Bayangan di Malam Itu
Malam itu hujan turun deras, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Suara gemuruh kota petir sesekali memecah kegelapan, diikuti kilatan cahaya yang sesaat menerangi gedung tinggi yang menjulang.
Liana mempercepat langkahnya, memeluk tas ranselnya erat di d**a. Ia baru saja pulang dari tempat magang, dan bus terakhir sudah lewat.
Jalan pintas melewati kawasan gudang tua adalah satu-satunya cara agar ia bisa sampai rumah lebih cepat.
"Kenapa harus begini sih?" gumamnya pelan, menahan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di ujung lorong yang gelap, samar-samar ia mendengar suara benturan keras, diikuti suara teriakan yang tertahan. Ia merasa ragu, haruskah ia lari atau memeriksanya? Rasa penasaran dan ketakutan berperanf di dalam hatinya.
Dengan langkah hati-hati ia mendekat, bersembunyi di balik tumpukan peti kayu. Dari celah kecil, pemandangan yang terlihat membuat darahnya seolah berhenti mengalir.
Di tengah ruangan terbuka yang diterangi lampu temaram, ada lima orang pria bersenjata. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah sosok pria yang berdiri tegak di hadapan mereka.
Tubuhnya tinggi dan kekar, dibalut jas hitam yang sedikit basah terkena air hujan. Rambutnya hitam legam, sedikit berantakan, tapi sorot matanya gelap, tajam, dan memancarakn dingin yang membuat siapa saja yang menatapnya akan merinding.
Itu adalah Arsen Vardian.
Nama yang sering ia dengar dibisikkan orang-orang, disertai rasa takut. Penguasa bawah tanah kota ini, yang konon tidak mengenal belas kasihan.
"Kau pikir bisa mencuri dariku dan lari begitu saja?" suara Arsen terdengar rendah, berat, namun cukup jelas terdengar oleh Liana.
"Sa-saya minta ampun, Tuan Arsen. Itu perintah Dion! Dia yang sudah menyuruh kami..."
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Arsen bergerak secepat kilat. Sebuah benda tajam berkilat sebentar, dan pria itu terjatuh je lantai tanpa suara. Darah perlahan membasahi lantai beton yang dingin.
Liana menutup mulutnya rapat-rapat, matanya terbelalak lebar. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa sakit di d**a. Ia tidak bermaksud untuk melihat hal ini, ia hanya ingin pulang.
Namun ketakutannya bertambah, ketika Arsen tiba-tiba menoleh ke arah persembunyiannya.
"Keluar."
Satu kata itu diucapkan dengan nada datar, tapi mengandung tekanan yang membuat tulang punggung Liana terasa kaku.
Ia tahu, tidak ada gunanya bersembunyi lagi. Dengan tangan gemetar, ia melangkah keluar, berdiri di bawah sorot mata tajam itu.
Jarak mereka hanya sekitar lima meter, Liana bisa melihat jelas wajah pria itu, wajah yang tampan namun berbahaya, dengan garis rahang yang tegas dan tatapan yang seolah bisa menembus rahasia terdalam seseorang.
"Siapa kamu?" tanya Arsen, matanya mengamati setiap gerakan kecil gadis di hadapannya.
Tangannya masih memegang pisau yang berlumuran darah, tapi ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Liana menelan ludah, berusaha menenangkan diri meski kakinya terasa lemas. "A-aku... aku hanya orang yang lewat. Aku tidak melihat apa-apa. Aku akan pergi sekarang..."
"Berhenti."
Perintah itu membuat langkahnya terhenti seketika, pria-pria lain di belakang Arsen mulai bergerak maju, mengelilinginya. Mata mereka penuh ancaman.
"Tuan, biarkan kami selesaikan saja," ucap salah satu dari mereka dengan suara ksara. "Dia bisa saja mata-mata."
Arsen tidak menjawab langsung, ia melangkah perlahan mendekati Liana, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.
Aroma wangi kayu dan besi dingin bercampur bau darah tercium oleh Liana. Ia memaksakan dirinya untuk tidak mundur, meski nalurinya berteriak untuk lari sejauh mungkin.
"Apa kamu tidak takut?" tanya Arsen tiba-tiba.
Liana mengerjap, sedikit bingung. "Tentu saja aku takut. Siapa yang tidak takut melihat kejadian seperti ini?"
"Tapi kamu tidak berteriak. Dan kamu tidak memohon untuk hidup," Arsen menyipitkan matanya, meneliti gadis itu. "Kebanyakan orang akan menangis atau memohon belas kasihan saat berada di posisimu."
Liana menarik napas panjang, "Apa gunanya memohon? Jika anda ingin menyakiti aku, kata-kata tidak akan mengubah apa pun. Dan jika anda membiarkan aku pergi... aku berjanji tidak akan memberitahu siapa pun."
Arsen menatapnya lama, seolah mencoba membedakan apakah gadis ini berbohong atau benar-benar tulus. Di matanya yang gelap, ada perasaan yang sulit dijelaskan, rasa penasaran yang jarang ia rasakan.
Selama ini, semua orang di sekelilingnya hanya menunjukkan dua hal, takut atau ingin memanfaatkannya. Namun gadis di hadapannya berbeda.
"Kamu berani," gumam Arsen pelan. "Atau mungkin terlalu bodoh."
"Aku hanya tidak ingin terlihat lemah," jawab Liana jujur.
Salah satu anak buahnya, Rafael, yang berdiri di sampingnya, berbisik pelan. "Tuan, dia sudah melihat terlalu banyak. Keamanan organisasi..."
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan," potong Arsen dingin. Ia tidak membuang pandangannya dari Liana. "Nama?"
"Liana."
"Liana apa?"
"Liana Kirana."
Arsen mengangguk pelan, seolah menyimpan nama itu di dalam ingatannya.
"Baiklah, Liana Kirana. Hari ini kamu beruntung. Aku tidak suka membunuh orang yang tidak bersalah tanpa alasan yang jelas."
Liana merasa lega, namun ia tetap waspada. Ia tahu di dunia seperti ini, kebaikan seringkali memiliki harga tersembunyi.
"Tapi ingat satu hal," lanjut Arsen. "Jika kamu membuka mulutmu tentang apa yang kamu lihat malam ini, atau jika aku tahu kamu berusaha menyelidiki hal yang bukan urusanmu. Maka keberuntunganmu itu akan habis. Dan aku tidak akan sebaik ini lagi."
Ancaman itu jelas, menusuk langsung ke inti perasaan. Namun anehnya, Liana justru merasa bahwa pria itu sedang berkata jujur, bukan sekedar mengintimidasi.
"Baiklah, aku mengerti," jawabnya tegas. "Aku tidak akan berbicara kepada siapa pun."
Arsen mengangguk sedikit, lalu memberi isyarat tangan. "Biarkan dia pergi."
Anak buahnya terlihat terkejut, namun tidak berani membantah perintah itu. Mereka membuka jalan, membiarkan Liana lewat.
Dengan langkah cepat namun tidak terlihat tergesa-gesa, Liana berjalan melewati mereka.
Saat ia hampir mencapai ujung lorong, suara Arsen kembali terdengar dari belakang.
"Liana."
Ia berhenti dan menoleh sedikit.
"Kita akan bertemu lagi."
Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tapi kata itu membuat bulu kuduknya meremang.
Ia tidak tahu apakah itu janji atau ancala. Tanpa menjawab, ia segera berbalik dan berlari menembus hujan, meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Setelah sosoknya menghilang dalam kegelapan, Rafael mendekat ke sisi Arsen.
"Tuan, apakah kita benar-benar membiarkannya pergi begitu saja? Bagaimana jika dia pergi ke pada polisi?"
Arsen masih menatap ke arah di mana Liana menghilang, ekspresinya sulit dibaca. Ia menyeka darah di pisaunya dengan kain, lalu menyimpannyan kembali.
"Dia tidak akan melakukannya," jawabnya yakin. "Matanya terlihat jujur. Tapi tetap saja... awasi dia. Aku ingin tahu siapa sebenarnya gadis itu, dan apa yang membawanya melewati tempat seberbahaya ini di malam hari."
"Baik, Tuan."
Arsen membalikkan badannya, bersiap pergi. Tapi pikirannya, bayangan wajah gadis itu masih tergambar jelas, tatapan yang tidak tunduk, meski jelas ketakutan. Sesuatu yang jarang ia temukan.
Dan entah mengapa, ia merasa bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.