BAB - 5

1143 Words
            Malam ini Arrabella dan Ardian diundang ke pesta ulang tahun sahabat mereka bernama Kesha. Kesha ini teman kuliah Arrabella. Dia tajir melintir kalau ulang tahun pasti mengundang beberapa penyanyi nasional bahkan internasional. Orang tuanya pemilik perkebunan sawit tapi ada juga yang bilang kalau orang tua Kesha adalah mafia. Kesha termasuk anak yang baik meskipun kaya raya dia tidak suka pamer dan sombong. Tapi terkadang suka pamer dan sombong tapi tidak sering.             Arrabella mengenakan gaun hitam sleek minimalis dengan tambahan belt hitam cantik penampilan Arrabella menurut Ardian tetap chic. Rambutnya dicepol bak kelopak bunga mawar dengan tambahan jepit mutiara di tengah cepolannya. Poni panjanganya dibelah dua sehingga wajah Arrabella tampak tirus.             “Aku cukup cantik kan dengan seperti ini?” Arrabella berbalik pada Ardian yang sedang melahap kentang goreng.             Ardian mengangguk terkejut akan paras Arrabella. “Cantik, Bell.”             Arrabella mengangkat kedua jempolnya. “Oke, let’s go!” Arrabella berjalan disusul Ardian yang sebelum mengikuti Arrabella mengambil kentang goreng lagi dan mereka pergi dengan mobil Renault yang dikasih kakek.             Selang lima belas menit mereka sampai di tempat tujuan yang dipenuhi cewek-cewek seksi dan cowok-cowok tampan. Ardian yang mengenakan jas yang terlalu ketat menunjuk ke arah seorang pria tampan nan atletis. “Itu James kan? Anak dari mantan direktur utama perusahaan milik pemerintah.”             “Iya.” sahut Arrabella biasa saja.                       “Dia makin ganteng, kamu tidak naksir dia, Bell?”             “Dia kan gay.” Arrabella menatap Ardian dengan kesal. Masa sih Ardian tidak tahu kalau si James ini gay. Bukannya rumor itu sudah lama beredar.             “Gay?” Ardian tampak tidak percaya.             “Ya, mau dipacarin?”             Ardian begidik ngeri. “Gini-gini aku normal. Meskipun agak feminim. Tapi aku suka cewek. Aku pernah naksir Tante Nita tahu kan?”             Dahi Arrabella mengernyit. Dia menggeleng.             “Tante Nita tidak punya suami kan?”             “Ya ampun dia belum menikah tapi usianya sudah lanjut.”             Arrabela menghela napas perlahan. Pandangannya beralih dari Ardian ke arah kanan dan dia menangkap seorang pria beraroma mahal. Pria itu adalah Dion yang menyeringai. “Kamu ngapain di sini?” tanyanya sambil membereskan jas dengan angkuh.             “Kamu?” Arrabella tampak agak kikuk.             Dion mengangkat kepalanya seakan meminta jawaban dari pertanyaan yang belum dijawab Arrabella.             “Kok kamu ada di sini sih?” tanya Arrabella yang mirip seperti gerutuan.             “Lho, saya tanya duluan kamu ngapain di sini?” Dion mulai kembali jengkel.             “Saya diundang yang punya pestalah. Kamu sendiri ngapain ke sini?” Arrabella memasang kespresi angkuh.             Dion menyunggingkan senyum mencemooh.             “Ayo Ardian kita masuk.” Arrabella meraih tangan gelambir Ardian.             Ardian sempat mengangguk sopan kepada Dion sebelum meninggalkan pria itu sendirian. Sayangnya, Dion enggan membalas anggukan sopan Ardian. Dia akan bersikap angkuh dan arogan pada Arrabella dan temannya itu. manusia seperti itu tidak layak mendapatkan sikap baik. Dia saja bisa mengusik kehidupan orang lain tanpa pikir panjang kenapa wanita macam Arrabella perlu diperlakukan baik?             Arrabella takjub dengan pesta yang dibuat Kesha. Dia membuat pesta di sekitaran kolam renang. Para pria dan para wanita bersliweran dengan membawa segelas—sampanya mungkin, pikir Arrabella. Pelayan siaga menawari setiap orang makanan dan minuman. Balon-balon dandelion menghiasi setiap dinding, saka dan pohon-pohon kecil sekitaran kolam.             “Keshaaa....” Arrabella memekik kala melihat Kesha dengan rambut orange ombrenya yang bersinar. Dia mengenakan dress mahal dengan potongan d**a rendah.             “Uh, apa kabar Arrabellaku, sayang.” Dia memeluk dan mengecup kedua pipi Arrabella secara bergantian.             “Baik, sayangku.” Balas Arrabella.             “Ardian, kamu tambah montok saja.” kata Kesha tersenyum lebar.             “Ya, begitulah.”             “Ah, ini untukmu dari aku dan dari Ardian.” Arrabella memberikan dua kado yang dibawanya. Sebenarnya kado itu semuanya dari Arrabella, Ardian tidak terlalu tertarik memberi kado.             “Terima kasih.” Arrabella tampak girang.             Matanya melebar saat melihat pria yang baru saja berseteru dengan Arrabella. Pria beraroma mahal—julukan Arrabella kepada Dion.             “Oh, He’s so cute!” puji Kesha dengan tatapan mata terpesona pada Dion. “Kalian simpan dulu kadonya ya, aku mau menemui pria tampan itu dulu.” Kesha mengangkat tangan Arrabella dan mengembalikan kado yang diberikan Arrabella. Kesha memang seperti itu, heboh dan sembrono.             Arrabella menoleh pada arah Dion yang melambaikan tangan pada Kesha. Arrabella mencucu. Ardian tampak acuh tak acuh.             “Harus diakui akan ketampanannya, Arrabella.” kata Ardian setelah Kesha menghampiri Dion. “Akan aku pastikan Kesha akan membuat pria itu mabuk dan saat dia mabuk berat, Kesha akan memanfaatkan kesempatan.”             “Kesempatan apa?”                                            “Jangan sok polos begitu sih.” gerutu Ardian.             Arrabella mengangkat bahunya. Dia melihat Kesha mencium pipi kanan dan pipi kiri Dion lalu berbincang asyik dengan terus tersenyum pada pria itu.             “Pria itu kan punya skandal dengan Sheila, kenapa Kesha masih mengangguminya.”             “Skandal apaan. Itu gosip yang dibuat orang t***l dan diterima orang bodoh.”             “Kamu mengataiku t***l?”             “Bu-bukan begitu,” Ardian panik melihat ekspresi Arrabella. “Ayolah kita menikmati hidangan. Lupakan soal mereka.” Ardian menarik Arrabella mendekati prasmanan. ***             “Mau apa kamu ke sini?” tanya Ilona melihat wajah cantik Sheila muncul di balik pintu.             Sheila tersenyum licik. “Mengunjungi putriku.”             Ilona menggeleng. “Putrimu?” sebelah alisnya terangkat tinggi. “Dia putriku.”             “Agaknya kamu lupa ya kalau aku yang melahirkan Melodi.”             “Tidak pantas seorang wanita yang menelantarkan putrinya begitu saja disebut ibu. Seorang ibu yang baik tidak akan membuang anaknya. Dia akan membesarkannya dengan penuh kasih. Bercerminlah Sheila, kamu tidak menyayangi anakmu tapi kamu menyayangi dirimu sendiri. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri.”             Sheila tersenyum tanpa rasa salah. Dia menatap Ilona tanpa mau berterima kasih pada wanita yang menyayangi putrinya melebihi cintanya pada putrinya sendiri. “Aku ingin bertemu putriku.”             Ilona yang malas menanggapi Sheila yang makin menjadi-jadi apalagi pengakuannya pada media kalau Melodi adalah putrinya membuat Ilona murka. Dia ingin sekali menampar Sheila seperti menampar seorang penjahat yang sudah membunuh puluhan orang.             Ilona menutup pintu rumah, dengan cepat Sheila mencegahnya.             “Kamu membatasi komunikasi aku dan Melodi.” katanya dengan suara tajam.             “Melodi sendiri yang tidak ingin berkomunikasi denganmu.” balas Ilona sengit.             “Karena kamu menyuruhnya.” kalimat yang meluncur dari kedua daun bibir Sheila adalah sebuah pernyataan. Bukan pertanyaan.             “Aku tidak pernah menyuruhnya.”Ilona membanting pintu keras hingga Sheila terlonjak.             “Kamu akan melihat nanti bagaimana caraku kembali merebut putriku!”             “Persetan!” balas Ilona mengunci pintu rumah.             Sheila menatap pintu dengan wajah yang mengandung amarah. Yang marah harusnya Ilona dan yang membenci Sheila pun seharusnya Ilona. sayangnya, rasa iri itu dibiarkan Sheila membesar sehingga merasuki kewarasannya yang bahkan pernah melupakan tentang Melodi demi ambisinya menjadi seorang aktris.             “Siapa itu, Mam?” tanya Melodi yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil mengucek-ngucek matanya.             “Bukan siapa-siapa, Sayang.” Ilona membelai lembut kepala Melodi dan mengantarkan anaknya kembali ke dalam kamar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD