PUTUS?

1001 Words
*** Pagi hari Puri Greenland.... Adelia diantarkan Dante pulang ke puri, Tuan Wintama dan nyonya Sovia tengah berbincang di diruang keluarga. Adelia yang dipapah Dante menyapa pemilik rumah. "Selamat pagi Tuan Wintama nyonya Sovia maaf sudah menganggu waktu bersantai kalian" sapa Dante membungkukkan badannya "Dante masuklah" ajak nyonya Sovia "Aku mengantarkan Adelia maaf bila membuat kalian khawatir tadi malam" "terima kasih sudah merepotkanmu Dante" sela Wintama melihat lekat pada pasangan muda didepan saling merangkul satu sama lain. Nyonya Sovia melihat keganjilan pada Adelia. "apa kau terluka sayang" nyonya Sovia berdiri mengamati putri dari rambut sampai kaki. "bukan hal serius mom" Adelia bingung menjelaskan keadaan yang dialaminya kemarin dirinya sendiri masih sangat syok tak tahu mulai berbicara dari mana mengawali ceritanya. "Tenanglah nyonya hanya luka kecil sudah diperiksa dokter" Dante mencoba mencairkan suasana "Istirahatlah sayang kau terlihat sangat pucat, Dante bisa kau mengantarkan Adeliaku kekamarnya" pinta nyonya Sovia. "tentu nyonya" Kamar Adelia yang terletak dilantai dua menyusahkan langkahnya lukanya masih basah. Dante sangat peka tanpa aba-aba menggendong Adelia naik kekamarnya. Tuan Wintama dan nyonya Sovia tersenyum simpul. "aahh sayang aku ingat masa muda kita" nyonya Sovia menggenggam jemari suaminya Tuan Wintama tertawa kecil kembali membaca berita ditabletnya. Adelia didudukan dibibir ranjang memukul d**a bidang Dante. "apa yang kau lakukan" "aku membantumu" "dengan menggendong didepan orang tuaku!!!" Adelia berbicara pelan takut pelayan mendengar. "hmm" "Kau semakin kurang ajar Dante!!! keluar dari kamarku" Adelia kesal setengah mati lagi-lagi Dante berbuat sesuka hatinya. "begini caramu mengucapkan terima kasih, mengusirku dari kamarmu" Gaun Adelia tersingkap menampakkan sepasang paha putih bersih sangat terawat, tatapan Dante langsung tertuju disana. Adelia malu-malu menutup cepat. "aku sudah melihatnya" "DANTE!!!" "hmm" "terima kasih pulanglah aku ingin melanjutkan istirahat" "hmm" Dante berpamitan pada tuan rumah dan kembali ke Hotel mengurus pekerjaan yang mulai ditanganinya sebentar lagi sepenuhnya beralih dibawah kuasanya. *** Eldrian menerima laporan bahwa Adelia keluar dari Axan Hotel pagi-pagi sekali serta bukti foto Dante dan Adelia menaiki mobil yang sama menuju puri Greenland. "aarrrgggghhh sial!!!!" "semalaman mengabaikanku rupanya berduaan dengan si bre****k" "awas saja Adelia kau mencoba bermain dibelakangku!!!" Prank... Eldrian membanting gelas kedinding, cermin dikamarnya pun jadi sasaran amukan dihamtam dengan stik golf. pelayan dan pengawal tak ada yang berani mendekat saat ini suasana hati tuannya kacau. keesokan harinya Adelia berangkat kekampus demam sudah reda sakit dikaki juga lumayan berkurang meski jalannya sedikit diperlambat. Eldrian yang menunggu kedatangan Adelia sudah lebih sepuluh gelas dipecahkannya. pengawal yang mengantarkan minumpun jadi sasaran empuk sudut bibir mereka ada sisa darah mengering. salah satu pengawal membisikkan Adelia sudah tiba dikampus. "Good bawa dia kesini" perintah intimidasi tak terbantahkan "maaf nona nona anda diminta menemui tuan Eldrian dilapangan basket" "katakan padanya aku tidak mau" tolak Adel enggan bertemu El sakit hati atas perselingkuhan El masih terpatri dalam benaknya. "ini perintah nona muda" "aku bukan bawahannya!!!" "jika nona muda tidak mau maka kami yang jadi bantalan olahraga tuan El" pengawal tersebut sangat yakin Adelia berhati lembut takkan tega melihat orang tersakiti jadi itu alasan yang tepat membujuk agar mau bertemu Eldrian. "baik sebentar saja" Adelia mendesah kecewa *** "Baby aku merindukanmu" Eldrian memeluk Adelia "singkirkan tangan kotormu itu" "kotor?? tanganku bersih aku mencucinya dengan sabun terbaik dan aku sudah mandi baby" "Cukup cepat apa ingin kau bicarakan" "duduklah baby, seharian tidak melihatmu aku begitu merindukanmu. aroma tubuhmu sangat memabukkan" "simpan rayuanmu tuk wanita-wanita diluar sana" "apa yang kau katakan baby?" "aku mau kita putus!!!" "Shut up!!!!" Eldrian menendang kursi "aku pertegas sekali lagi kita putus" "kau sudah menguji kesabaranku Adelia, aku berbaik hati menerima perselingkuhanmu dengan Dante, diam-diam kau merayunya hah!" "aku dan Dante tak melakukan apapun" "Cih!!! mana ada wanita dan pria bermalam tidak saling menghangatkan, kau seperti jalang. aku bisa memuaskanmu kau mau mencobanya" PLAK!! sebuah tamparan keras mendarat dipipi Eldrian rasa panas menjalar keseluruh tubuhnya. "jaga ucapanmu Eldrian" "selama berpacaran kau bahkan tidak mengizinkan aku menyentuhmu, sekarang kau bermalam dengan pria lain apa namanya kalau bukan jalang, kau butuh aku menghangatkanmu baby" "Eldrian!" "hah!! sudah berapa kali tubuh indahmu ini dijamah Dante, kau bahkan terang-terangan menyingkirkan tanganku saat merabamu." "Eldrian!!!" lirih suara Adelia airmatanya mengalir "hapus airmatamu baby, puaskan aku seperti yang kau lakukan pada Dante" "aku membencimu, dari awal aku membencimu, sampai kapanpun aku tetap membenci dirimu." "cihhh!!! w************n" tangis Adelia kini pecah terdengar pilu bagaimana tidak Eldrian yang jelas-jelas ketahuan b******u mesra dengan Airin malah tuduhan itu kini diarahkan pada. Adelia kembali terhempas ke lantai tak mampu lagi menompang tubuhnya hatinya hancur berkeping-keping. tuduhan Eldrian menyiksa batin dan mentalnya. ia tak kuasa membalas semua ucapan El lidahnya kelu dituduhkan perempuan murahan hanya bisa menangis sejadi-jadinya. "baby... bangunlah lihat aku, apa aku buruk dimatamu?" "buruk sangat buruk" "kau menangis membela teman yang menjadi selingkuhanmu itu" "cukup Eldrian... aku melihat dengan mata kepalaku kau dan airin" Eldrian terbisu kaku. "kenapa sekarang kau diam, sudah puas menghinaku..padahal perbuatanmu menjijikkan" "aku hanya bersenang-senang" Eldrian membela diri diposisi terpojok. "bersenang-senang dengan wanita lain" "aku normal kau tidak bisa memenuhi permintaanku, dimana salahku" "salah? kau tidak salah,,, aku yang salah. aku bodoh mau menjadi kekasih seorang maniak s*x sepertimu" "ayo baby itu pelampiasan sesaat aku hanya mencintaimu" "cinta?" "eemmm" "kau terobsesi denganku bukan CINTA" "kita akhiri semua" "baby... hei" "stop memanggilku BABY aku bukan anakmu" "lupakan soal tadi dan kemarin aku mau kau menemaniku makan" "jangan buat aku semakin muak padamu Eldrian, mulai sekarang berhenti menggangguku" "no baby, kita anggap ini impas emm, kau bersama Dante dan aku airin itu kesalahan" Adelia tak ingin berkompromi rasa sakitnya atas penghianatan Eldrian terus membayang. akal sehatnya sering dikesampingkan semenjak bersama pria itu. kerap kali kekerasan fisik diterimanya. "baby kita perbaiki hubungan ini, besok kita kencan um?" "obsesi terlalu tinggi Eldrian" "what ever, aku mencintaimu aku membutuhkanmu baby" "kita sudah selesai Eldrian tolong pahami itu" Adelia pergi berlama ditempat ini semakin menekan mentalnya. dia berlari tanpa mempedulikan siapapun diujung koridor menabrak seseorang. lalu didorongnya orang itu kembali berlari. dua langkah kaki menjauh tubuhnya ditarik dipeluk erat walaupun meronta. "siapa kau___" Adelia mengenali aroma ini lalu melingkarkan lengan kecilnya pada pinggang bersandar didada lebar yang hangat saat ini menjadi tempat ternyaman menumpahkan semua tangisnya. terisak dalam pelukan pemilik aroma khas itu sejenak melupakan rasa sakit dan kecewa yang berkecamuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD