BAB - 7

1190 Words
            Ilona menceritakan kedatangan Sheila malam itu pada Erick lewat telepon. Jelas saja Erick murka. “Aku akan menghubungi dia.” ujarnya. Tapi Ilona merasa tidak suka ketika Erick menghubungi Sheila, komunikasi mereka bisa dijadikan tameng oleh Sheila untuk kembali menghubungi Erick  terus menerus.             “Jangan.”                         “Aku dengar dia bilang pada media kalau Melodi putrinya setelah mengakui kalau Melodi keponakan Dion. Kenapa dia memberikan jawaban yang terkesan labil?”             Ilona mengerti maksud dari Sheila. Saat wawancara pertamanya dengan wartawan mungkin Sheila masih tidak mau mengakui soal Melodi kemudian wawancara berikutnya dia berubah pikiran. Ya, bisa saja seperti itu, pikir Ilona.             “Yang jelas dia memiliki niatan buruk, Rick.” kata Ilona dengan nada yang tidak pernah didengar Erick. Nada tajam yang mengandung ketakutan.             “Tunggu aku pulang dan kita akan menemui Sheila.”             Ilona mengangguk seakan melihat Erick ada di depannya. “Ya.” ujarnya akhirnya.             “Aku mau kamu menciumku sekarang.” pinta Erick dengan nada menggoda.             “A-apa?” Ilona tampak kikuk, dia menatap ke arah Dion dan Melodi yang sedang membuat perahu kertas.             “Cium aku.” ulang Erick dengan sabar.             “Emm—tidak bisa.”             “Kenapa?”             “Ada Dion—”                                    “Apa?!” pekik Erick yang terkejut karena Dion ada di rumah Ilona. Lagi-lagi kakaknya itu ada di rumahnya.             “Iya, aku tidak bisa menciummu.”             Bayangan kemesraan Ilona dan Dion kembali menghantui Erick. Ketakutan-ketakutannya kalau Dion dan Ilona bermain di belakangnya begitu tampak nyata hingga pria itu mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dan membuangnya secara perlahan.             “Kenapa Dion ada di sana?”             “Melodi memintanya membuatkan perahu kertas.”             “Kamu kan bisa.”             “Tidak. Aku tidak bisa.”             “Kamu bisa masuk ke kamar atau kemana begitu hanya untuk memberikan aku ciuman.” pinta Erick masih tetap sama sekarang dengan nada yang memelas. Ilona tidak tega tapi dia merasa aneh mencium suaminya lewat telepon.             “Dua menit lagi aku ada urusan lain. Ayolah.”             “Aku tidak bisa. Aku sedang masak.”             “Kamu bohong?”             “Tidak. Kalau kamu tidak percaya lebih baik kita VC.”             Beberapa detik kemudian Erick melihat Ilona berdiri di hadapannya. Ilona mengarahkan ponselnya ke arah Melodi dan Dion yang berada di meja makan menunggu makanan siap sembari membuat perahu kertas.             “Percaya kan?” ujar Ilona lewat layar ponselnya.             Erick tersenyum. “Aku mengganggumu.”             “Ah, kamu memang pengganggu.”             “Kalau melihat wajahmu aku ingin detik ini juga bisa pulang.”             Ilona tertawa kecil.             “Apa itu Pap?” tanya Melodi.             “Sepertinya Melodi ingin berbicara denganmu.”             “Ya, aku punya waktu satu menit lagi.”             Ilona memberikan ponselnya pada Melodi. Dia membiarkan Melodi dan Erick berbincang. Dion seakan menghindari Erick. Dia bangkit dan memilih menghampiri Ilona.             “Kamu tidak mau berbicara dengan Erick?” tanya Ilona menatap sendu kakak iparnya.             “Aku dan Erick tidak pernah akur, Ilona. Kami lebih sering seperti orang asing.”             “Sejak kamu menjalin hubungan dengan Sheila?”             Dion mengangguk.             “Tapi semua kan sudah berlalu terlalu lama.”             “Erick masih terluka.”             “Dia sudah lama tidak mencintai Sheila setelah menjalin hubungan dengan Sasa kan.”             “Kedalaman hati seseorang siapa yang tahu.” kata Dion seakan berbicara dengan bukan istri Erick. Dan tanpa sadar Dion telah mencederai hati Ilona. ***   Kedalaman hati seseorang siapa yang tahu.             Kalimat dari Dion itu sukses membuat Ilona gelisah. Dia bahkan terus berpikir kenapa Erick seakan tidak bisa mema’afkan Dion. Apakah itu pertanda bahwa Erick begitu mencintai Sheila? Dan mungkinkah sampai ke detik ini, suaminya masih mencintai mantan kekasihnya itu. Mungkinkah perasaan Erick pada Sasa hanya kamuflase belaka? Semacam berusaha untuk melupakan Sheila?             Ilona menyesap kembali tehnya. Dia teringat akan sikap Erick padanya dan pada Sheila, rasanya tidak mungkin Erick masih mencintai Sheila mengingat bagaimana pria itu berhasil membuat wajah Sheila Merah padam saat Sheila menemuinya di rumah.             Lalu, kenapa Dion mengatakan hal demikian? Kenapa Dion mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan kalau perkataannya menyakiti Ilona. Apakah Dion tidak berpikir sebelumnya meskipun perkataan Dion tidak secara tegas menyatakan kalau Erick masih mencintai Sheila.             “Tidak mungkin.” gumam Ilona sembari menggeleng. Dia kembali menyesap tehnya.             Ilona menyalakan televisi dan wajah Sheila ada di sana. Duduk dengan anggun dan make up flawless yang membuatnya tampak sangat cantik. Rambut sebahunya digerai. Dia mengenakan dress vintage dengan kerah di lehernya. Sheila tersenyum tenang seakan tidak memiliki beban apa pun dan tepat saat itu juga Ilona sangat tidak menyukai Sheila.             “Dia putriku,” kata Sheila.             “Siapa ayahnya, Sheila?” tanya seorang wartawan berkacamata tebal.             “Untuk itu aku tidak bisa bicara sekarang yang jelas Melodi putriku dan Dion adalah kakak dari orang tua angkat putriku. Aku akan berjuang untuk bertemu dengan putriku. Ibu asuh Melodi tidak mengizinkan aku menemui putriku bahkan dia sampai mengancamku dan mengatakan hal yang tidak-tidak—“             Sampai di situ, Ilona ternganga. Apa katanya?             Ilona tidak habis pikir atas apa yang dikatakan Sheila. Dia hanya melarang Sheila membawa Melodi pergi. Kenapa dilebihkan seperti ini seolah-olah Ilona adalah wanita jahat?             “Playing victim.” gumam Ilona. Dia tidak akan terus menerus membiarkan dirinya diberi image buruk oleh Sheila.             “Aku akan terus melakukan apa pun demi bisa bertemu putriku lagi. Terima kasih.” Sheila langsung bergegas pergi. Seulas senyum tipis menghiasi wajah cantik Sheila.             Ilona mematikan layar televisinya. Dia memejamkan mata dan menarik napas perlahan, mengembuskannya perlahan dan mencoba untuk tetap tenang.                                                                         ***                                 Arrabella baru saja memperagakan cara Dion memukul Raihan dengan gaya dilebih-lebihkan di hadapan Ardian. Wajah polos Ardian tampak takjub dengan apa yang dilakukan Dion.             “Berani sekali dia memukul Raihan.” komentar Ardian.             “Lho, memangnya kenapa?” tanya Arrabella penasaran.             “Raihan itu—“ belum sempat Ardian menyelesaikan kalimatnya dia mendecakkan lidah.             “Kakak Kesha kan?”             Ardian mengangguk.             “Rumornya orang tua mereka selain menjadi orang penting di negeri ini juga rumornya mafia kan?”             “Kok kamu tahu, Bell.”             “Dion yang memberitahu.”             Ardian terdiam sejenak. Dia menyesap capuccino buatannya sendiri. Dia terdiam bukan karena Dion sama tahunya soal orang tua Kesha dan Raihan, tapi dia terdiam karena tahu kalau jalan hidup Arrabella akan berbeda. Raihan tidak akan membiarkan Arrabella dan Dion hidup tenang. Akan tetapi, Ardian tidak berani mengatakan ketakutannya pada Arrabella. Dia takut Arrabella malah khawatir.             “Kenapa diam sih?” Arrabella menyikut lengan Ardian.             Ardian menggeleng. “Nyali Dion lumayan juga.”             “Kalau kamu tahu juga kamu akan menolongku kan?” tanya Arrabella.             “Jelas dong!” Ardian tertawa kikuk. Lalu kemudian wajahnya berubah datar. “Jelas tidak.”             “Ish! Kamu ini, masa mau membiarkan aku diapa-apain sama si Raihan.”             “Bell,” Ardian menarik napas perlahan sebelum mengatakan apa yang harus dikatakannya.             “Apa?”             “Apa yang dilakukan Dion itu benar tapi dia juga membuat kita berada dalam masalah.”             Dahi Arrabella mengernyit tebal. “Maksudmu?”             “Raihan pasti akan membuat perhitungan dengan kita.”             “Jadi maksudmu harusnya aku diam saja saat Raihan mencoba memperkosaku dan Dion juga seharusnya tidak memukul Raihan tapi menontonnya, begitu?”             Ardian menggeleng. “Bukan begitu, tapi...”             “TAPI APA?!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD