Suasana pesta ulang tahu Kesha makin malam makin ngeri. Ini semacam pesta gila. Beberapa orang mabuk parah bahkan ada yang sampai terjatuh di kolam renang. Arrabella melihat Kesha yang terus menerus merecoki Dion dengan memberinya minuman beralkohol. Seperti dugaan Ardian, Kesha mencari kesempatan untuk bisa tidur dengan pria itu.
“Seperti bukan pesta ulang tahun.” Arrabella bergidik ngeri melihat orang-orang berjoged ria. Bahkan ada wanita yang dengan sengaja melepaskan gaunnya dengan mengenakan lingeria seksi dan merelakan tubuhnya disentuh para pria.
“Aku rasa dia disewa Kesha untuk menghibur teman prianya.” kata Ardian meletakkan gelas di atas nampan pelayan yang sedang melewati mereka.
“Untung tidak ada orang tua di pesta ini.”
“Orang tua Kesha membebaskan Kesha. Mereka menganut ideologi liberal.”
“Kira-kira Kesha lagi ngomongin apa sih dengan Dion?” Arrabella menatap Kesha dan Dion yang masih saja bercakap-cakap bahkan Kesha mengabaikan beberapa tamu yang datang untuk sekadar mengucapkan selamat ulang tahun atau memberikan kado.
“Dunia itu memang sempit ya.” ucap Ardian melihat kedekatan Kesha dan Dion.
“Aku rasa lebih baik kita pulang daripada kita terjebak di kerumunan pemabuk gila.”
“Ya, boleh. Tapi aku ke kamar mandi dulu ya sebentar.” Ardian lenyap menuju kamar mandi.
“Kesha bisa membuat pesta 2-3 kali seminggu dengan budget lebih dari seratus juta. Orang kaya memang gila!” gumam Arrabella.
“Hai, manis.” Seorang pria asing dengan tato naga di lengan kirinya menyapa Arrabella yang tidak suka didekati pria asing.
Arrabella mengelus belakang lehernya dengan tidak nyaman.
“Sendirian saja nih,” pria itu mengerling nakal pada Arrabella.
“Ke sana yuk!” ajaknya. Agaknya pria ini mabuk. Wajah dan hidungnya memerah. Bau alkohol mengaur dari mulutnya.
“Tidak, terima kasih. Aku di sini saja.” tolak Arrabella.
“Ayolah, di sana sepi, cantik. Di sini ramai tidak bebas.”
Arrabella mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan. “Aku tidak mau, ma’af. Aku tidak bisa aku sedang menunggu temanku.”
“Hei, jangan menolak ya.” Pria itu menarik tangan Arrabella kasar hingga Arrabella tidak sempat menghindar. Dia menarik Arrabella sampai ke dalam rumah dan mendorong Arrabella sampai jatuh ke sofa.
“Aw!” pekik Arrabella memegangi lengannya yang merah.
“Siapa kamu?!” kata Arrabella.
Rumah semegah ini sepi dan kalaupun ada orang mereka seakan tidak mempedulikan apa yang dilakukan pria bertato naga di lengan kirinya itu. sebenarnya wajah pria itu tidak asing tapi Arrabella tidak mengingatnya.
Si pria berambut model the Dandy ini melepaskan jasnya lalu dia melepaskan ikat pinggangnya.
“Eh,eh, kamu mau apa?!” Arrabella mengangkat kedua tangannya seakan menahan pria itu.
Belum sempat dia bangkit dari sofa pria itu buru-buru menindihnya. Arrabelli memekik meminta tolong sayangnya teriakan Arrabella kalah oleh suara musik pop elektro yang keras.
“Lepaskan aku!” Arrabella meronta-ronta. Gaun hitam sleek bagian atasnya mulai turun. Pria itu mencium Arrabella dengan rakus. Arabella memejamkan mata sambil meronta-ronta. Dia tidak sanggup melihat wajah pria itu menikmati tubuhnya.
Lalu Arrabella merasakan tubuhnya ringan. Pria itu melepaskannya. Bukan, bukan melepaskan tapi ada seseorang yang menarik pria itu dari atas tubuh Arrabella. Dan Arrabella melihat Dion melepaskan jasnya setelah pria itu terjatuh di atas lantai.
“Kamu tidak apa-apa?”
Arrabella menggeleng.
***
Dion meletakkan jasnya di atas bahu Arrabella dan membantu wanita itu untuk berdiri. Arrabella masih syok berat. Dia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menatap pria yang berniat memperkosanya itu dengan tatapan yang bisa diartikan kosong.
“Ayo kita pulang,” ajak Dion meletakkan lengannya di atas bahu Arrabella.
Sesaat Arrabella tampak terkesima. Matanya menatap penuh pesona Dion. astaga, apa yang baru saja terjadi? Lalu seketika matanya membelalak melihat banyak orang berkerumunan.
Saat Dion melewati sang pemilik pesta—Kesha, dia berbisik pada Kesha. “Ajarkan kakakmu cara mengendalikan diri.” bisiknya dengan nada tajam.
Kesha tampak malu. Dia bahkan tidak berani menatap Dion. dia tidak pernah menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Kakaknya mempermalukannya di depan pria idaman sekaligus pria yang hendak dijadikannya calon suami kalau Dion mau tentunya.
Beberapa saat kemudian Arrabella berada di dalam mobil Lexus LS Dion. dia hanya diam tak berani berkata apa pun dengan jas Dion yang bertengger di atas bahunya. Sesekali Dion menatap Arrabella yang tampak kasihan.
“Sudah tidak apa.” Kata Dion menenangkan.
“Aku kotor.” ucap Arrabella tanpa menatap Dion. Dia berkata dengan ekspresi yang malah terlihat menggemaskan.
“Dia belum ngapa-ngapain kamu.” Dion menatap sekilas Arrabella.
“Iya, tapi bibirnya sudah menyentuh leherku.” Arrabella memalingkan wajah ke arah Dion. “Aku harus mandi besar.”
Dion terbahak mendengar perkataan Arrabella.
“Ya, memang harus mandi.”
“Kamu kenal pria itu?” tanya Arrabella.
“Kakak Kesha.” jawab Dion standart.
Kedua daun bibir Arrabella terbuka. “Pantas saja wajahnya tidak asing.”
“Kamu tidak mengenalnya? Jangan-jangan kamu juga sebenarnya tidak mengenal Kesha lagi.”
“Kesha itu teman kuliahku dulu. Teman satu kelas. Aku suka lupa wajah orang. Tapi, kenapa dia nekat begitu ya. Tidak tahu deh kalau kamu tidak ada. Bisa-bisa dia mengambil kehormatanku.” Arrabella tampak dramatis.
“Kakak Kesha itu seangkatan adikku. Namanya Erick. Dia teman fakultas Erick tapi ya begitu. Aku dengar dia punya banyak skandal.” Cerita Dion mengingat apa yang diingatnya dulu semasa kuliah.
Arrabella mengangguk-ngangguk. “Tapi, kenapa dia nekat begitu ya. Rumah semewah itu tidak ada siapa-siapa.”
“Karena mungkin dia mabuk dan hilang kendali. Kalaupun ada yang lewat aku rasa tidak akan ada yang mau menolong kamu. Aku lihat beberapa pelayan lewat tapi mereka acuh tak acuh. Awalnya aku pikir kalian mabuk jadi aku biarkan saja saat dia menarik lengan kamu. Kamu juga seperti pasrah begitu—“
Kalimat ‘pasrah begitu’ terdengar seperti ‘kamu juga mau kan’. Arrabella menatap kesal Dion. “Aku hanya kaget. Makanya aku masih diam saja.” Arrabella mengulurkan lehernya ke arah Dion. “Jadi kamu memperhatikan aku terus ya?” tanyanya dengan mata melebar.
“Ehmmm,” Dion tampak berpikir. “Tidak juga sih. Teman cowok kamu kemana?”
“Astaga Ardian!”
Dion menoleh pada Arrabella. “Iya kemana temen cowok kamu itu.”
“Dia ke toilet.” Arrabella segera mengambil ponselnya dan mengirin chat pada Ardian kalau dia pulang bersama Dion.
“Eh, tadi kamu bilang kalaupun ada yang lewat tidak akan ada yang mau menolong, kenapa?”
“Karena tidak ada yang berani pada anak tengil itu.”
“Lho, kenapa?”
“Dia unya kuasa Arrabella. Ayahnya seorang petinggi di kabinet kepresidenan. Aku dengar sih mafia juga.”
“Tapi, kamu berani. Kamu bahkan memukulnya hingga jatuh.”
“Aku kakak tingkatnya sewaktu kuliah dan aku pernah berkelahi dengannya.”
“Oh ya?” Arrabella tampak antusias. “Kenapa? Terus siapa yang menang.” Cercanya.
“Rahasia.” ucap Dion yang mengatakan ‘rahasia’ seimut opa-opa Korea.
Sesampainya mereka di depan rumah Arrabella yang bergaya minimalis, Arrabella melepaskan jas Dion dari tubuhnya. “Ini,” dia menyerahkannya pada Dion.
“Cuci.” titah Dion.
Arrabella membelalak. “cuci?”
“Iyalah. Kamu kira saya sudih mengenakan jas bekas wanita yang nyaris diperkosa.”
Arrabella membungkam mulutnya dengan gerakan terkejut. “Astaga... jahat sekali kamu!”
“Oh ya? Lebih jahat mana dengan orang yang mau memperkosamu.”
“Ya, lebih jahat dia sih.” Jawab Arrabella polos.”
“Cuci jasku, aku akan ambil nanti di kafe perpustakaanmu.”
Jeda.
“Tunggu apa lagi?” dion tampak tidak sabar. “Sana cepat keluar!”
Arrabella terkesiap. Dia sedang membayangkan betapa beruntungnya dia malam ini karena diselamatkan pria beraroma mahal. “Oh ya?”
Jeda lagi.
“Pakai jas itu sampai kamu masuk rumah. Lain kali pakai gaun yang bisa menutupi bagian sensitifmu.” Kata Dion pura-pura sibuk dengan kemudinya.
“Lho, ini kan sudah sopan. Gaun ini jauh lebih baik daripada gaun-gaun yang dipakai para wanita di sana. Apalagi dibandingkan wanita yang dijadikan hiburan itu. kenapa kakak Kesha tidak mengajak wanita itu saja kenapa harus aku?” Arrabella masih terngiang saat pria itu mendorongnya di atas sofa, menjatuhkannya dan sampai pria itu membuka resletting celananya. Rasanya ngeri dan jijik.
“Mungkin bagi dia kamu lebih menarik.” Dion berkata masih dengan kepura-puraannya sibuk dengan kemudi.
“Oh ya?” Arrabella agak terkesima dengan ucapan Dion. semenarik itukah dia?
“Sana cepat keluar!”
Nada tinggi Dion sukses membuat Arrabella tersentak. “Iya, iya. Ngomong-ngomong, terima kasih ya.”
Dion tidak membalas ucapan terima kasih Arrabella.
Sejak malam itu pandangan Dion pada Arrabella berubah. Dari yang sangat benci karena ulah usil wanita itu hingga dia memiliki rasa yang seperti ingin melindungi Arrabella. Bagaiaman tidak setelah tahu kalau kakak Kesha tidak akan tinggal diam setelah pemukulan itu. dion merasa dejavu. Tapi ini jelas konflik yang berbeda dari saat dia memukul Reihan saat jaman masih kuliah.
***