. Aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin kamu menjauhi Dion.”
Refleks, Ilona menoleh pada Erick.
“Kenapa?” tanyanya dengan dahi berkerut.
Suasana yang romantis seketika berubah tegang. Erick menatap Ilona tajam sekaligus curiga.
“Aku pernah cerita soal masa laluku dengan Dion kan. Aku takut itu terulang lagi, Ilona. Aku—“ Erick menatap mata indah Ilona. Mata almond yang dulu selalu diremehkannya. Mata yang dulu tak pernah membuat Erick tertarik tapi kini mata itu adalah salah satu keindahan milik Ilona yang sangat disukai Erick. “Aku tidak ingin kehilanganmu, Ilona.”
Ilona tertawa renyah. “Kamu terlalu berlebihan. Dion tidak punya maksud apa-apa selain untuk menjaga aku dan Melodi.”
“Tapi tetap saja aku takut kamu—“
“Aku bukan Sheila atau Sasa, Rick.” sela Ilona berusaha meyakinkan suaminya kalau dia tidak akan pernah mengkhianati Erick. “Aku tidak akan tega menyakiti hati pria yang aku cintai.” Ilona membelai d**a Erick.
Erick hanya menatap istrinya dengan perasaan yang lebih tenang setelah dia bersama Ilona sekarang. Setidaknya Dion tidak perlu repot-repot menjaga Melodi dan Ilona karena sekarang ada dirinya.
“Aku mencintaimu, Ilona.” Erick mengeratkan pelukannya di tubuh Ilona.
“Aku juga.”
“Ma’af kalau aku tidak membuatmu nyaman dengan kecurigaanku ini. Aku hanya takut kehilanagan dirimu.”
“Ekhemmm...” Dion berdeham membuat Ilona tersentak dan refleks melepaskan diri dari Erick.
Erick menatap Dion dengan tatapan khas ketidaksukaannya pada kakak kandungnya.
“Aku dengar kamu sudah pulang,” Dion memulai, dia duduk di sebelah Erick.
“Seperti yang kamu lihat.” Erick melepaskan kancing atas kemejanya. Dia merasa gerah dengan kehadiran Dion.
“Aku minta ma’af karena sudah membuat keonaran dan Sheila memanfaatkan situasi ini.”
Bukannya menanggapi perkataan Dion, Erick malah bangkit dan melesat memasuki kamarnya.
Ilona mengangkat bahu saat Dion menoleh padanya. “Dia terlalu keras kepala.” komentar Ilona.
***