MENYATAKAN CINTA

1545 Words
Ruang makan Puri Greenland "Selamat pagi Dad" Adel mengecup pipi tuan Wintama "Pagi Mom..." Adel juga mengecup pipi Nyonya Sovia "Pagi sayang, nyenyak tidurnya?" Tanya Tuan Wintama yang sedang menyesap kopi "Uumm" Jawab Adel yang sedang menguyah roti gandum dan alpukat "Apa Dante yang menjemputmu?" Tanya Mom Sovia "Yuppp mom" tak lama terdengar klakson mobil Dante turun dari mobil Adelia disapa bi Rum terlihat bingung dari sorot matanya. "Ternyata mobil nona Adel dibawa Tuan Alexander?" "Hhmm" Jawab Dante memasuki rumah Adel "Selamat pagi Tuan dan Nyonya Wintama" Sapa Alex saat melangkahkan kakinya kedalam ruang makan dengan meja bundar panjang yang dapat menampung lebih dari sepuluh orang. "Kau sudah datang Dante, Mari ikutlah sarapan" Jawab mom Sovia "Terima kasih atas tawarannya nyonya Wintama" Tolak halus Alex bukan tak menghargai namun takut terlambat masuk kekampus. "Baiklah" Adel buru-buru menyudahi sarapannya dan cepat meneguk s**u hangat lalu mengelap bibirnya dengan serbet karena kedatangan Dante "Sudah selesai Adelia?" "Sudah" Adel menyambar tas memasukkan ponselnya kedalam tas. "Permisi tuan nyonya Wintama " Dante membungkukkan badannya menyalami kedua orang tua Adelia "Berhati-hatilah kalian" Tegur mom Sovia pada anak gadisnya dan Dante yang berjalan kearah pintu utama puri. "Baik nyonya aku akun mengingat nasehatmu" sahut Dante *** Keduanya masuk mobil melaju meninggalkan kediaman keluarga Adelia. Didalam mobil saat itu "Dante sarapanmu sandwich smoked beef, aku tau pasti kau belum sarapan. Adelia memberikan kotak bekal kepanggkuan Dante "Thank you chef Adelia" "Sama-sama tuan muda Alexander" "Terima kasih sudah mau mendengarkan lagu baruku kemarin" Dante melirik sekilas pada pergelangan tangan Adel ada garis sedikit kemerahan disana. Dia tak dapat menebak bekas apa itu. Mungkin terkena sesuatu saat memasak batinnya mengingat Adel seorang calon chef. "Ada apa dengan tanganmu, Apakah itu baik-baik saja" Alex menunjuk bekas kemerahan dilengan Adel. "Oohhh in__ Bukan hal mengkhawatirkan" "Sudah diobati?" "sudah kemarin" *** Tak butuh waktu lama mobil yang dikemudikan Dante sampai di kampus tempat mereka menimba ilmu. Keduanya turun jalan bersisian menuju fakultas masing-masing. Di saat yang bersamaan sepasang mata seperti mata elang menatap kearah mereka semakin mendekat. "Ikut aku ada hal yang perlu kita bicarakan" Eldrian menatap Dante tapi sebenarnya berbicara ada Adelia Dante yang paham tentang itu langsung berpamitan pada Adelia tak lupa mengucapkan terima kasih atas bekal sarapan. "Thanks for this" Adelia mengangkat kotak bekal. Adelia menaikkan kedua alisnya tanda setuju. Ternyata hal itu membuat d**a Eldrian seketika rasa terbakar. "Buatku mana? Kenapa balok es itu yang selalu kamu buatkan sarapan.." Cerca Eldrian "Eeeiitttssss tapi kamu gak perlu capek-capek masak buat aku mulai besok kamu harus sarapan, makan siang, Dan makan malam bareng aku" Eldrian mengedipkan matanya menggoda Adel "Maksud kamu apa Eldrian, Dan kamu katakan ada yang mau dibicarakan bisa jelaskan sekarang?" Tanya Adel "Nanti siang aku mau ngajak kamu ke sesuatu tempat" Terang Eldrian menatap lembut Adel. Raut kebingungan tergambar diwajah Adelia, Apa ada yang salah dengan Eldrian kenapa tiba-tiba jadi selembut ini padahal kemarin-kemarin suka maksa dan arogan. "Ada yang salah dengan sikap Eldrian" Batin Adel "O_Oke waktuku siang ini kosong tak ada kegiatan apapun" Jawab Adel "Bolehkah aku mengantarkanmu?" Tanya Eldrian yang masih terus menatap Adel "Eeemmm aku rasa tak masalah dengan itu" Angguk Adel kemudian jalan menuju lift "Ma__maaf.." Eldrian terbata-bata melihat bekas cengkraman dilengan Adel yang masih menyisakan garis kemerahan manik mata menyiratkan penyesalan. "Hhhmmmm" Adel hanya menghela nafas Eldrian sangat berambisi menjadikan Adelia pacarnya, Padahal banyak perempuan yang sering jalan dengannya. Hanya gadis bermata indah bibir dan pipi merona itu seakan sudah memenuhi ruang dihatinya, penolakan Adel dulu tak membuatnya kecewa justru semakin semangat untuk meluluhkan hati seorang Adelia Wintama. *** Kelas Adel sudah berakhir, Adelia memasukan buku-buku kedalam tasnya saat melangkah keluar Dreettt.....dreetttt.... Tanda pesan masuk diponselnya "Aku menunggu didepan" Adelia membalas pesan Eldrian dengan emoticon ibu jari mengacungkan keatas Eldrian yang menunggu Adel didepan fakultas Adel merasakan jantungnya berdegub kencang berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang. "Aarrggghhh...__Kenapa gini banget sih please cuma seorang Adelia, Come on Eldrian banyak gadis yang tak pernah menolak pesonamu" Gumam kesal Eldrian pada diri sendiri Adelia berjalan mendekat tempat Eldrian berdiri saat ini, sementara itu nafas Eldrian semakin tidak beraturan. "Kita mau kemana?" Tegas Adel yang tak ingin berlama-lama "Ke sesuatu tempat" Jawab Eldrian pelan tak berani menatap Adel dadanya terus bergemuruh "Iya dima___" Belum selesai Adel telunjuk Eldrian ditempelkan tepat dibibirnya. "Please sekali aja percaya dan ikut aku" Desak Eldrian menarik lembut tangan Adel berjalan ke mobilnya Dengan terpaksa Adel mengikuti ke tempat tujuan. Bertanya dalam hati kemana Eldrian membawanya. mengapa manis sekali perlakuan hari ini. Adelia merasakan hangat dikedua pipi bulatnya. *** Memasuki sebuah resto terkenal berkonsep outdoor, Adelia memperlambat langkahnya. "Sekedar makan kenapa harus kesini" Batin Adelia yang merasakan kejanggalan dengan sikap Eldrian sejak tadi pagi. Eldrian menunjuk kearah sebelah kiri, "Kamu duluan kesana ya, Aku ke toilet sebentar" Adelia jawab anggukan jalan ke meja yang dimaksud Eldrian . Setiba Adelia sontak membelalak dengan apa didepannya. Meja penuh makanan porsi buat berdua dihiasi bunga dan disampingnya ada papan besar bertulis AKU SAYANG ADELIA WINTAMA Jelas ini bukan Eldrian... Bukan...bukan mana mungkin cowok playboy cap batu yang arogan jago bela diri bisa seromantis ini. Didalam d**a Adel berkecamuk, seolah tak percaya. Seribu pertanyaan berputar dikepalanya. Belum lagi tersadar dari keterkejutan dibelakang Eldrian menghampiri ditangannya membawa sebuket mawar merah muda lalu sedikit berlutut "Maafkan aku Adelia atas semua sikapku yang membuat kamu kesal, maaf juga aku sering memaksa kamu, itu semua karena aku gak suka kamu selalu nempel dengan pria lain. Jujur aku cemburu" "huuufftt____" Adel menetralkan nafasnya "Apa semua cewek kamu rayu begini, dan harus berapa kali lagi sihhh aku ingatkan Dante bersahabat..!!" "Aku tidak sedang mengajak kamu berdebat Adelia" "Adelia Wintama aku sayang kamu, aku berharap kamu jadi milikku" Jujur sih Adelia masih syok tapi ngeliat semua yang dipersiapkan Eldrian ada rasa terharu dihati Adelia yang jual mahal padahal tak dapat menolak pesona lelaki arogan itu. "Ayo mikin Del...mikir..." Batin Adelia bingung berbicara apa gemuruh didada kian menguat. "Jasmine Adelia eum" "Jasmine Adelia___ Maukah kamu menjadi kekasihku?" Eldrian yang terkenal playboy rupanya belum pernah pacaran, Semua wanita diluar sana hanya dijadikan mainannya saja. Menunggu jawaban Adelia kini sekujur tubuhnya seperti kesemutan aliran darah terhenti. Hampir semua mata pengujung resto menatap pada Adel dan Eldrian. Mereka seolah ikut deg-degan menunggu jawaban Adel. Adelia yang grogi menarik nafas dalam "Huuhhh" Tangan Adelia meremas ujung kemejanya jawab apa batinnya Bibirnya seakan ketumpahan lem sulit untuk dibuka lidahnya keluh sulit sekali digerakkan. "Ii__iiya ma__mauu" Sontak tepuk tangan riuh ucapan selamat dari jauh yang berasal dari para pengunjung dan pegawai resto. "Congrats bro..." "so sweet..." Pasangan di meja sebelah menimpali Adelia menerima buket mawar dari tangan Eldrian. Adelia sendiri bingung kenapa mulutnya berucap demikian, "Yesss...!!!" Eldrian tertawa kecil Adelia yang pipinya semakin merona masih terpaku ditempat pertama kalinya menjalin hubungan. Eldrian menarik kursi untuk Adel. "Mari makan jangan sampai makanannya dingin" Adelia masih terdiam kaku "Kenapa kamu gak suka baby biar aku gan__" "Tidak ada masalah dengan makanan ini" Adelia memotong omongan Eldrian . Kemudian menyendokkan kentang dengan ayam panggang rempah lengkap sayuran kemulutnya menguyah perlahan. "Baby mulai besok jangan masak apapun lagi buat Dante, Aku yang sediain sarapan buat kamu" Kata Eldrian mulai posesif "Setelah ini aku antarkan kamu pulang, Mobil kamu biar nanti orang suruhanku yang bawa kerumah kamu, Setiap hari aku anter jemput" Tambah Putra sambil menyantap makanan. "Ooowwhh my god demi apa baru lima menit peraturan ditetapkan sepihak" Adelia membatin "Baby are you Ok?" Tanya Eldrian yang melihat Adel diam saja tak merespon perkataannya. "Hhhmmm I'm Ok Eldrian, Iyaaa" Menyerahkan kunci mobilnya lalu Eldrian mengangkat ponsel menekan tombol hijau lalu menempelkan ke telinganya. "Masuk" Tak lama pria bertubuh tinggi berotot diyakini Adelia pria tersebut adalah body guard berlari kecil mendekat tuannya memberikan kunci mobil Adelia padanya pengawalnya. "Antarkan mobil kekasihku" Perintah Eldrian dengan tatapan mata elangnya. "Iya tuan" Sahutnya berlalu pergi. *** Selesai makan keduanya keluar dari resto, Eldrian membukan pintu dan memasangkan seatbelt pada Adelia. Adelia masih terasa canggung dengan perhatian Eldrian. "Baby terima kasih sudah mau jadi pacarku" Eldrian menggenggam lembut jemari Adel lalu mengecup perlahan. Pipi Adelia menghangat seketika berubah merah muda, dan melepaskan perlahan genggam Eldrian "Maaf Eldrian bisa kita jalan sekarang?" "Tentu saja nona Adelia" Eldrian mencubit ujung hidung Adelia Degdegdeg Huh!!! Adelia grogi setengah mati pertama kalinya disituasi begini "Mau nonton dulu merayakan hari ini bahagia kita?" Tanya Eldrian melihat Adel yang menatap layar ponsel "Hhhmm boleh" Angguk Adel *** Bioskop Eldrian melaju mobil ke Mall turun menggandeng tangan Adelia membeli tiket nonton dan beberapa cemilan. "Kamu mau yang lain baby?" Tunjuk Eldrian pada stand makanan ditangannya kini udah ada dua botol minuman "Cukup..." Adelia memegang sekantung popcorn "I'm so happy baby" Eldrian memangkas jarak antara mereka menyentuh dagu Adelia Jantung Adelia meronta tak terkendali. "Eehhmp" Adelia berdeham demi menetralkan detak jantung yang sedari tadi serasa akan keluar dari tempatnya Adelia sedikit mundur saat nafas Eldrian terasa sangat dekat didepannya, Bahkan jemari Eldrian menyentuh ujung bibir merona gadis yang resmi menjadi pacarnya dua jam lalu. "Eldrian maaf" Desis Adel yang kini menegakkan punggungnya agar duduk lebih nyaman "Shit.!!" Mengusap keras rambutnya maki Eldrian dalam hati "Maafkan aku baby terlalu terburu-buru aku sangat bahagia hingga tak tahu bagaimana menyikapinya" "Ayolah Eldrian Wijaya sabar sedikit nanti kalo dia sudah nyaman pasti akan datang sendiri kepangkuanmu" Batinnya Adelia yang sepanjang film tak sepenuhnya mengikuti jalan ceritanya. pikiran gadis berambut panjang masih berkutit tentang yang saat ini terjadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD