****
Tiga puluh menit mereka tiba dilobby gedung mewah berlantai dua puluh Axan Hotel milik keluarga Dante.
Dante memberikan kunci mobil pada petugas vallet, sebelumnya membukakan pintu mobil buat Adel.
"Aku lapar kamu mau ikut?"
Tanya Dante pada Adelia yang tengah fokus kelayar ponselnya
"Ya, Tentu saja aku mau memangnya hanya kamu yang lapar..!!" Nyinyir Adel
Seketika tersadar ambigu pertanyaan Dante segera Adelia membetulkan kalimatnya
"Maksudnya aku mau makan, Perutku butuh nutrisi supaya kuat menghadapi manusia es" Tunjuk Adelia arah Dante
Dante hanya menggeleng kepalanya tersenyum mengajak Adelia ke Resto Axan Hotel di lantai dasar.
Dante mengangkat tangan memanggil pelayan memberikan daftar menu.
Terbiasa dengan wanita yang pertama, Dante memberikan daftar menu ke Adelia.
"Tuna Salad minum Ice Lemon Tea no sugar"
Adelia mengembalikan daftar menu pada Dante yang menatap tajam padanya.
"Masih tidak merubah salah satu dari kebiasaan burukmu"
"Chiken Cordon blue, Americano"
Pelayan mencatat pesanan mengulang kembali agar tidak terjadi kesalahan.
Selang kurang dari beberapa menit menunggu hidangan disajikan Dante dan Adelia menyantap makan siang mereka. Tak ada pembicaraan diantara keduanya hanya suara dengtingan sendok beradu piring.
Selesai makan siang Dante menyerahkan black card member miliknya pada pelayan dan keduanya bergegas untuk naik menuju lantai paling atas tak lain merupakan kamar pribadi Dante.
Sejak Sekolah menengah atas Dante tinggal terpisah dengan orang tuanya alasan dia butuh privasi. Adelia sudah beberapa kali diajak ketempat itu.
***
Depan lift
"Selamat siang Tuan muda Alexander.. nona Wintama.."
Sapa ramah salah satu pegawai yang sedang berdiri didepan menenteng kopi ditangan kirinya.
Dante dan Adelia mengangguk bersama
"Yoga papa ada dikantor?
Tanya Dante pada pegawai kepercayaan papinya
"Belum kembali dari meeting diluar Tuan muda" Jawab yoga
"Hmm, Oke" Jawab dingin Dante menekan tombol lift menunggu Adel masuk
Keduanya masuk, Tanpa menunggu tuan rumah mempersilakan Adelia membanting dirinya di sofa empuk.
"Aaahhh lelahnya"
Seru Adelia yang merebahkan punggung di sofa sembari melihat Dante jalan dari arah dapur membawa dua gelas berisi s**u cokelat .
Dante yang melihat tingkah Adel hanya tersenyum.
"Dasar tamu tak tahu etika" Desis Dante
"Maaf tuan muda Alexander bukankah anda yang mengundang saya?" Adel melotot protes
Dante menganggap ekspresi Adel sangat lucu tertawa kecil mengelus rambut Adel. Seketika ditepis oleh Adelia.
Lalu Dante mengajak Adel masuk keruang mini studionya, Menarik kursi tuk Adel duduk disebelahnya dan memasangkan headphone ke kuping gadis berambut panjang berbulu mata lentik untuk mendengarkan lagu terbaru ciptaannya yang dinyanyikan oleh Dante sendiri.
Dante bukanlah penyanyi dia adalah seorang Pianis muda berbakat. Sering menang saat mengikuti perlombaan bergengsi bahkan terkadang diundang dibeberapa acara besar.
Hanya pada Adelia Dante berani memperdengarkan dia bernyanyi.
Gadis berwajah Oriental yang dikenalnya dari dia berumur tiga tahun selalu menjadi tempat ternyamannya. Mereka berdua sama-sama anak tunggal pewaris perusahaan ayah masing-masing.
Keduanya adalah anak pebisnis paling berpengaruh dikota XXX namun tak satupun diantara mereka saat ini berminat ikut terjun membantu bisnis keluarga masing-masing. namun tak terelakkan nantinya mengingat mereka adalah pewaris tunggal.
Adelia mencerna kata demi kata lirik lagu tersebut rasanya sedikit aneh. Namum mengabaikan saja menikmati sampai selesai.
"Bagus banget enak didengar" Kata Adel meletakkan headphone kembali ke meja didepannya
"Aku tak meminta pendapatmu"
"Bukan terlihat aneh lantas untuk apa diperdengarkan padaku...!!"
Adelia terkaget heran
"Hanya ingin saja"
Jawab Dante dengan ekspresi datarnya
"Aku hanya memastikan apa telingamu masih berfungsi dengan baik"
Imbuh Dante menatap laptop didepannya
"Hahahaha...Sejak kapan Tuan muda Alexander manusia es bisa bercanda"
Ejek Adelia pindah duduk di sofa dan diikuti Dante duduk disebelahnya
"Oohh ayolah Adelia bisa kau tak terus mengatakan aku Es!!"
"Kau memang seperti es, Cocoknya tersimpan didapurku"
"Menurutnya bagaimana lagunya?"
"Bagus.. Kalau berminat menjadikan aku model video clipnya mungkin akan aku pertimbangkan"
Adel mengerling pada Dante lalu tertawa.
Dante melihat Adel tertawa lepas tanpa sadar ikut tersenyum disudut bibirnya, ada rasa hangat dihati ada rasa yang dia sendiri tidak mengerti setiap melihat tawa dari sahabatnya itu.
Dante melirik pada pergelangan tangannya
"Sebentar petang mari aku antar kau pulang" Ajak Dante
"Gak salah tuan es? Trus nanti aku antar kamu balik lagi kesini.. Begitu seterusnya sampai lebaran tahun depan" Cicih Adelia
"Hhhmmm kau tak bermaksud mengusirku kan?" Tambah Adelia
"Tidak__ Aku hanya tak ingin Tuan dan nyonya Wintama khawatir" jawab datar Dante
"Bolehkah lebih lama aku masih nyaman berada disini dirumah membosankan"
Jelas Adel sembari membaringkan tubuh di sofa.
"Hmm"
Tak terasa rupanya Adelia tertidur begitu membuka mata hari sudah gelap, Tadinya Dante duduk diseberang kini duduk merapatkan kedua lututnya mendekati posisi Adelia
"Tidurnya seperti bayi"
Dante senyum menggeleng membenarkan posisi Adelia menaruh bantal dibawah kepala agar lebih nyaman.
Matahari mulai menghilang tergantikan sinar bulan, lampu-lampu menerangi sudut-sudut kota. Keindahan pemandangan malam itu semakin bertambah.
"Eerrrgghh" Adelia menggeliat perlahan membuka pelupuk matanya.
"Kau terbangun?" Tanya Dante
"Uumm ma__af Dante aku ketiduran"
Malu-malu Adel mengusap lembut matanya karena kelelahan sampai tertidur dikamar Dante pertama kalinya.
"Cuci mukamu kita turun makan malam setelah itu aku antarkan pulang"
Pinta Dante beranjak dari posisinya.
"Baiknya langsung pulang saja"
Adelia hendak menutup pintu kamar mandi.
"Aku gak mau kamu sakit karena telat makan" Jelas Dante
"Siap Mr.ice" Adelia mengerling mata
Dante sudah berganti pakaian memakai celana jeans dan kaus abu-abu menunggu Adel bersiap lalu bergegas turun untuk makan malam di restoran.
Setelah makan malam singkat kedua menuju lobby
"Terima kasih" Dante menerima kunci dari petugas vallet
Mau tak mau Adel menerima tawaran Alex mengantarnya pulang, dan mobil Adelia dibawa Dante.
"Besok aku jemput"
"Siiaappp Mr.Ice" Canda Adel lalu melambaikan tangan pada Dante.
***
Puri Greenland kediaman Mr. Lee Wintama
"Dante gak mampir?"
Tuan Wintama yang duduk diruang tengah melihat Adel datang sendirian setelah mendengar deru mobil
"Gak Dad langsung sudah larut malam"
"Kamu pacaran sama Dante?"
Tanya tuan Wintama penasaran dengan kedekatan Adelia dan Dante lebih dari sekedar sahabat masa kecil
"Haha___hahaaa no Dad aku sama Dante sahabat dari lama"
Adelia ragu-ragu menjawab takut Daddynya salah paham dengan kedekatan dirinya dan Dante selama ini.
"Sahabat lalu jatuh cinta__ Maybe"
Tuan Wintama menaikan sebelah alisnya.
"Dante calon suami yang sempurna"
Tambah Mr.Wintama yang kagum pada tuan muda pewaris Axan Hotel itu. Dikarenakan lingkungan para bangsawan sangatlah terbatas, Sehingga mereka takkan sembarang memilih pasangan.
"Daddy juga mengenal baik keluarga mereka"
Jelas Tuan Wintama yang mulai memikirkan masa depan putri tercintanya yang kini beranjak dewasa.
"Dad aku dan Dante sebatas sahabat"
Tegas Adelia yang tak mengerti apa yang dipikiran CEO Wins corporation itu
"Sayang... Biarkan Adelia mandi dahulu sudah malam"
Bela mom Sovia yang melihat raut kelelahan diwajah anak kesayangannya.
mom Sovia menggeleng kepala dan tersenyum.
"Adelia sudah makan malam sayang?" Tanya mom Sovia
"Sudah mom"
Adelia yang salah tingkah memilih mendiamkan perkataan Daddy lalu masuk menaiki tangga menuju kekamarnya.
Masuk kamar mandi, Memutar shower air hangat membersih seluruh badannya yang sudah lelah seharian.
aroma melati dari sabunnya merilekskan kembali otot-otot yang kaku.
Setelah itu memakai bathrobe melangkah keluar menuju lemari mencari gaun tidur.
Lalu merebahkan diri menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
***
Toktok...
Pintu kamar diketuk, Sang empunya menjawab
"Iya masuk" Adelia mencoba membuka matanya
"Selamat pagi, Nona muda"
Sapa Bi Rum berjalan menyibakkan tirai agar sinar mentari masuk kedalam kamar yang didekorasi minimalis d******i biru.
"Selamat pagi" Suara parau Adel kembali menarik selimut karena dinginnya udara pagi.