bc

Dimatanya, Tergambar Masa Depan

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
serious
superpower
like
intro-logo
Blurb

Kirana bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia dikaruniai mata ajaib yang mampu melihat gambaran masa depan setiap kali menyentuh seseorang atau benda miliknya. Namun, anugerah itu justru dianggap kutukan. Di mata orang-orang, ia hanyalah gadis gila yang berbicara halusinasi, pembawa sial, dan penyakit bagi keluarga yang memeliharanya. Diasuh oleh Bu Lusi—ibu angkat yang membenci keberadaannya—dan Sandra, anak kandung yang sombong, iri hati, dan licik, hidup Kirana tak ubahnya seperti pembantu tanpa gaji. Ia bekerja keras siang malam, namun selalu menerima makian, hinaan, dan perlakuan kasar. Semua peringatan yang ia sampaikan demi keselamatan mereka selalu dianggap omong kosong. Bagi Raka, pria tampan, kaya raya, dan dingin yang diam-diam dicintai Kirana, gadis sederhana itu hanyalah sampah yang tidak pantas disandingkan dengannya. Ia lebih memilih Sandra yang cantik, bergaya, dan penuh kepura-puraan. Hingga suatu hari, apa yang selalu dikatakan Kirana terbukti nyata. Kecelakaan, kehancuran, dan musibah datang satu per satu sesuai apa yang ia lihat. Saat kemewahan mereka ludes, saat kekayaan mereka terancam hilang, dan saat masa depan mereka berada di ujung tanduk... barulah mereka sadar. Wanita yang selama ini mereka injak-injak, hina, dan sebut gila, adalah satu-satunya orang yang memegang kunci nasib mereka. Dan saat mereka bersujud memohon pertolongan, Kirana bukan lagi gadis penakut yang bisa diremehkan. Ia telah bangkit menjadi penguasa masa depan yang tak lagi memaafkan siapa pun yang pernah menyakiti hatinya. © LENTERA PIJAR MEDIA(Karya asli, terbit di berbagai platform)

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Gadis Gila Yang Bisa melihat Masa Depan
Namaku Kirana, Aku Seorang Anak angkat Yang memiliki kemampuan Super BISA MELIHAT MASA DEPAN , yang di Ambil Dari jalanan Oleh Keluarga Pak Indrawan . Waktu Itu Umurku 5 tahun, aku sedang mengamen dan hampir Tertbarak oleh mobil mereka. Mereka Sangat Sedih melihat anak umur 5 tahun harus berjuang Hidup di jalanan , Dan juga mereka Melihatku Seperti melihat Sosok anak mereka Yang Hilang Beberapa tahun lalu Waktu umur 1 Tahun, yang Di culik Oleh Musuh Bebuyutan Keluarga pak Indrawan dan bu lusi. Awalnya Bu Lusi sangat menyayangi aku, Akan tetapi, Sandra Yang sangat benci akan Diriku Di rumah Itu, dia membuat Ku Seolah selalu terlihat salah Di mata bu lusi. Selama Aku Di rumah itu. Mereka bisa di bilang. Hampir tak pernah Mengalami Musibah dan masalah. karena ada aku yang selalu memperingati Bu Lusi dan Pak Indrawan ketika ada bahaya dan Ada orang yang berniat jahat pada mereka. Sampai Pada 1 hari . Pak indirawan akan Pergi Keluar kota . aku yang di hukum Bisum dan Sandra karena kesalahan yang tidak aku perbuat, mereka mungurungku Di Gudang. sehingga aku Tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada Pak Indrawan Di hari itu. beberapa jam Berlalu . Pesawat yang di tumpangi Pak Indrawan Jatuh dan hilang kabar . semua orang panik dan Menangis, termasuk aku, akan tetapi Berbeda hal dengan Sandra, dia ingin membuat aku Di benci Dan terlihat salah kali ini. Dia mengambil Hati Bu Lusi Dan Memancing amarah Bu Lusi Dan memanaskan Suasana ... Sandra : Ini semua Salahmu Kirana ... Kirana : Ha salahku? Kenapa Kamu mengatakan Salahku? Sandra : Kalau Saja Kamu Memberikan informasi Masa depan Kepada ayah Dan ibu, Ayah tidak akan Meninggal Secepat Ini. Kirana: Tapi aku kan... Sandra : (Langsung menyubit dan Memolototi Kirana agar dia diam).. Bu Lusi : Kamu kemana saja Kirana.? Sandra : Dia Seharian ini keluar Rumah Bu untuk main bersama anak" Kumuh di pasar itu (Dekat rumah) Bu Lusi : Kalau saja kamu ada, pasti ayah kalian tidak akan celaka seperti ini, ibu kecewa Sama kamu Kirana. ibu yang selalu menyayangimu , dan Selalu berharap kamu bisa melindungi keluarga ini Dari orang jahat Dengan kemampuan mu itu . Tapi apa, kamu Malah memilih Pergi bermain Bersama teman teman Pengemis kamu itu ... Sejak Saat Itu Kirana Di benci Bu Lusi, Dan Sandra lah yang berkuasa di dalam rumah itu. Dan kabar Mengenai Ayah mereka Tak lagi di temukan Oleh Timsar Karena Semua Telah menjadi Abu... Beberapa Tahun kemudian.. "KELUAR! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG JUGA! DASAR GADIS GILA PEMBAWA SIAL!" Suara jeritan Sandra menggema keras memenuhi seluruh ruangan besar itu. Gadis itu berdiri di hadapanku dengan wajah merah padam menahan amarah. Tangannya yang memakai cincin berlian berkilauan menunjuk tepat ke arah wajahku dengan kasar dan penuh kebencian. Di belakangnya, Bu Lusi, wanita yang aku panggil Ibu Angkat, berdiri dengan wajah sinis dan jijik, sama sekali tidak berniat membela aku. Aku, Kirana, berdiri diam di dekat pintu dengan tangan saling meremas di depan d**a. Tubuhku yang kurus dan berpakaian sederhana sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena rasa sakit yang selalu berulang kali aku terima di rumah ini. "San... dengarkan aku dulu..." ucapku pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tidak bermaksud buruk. Tadi saat aku menyapu lantai dan tidak sengaja menyentuh tas tanganmu itu... di kepalaku tiba-tiba tergambar kejadian nanti sore. Kamu akan pergi naik mobil bersama teman-temanmu, kan? Akan ada kecelakaan, Sandra. Ban mobil akan pecah, kalian akan terluka parah... tolong jangan pergi sore ini. Demi Tuhan, aku melihatnya dengan sangat jelas..." "DIAM! KAU DIAM SAJA!" potong Sandra dengan keras. Ia menginjak lantai dengan sepatu hak tingginya yang mahal, lalu berjalan mendekat mendorong bahuku hingga aku terhuyung ke belakang. "Kau selalu saja begitu! Selalu mengomel soal melihat ini, melihat itu, ada kecelakaan, ada bahaya! Kau pikir kau peramal? Kau pikir kau dewi? Dasar gadis tidak tahu diri! Kau cuma anak yatim piatu yang beruntung dirawat Ibu! Kau cuma pembantu di rumah ini! Jangan bermimpi kau bisa menakut-nakuti aku dengan omong kosong gilamu itu!" Dan kemampuanku ini... anugerah yang dianggap kutukan. Sejak kecil, setiap kali aku menyentuh sesuatu atau menatap mata seseorang, gambaran masa depan langsung masuk ke otakku. Aku bisa tahu nasib mereka. Tapi setiap kali aku memberitahu demi kebaikan, aku selalu dimaki, ditampar, dan disebut gila. "Ibu... Kirana tidak gila..." jawabku lirih, berusaha membela diri. "Kirana memang melihatnya. Nanti sore Sandra berbahaya. Tolong percaya Kirana sekali saja..." "PERGI!" teriak Bu Lusi sambil menunjuk pintu keluar. "Pergi ke dapur! Jangan tunjukkan wajahmu di depan kami lagi! Dan ingat, jangan pernah bicara soal hal-hal aneh itu lagi, atau aku akan usir kau ke jalanan sekarang juga!" Aku mengangguk pasrah, lalu berbalik badan berjalan keluar dari kamar mewah itu. Di belakangku, aku masih bisa mendengar suara cekikikan Sandra yang penuh kemenangan. "Dasar gadis kampung gila," bisik Sandra dengan nada merendahkan. "Pikir dia siapa coba. Mau menakut-nakuti aku. Nanti sore aku malah akan pergi jalan-jalan naik mobil mewah sama Mas Raka. Biar dia lihat, omong kosongnya tidak ada gunanya!" Nama Raka disebut. Jantungku serasa berhenti berdetak sejenak. Pria itu... Raka. Pria yang diam-diam aku kagumi dan cintai. Pria yang menjadi impian semua wanita di kota ini. Tampan, kaya raya, cerdas, dan dingin. Dia adalah teman dekat Sandra. Sering datang ke rumah ini, duduk di ruang tamu, tertawa bersama Sandra dan Bu Lusi. Dan setiap kali Raka datang, aku selalu bersembunyi di sudut ruangan atau di balik pintu dapur. Bukan karena aku tidak ingin bertemu, tapi karena aku tahu... di mata Raka, aku hanyalah debu. Gadis miskin, berpakaian lusuh, pembantu rumah tangga yang aneh dan gila. Siang itu, seperti biasa, Raka datang. Mobil sedan hitam mewah terparkir di halaman rumah. Aku melihatnya dari balik jendela dapur. Raka turun dengan kemeja rapi, rambut tersisir indah, wajahnya tampan sekali. Sandra langsung berlari menyambutnya dengan senyum paling manis, merangkul lengan Raka dengan akrab. "Mas Raka! Lama sekali tidak datang!" seru Sandra manja. "Aku sudah siap lho. Kita jalan-jalan ya sore ini. Ada teman-teman juga, kita pakai mobil baru Ayah ya, nyaman banget lho!" Raka tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat jantungku berdebar. "Siap, Sandra. Aku sudah bilang ke Ayah, aku akan bawa mobil itu. Tenang saja, aku yang menyetir, aman." Aku mendengar percakapan itu dari dapur. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhku. Ingatan gambaran masa depan itu kembali berputar di kepalaku dengan sangat jelas: Mobil melaju kencang, tiba-tiba ban depan meledak, mobil oleng, menabrak pembatas jalan, kaca pecah, darah... dan Raka ada di dalamnya. Bahaya itu bukan cuma untuk Sandra, tapi untuk Raka juga. Aku tidak peduli lagi kalau aku dimaki atau dipukul. Aku harus memberitahu. Aku harus selamatkan mereka, terutama Raka. Aku berlari keluar dapur, masuk ke ruang tamu dengan napas terengah-engah. Kehadiranku langsung membuat Sandra dan Bu Lusi menatap tajam, sementara Raka menoleh dengan tatapan kaget dan sedikit jijik melihatku yang berpakaian sederhana dan agak kotor kena debu dapur. "Kirana? Apa kau lakukan di sini? Siapa suruh kau masuk ke ruang tamu saat ada tamu?!" bentak Bu Lusi langsung. Aku mengabaikan kemarahan Bu Lusi. Aku menatap lurus ke arah Raka. Mataku bertemu dengan manik matanya yang hitam dan tajam. Dan saat itu juga, gambaran itu makin nyata, makin jelas, makin mengerikan. "Mas Raka..." panggilku pelan namun tegas. Suaraku bergetar karena gugup dan takut. "Tolong... jangan menyetir sore ini. Tolong jangan pergi naik mobil itu. Aku melihatnya... ban mobil itu rusak tersembunyi. Nanti sore pukul empat, saat kalian lewat tikungan tajam di bukit, ban itu akan pecah. Akan ada kecelakaan parah. Tolong percaya aku, Mas. Aku tidak pernah salah melihat." Suasana ruang tamu seketika hening total. Raka menatapku lekat-lekat, matanya penuh tanda tanya dan rasa tidak percaya. Lalu perlahan, dia mengerutkan kening dan tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin dan meremehkan. "Kau?" ucap Raka pelan, suaranya rendah namun cukup jelas terdengar. "Kau gadis yang sering dikatakan Sandra itu ya? Gadis aneh yang suka bicara halusinasi? Kau bilang kau bisa melihat masa depan?" Aku mengangguk pelan. "Benar, Mas. Kirana bisa. Kirana cuma mau mengingatkan demi keselamatan Mas dan Sandra." Raka bangkit berdiri, merapikan ujung kemejanya dengan tenang, lalu menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuat hatiku remuk redam. Pandangan yang sama seperti orang melihat serangga kecil. "Dengar ya, Kirana," ucap Raka tegas dan dingin. "Aku tidak percaya takhayul. Aku tidak percaya hal gila seperti itu. Masa depan ditentukan oleh usaha, bukan oleh mata ajaibmu itu. Kau cuma gadis miskin, tidak berpendidikan, dan rupanya juga tidak waras. Jangan pernah kau mendoakan aku celaka. Kau pikir siapa kau berani-beraninya menakut-nakuti aku? Kau cuma pembantu di rumah ini. Ingat posisimu." "Mas Raka... aku tidak mendoakan... aku melihatnya nyata..." aku mencoba menjelaskan lagi, air mata mulai menetes tak tertahankan. "CUKUP!" potong Sandra keras sambil berdiri di samping Raka, memeluk lengannya seolah menandakan bahwa hanya dia yang pantas di sana. "Kau memang gila, Kirana! Kau iri kan melihat aku dan Mas Raka bahagia? Kau iri karena kau miskin dan jelek, sedangkan aku kaya dan cantik! Kau cuma mau bikin kami takut supaya kami tidak pergi bersenang-senang! Dasar gadis jahat, hati busuk!" Bu Lusi langsung menarik lenganku dengan kasar, mencengkeram kulitku sampai terasa perih. "Keluar kau! Keluar sekarang juga! Jangan bikin malu kami lagi di depan Mas Raka! Kau ini aib!" Aku ditarik paksa keluar ruangan, didorong jatuh ke teras depan, lalu pintu kaca besar itu ditutup dan dikunci rapat di hadapanku. Dari balik kaca, aku melihat mereka tertawa, bercanda, seolah-olah aku tidak pernah ada. Raka tersenyum manis pada Sandra, senyum yang tidak pernah dia berikan padaku. Aku bangkit berdiri perlahan, membersihkan debu di lututku yang sakit jatuh tadi. Aku menatap langit yang mulai mendung. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang. Masih ada dua jam lagi sebelum nasib itu terjadi. Aku berjalan pelan menuju halaman depan, duduk sendirian di bangku tua di bawah pohon besar. Di dalam hatiku, aku berbisik lirih sambil menatap pintu rumah itu. "Tuhan... Kirana sudah bilang. Kirana sudah mengingatkan. Tapi mereka menutup mata dan telinga. Kalau nanti pukul empat sore benar-benar terjadi kecelakaan... kalau nanti darah benar-benar tumpah... semoga mereka selamat. Dan semoga... setelah kejadian itu, mereka sadar. Bahwa gadis miskin, gadis pembantu, gadis yang mereka sebut gila ini... adalah satu-satunya orang yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa." Pukul empat sore tepat... Terdengar suara gemuruh keras dari arah jalan raya, disusul suara gesekan ban yang memekakkan telinga, dan diikuti bunyi benturan keras yang menggetarkan tanah. Tak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans dan teriakan histeris orang-orang. Dari balik jendela rumah, aku melihat Bu Lusi pingsan, Sandra berjalan tertatih-tatih dengan wajah penuh luka dan air mata, dan Raka dibawa keluar dari mobil yang sudah penyok parah dengan wajah pucat dan tangan yang berdarah. Semua orang kaget, panik, dan bingung. Hanya aku yang duduk diam di sudut halaman, menatap mereka dengan pandangan sedih namun penuh kepastian. Mulai hari ini, hidupku dan hidup mereka akan berubah total. Saat mereka sadar bahwa apa yang aku katakan selalu benar... saat mereka tahu bahwa aku memegang kunci masa depan mereka... barulah mereka sadar betapa besar kesalahan mereka telah meremehkanku. Dan saat itu tiba, aku tidak akan lagi menjadi gadis penakut yang bisa diinjak-injak. Aku akan menjadi Kirana, Wanita yang Bisa Melihat Masa Depan, wanita yang akan mereka mohon-mohon untuk menolong mereka. LENTERA PIJAR MEDIA (Karya asli, terbit di berbagai platform)

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
717.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
955.3K
bc

A Warrior's Second Chance

read
344.8K
bc

Not just, the Beta

read
341.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook