***
"sudah?"
Adelia melepaskan pelukannya baju Dante telah basah karena airmatanya.
"mengapa gadis sering menangis"
"aku tidak menangis"
"lalu ini?" menunjuk kemejanya
"itu__" Adelia mengigit bibirnya merasa bersalah dan malu.
"ikut" Dante menyeret Adelia yang kesusahan mengikuti langkah Dante yang lebar.
"Dante kita kemana?"
"diam" mendorong Adelia duduk disebelah kursi kemudi.
"Dante katakan kita mau kemana?"
"Dante aku turun saja mau pulang"
"cerewet!" memakaikan seatbelt Adelia
"Dante aku___"
"bisa kau diam, aku terlambat menghadiri meeting"
"aku tidak mau ikut"
"lalu?,,, kau pulang dengan wajah berantakan itu"
"eeemmmmm___"
Dante mengemudikan Bentley hitamnya diatas kecepatan rata-rata. lalu berhenti dipelataran parkir gedung Axan Grup. dengan sigap membukakan pintu sebelah kanan Adelia.
Adelia malu riasannya sudah tak berbentuk menyembunyikan wajahnya pada punggung Dante. siapapun yang melihat pasti mengira mereka pasangan kekasih. Dante tersenyum dalam hati. karena gengsinya terlalu tinggi membuang nafas kasar. masuk kedalam lift khusus membawa mereka keruang kerja Dante dan melewati beberapa orang yang keheranan.
"duduk disini jangan kemana-mana sampai aku kembali"
"eemm" Adelia mengangguk pasrah ntah kenapa menjadi penurut dan manis seperti bayi kucing.
"good"
Dante hendak mengganti kemeja kotor dengan kemeja yang baru. sengaja mengabaikan keberadaan orang lain diruangannya Dante membuka kancing kemeja mencampak sembarang tubuh atletisnya dipamerkan pada gadis yang duduk dibelakangnya. manik kecokelatan Adelia tak bergeming ditatapnya lekat punggung lebar berotot.
"apa?"
mengetahui diperhatikan oleh tamunya muncul keisengan dibenaknya menyisakan tiga kancing teratas tetap terbuka. Adelia seolah terhipnotis dalam alam pikirinnya pemandangan yang tak mungkin disia-siakan.
"ha? eum___ tidak ada" langsung mengalihkan bola matanya ke arah jendela.
"hmm"
ketidak sengajaan sesaat tadi membuat pipi keduanya semerah tomat.
"ingat jangan coba-coba keluar dari ruangan ini"
"aku paham"
"bersihkan, penampilanmu sangat menyedihkan, dasar cengeng"
Dante menunjuk pada pintu kaca disudut ruang kerjanya.
Adelia jalan kearah sana, merapikan rambut dan membasuh wajahnya di wastafel. matanya sedikit bengkak. saat keluar Dante sudah pergi lalu ia duduk di kursi semula. suasana hatinya sudah mulai tenang.
tak berapa lama pintu diketuk...
"permisi nona,mengantarkan makanan siang"
seorang wanita berpenampilan menarik dengan rambut pendek keemasan meletakan dua kotak makanan sebotol air mineral dan dua orange juice diatas meja.
"ini untuk siapa?"
tanya Adelia yang sedikit bingung datang kesini dipaksa, dan siapa wanita ini.
"ah, maaf nona, saya Felicia sekretaris tuan muda Alexander atas perintah beliau meminta saya membeli makan siang untuk nona dan tuan muda"
"Dante ada rapat"
"iya nona, tuan muda sebentar lagi selesai. saya permisi nona bila anda membutuhkan sesuatu boleh memanggil saya diluar"
"terima kasih felicia"
"baik nona"
Felicia mundur lalu menutup pintu ruang kerja atasannya,
"sejak kapan tuan Alex memasukkan gadis keruang pribadinya"
batin Felicia menaikkan bahunya acuh tak ingin ikut campur lebih lanjut.
****
Dante menyelesaikan meeting singkat dengan kontraktor pembangunan hotel dicabang salah satu kota di asia. lalu kembali keruang dimana Adelia menunggunya.
Felicia yang melihat Dante mendekat langsung berdiri memberi salam membungkuk kepalanya.
"tuan muda"
"hmm, pesananku sudah diantarkan?"
"sudah tuan, gadis___ eum maaf nona muda juga masih didalam"
"hmm, Adelia"
Dante menyebut nama agar sekretarisnya tak salah paham atau berpikir aneh sejak dipercayakan mengelola hotel ini pertama kali ada tamu diruangannya apalagi dia seorang gadis.
"baik tuan, saya akan mengingatnya"
Ceklek, knop pintu diputar...
"ah, Dante, sudah meetingmu? bisa kita makan sekarang aku sudah sangat kelaparan"
"hmm, aku tidak kaget kebiasaanmu sehabis menangis kau selalu kelaparan"
Dante duduk menjatuhkan bo**ng disebelah Adelia.
"itu___"
kedua sisi pipi bulatnya ngeblush. Adelia malu Dante masih terus mengingat perilaku anehnya sejak kecil. setiap menangis dirinya mencari Dante hanya pria itu yang paling mengerti dan sangat paham cara meredakan tangisannya.
"makan, habiskan isi kembali tenagamu tidak ada yang menjamin kau akan menangis lagi setelah ini"
Dante membuka kotak makanan yang berisikan Chiken Alfredo Pasta yang masih hangat dan semangkuk salad sayuran cukup untuk mereka berdua dan ada dua cup kecil Panna Cotta Vanilla lalu menyodorkan pada Adelia kemudian membuka yang lainnya untuk dirinya sendiri.
"aku minta maaf makan siang kita seperti ini "
Dante merasa kurang sopan menjamu tamunya dengan situasi serba terbatas didalam kantornya, bisa saja dia membawa Adelia ke Restorant kelas atas. namun urung dilakukan karena setelah ini dia kembali ada pertemuan dengan pihak design interior yang sudah ditunda sejak sepekan lalu terkait hotel dicabang baru mereka yang ingin merubah konsep dekorasi bertema lain menyesuaikan daerah dinegara beriklim tropis.
"tidak masalah, aku sudah merepotkanmu, maaf"
"hmm"
hening masing-masing dari mereka sama-sama menikmati makanan tanpa sepatah kata apapun. etika itu sudah terbentuk sedari mereka kecil.
"terima kasih"
Dante menuangkan air mineral kedalam gelas Adelia yang baru menyeka mulutnya dengan serbet.
"aku sebaiknya pulang, maaf sudah mengganggu waktu sibukmu disela padatnya pekerjaan"
Dante menatap ragu membiarkan gadis cengeng itu pergi seorang diri. mengantarkannya lebih tidak mungkin.
"nanti malam saja, aku sendiri yang akan mengantarkanmu"
perintah dingin Dante tak mau dibantah atau ada penolakan.
"ha? sungguh membosankan kalau harus sampai malam hari"
Adelia memprotes bernegosiasi. menunggu beberapa jam diruang ini tanpa melakukan apapun.
"tunggu dikamarku kau bisa beristirahat atau lanjutkan acara tangis-tangisanmu"
"mana kamarmu disini?"
Adelia menaikkan sudut bibirnya menepuk sofa panjang yang didudukinya.
lalu Dante menarik Adelia menekan sebuah tombol disamping lemari tempat buku-buku tersusun rapi, lemari bergeser kekiri muncul pintu dibelakangnya. menggeser pintu terlihat sebuah tempat tidur king size lengkap dengan selimut dan sebagainya ada juga lemari pakaian ukuran sedang beberapa pasang sepatu dan dasi tergantung.
"mau apa kita disini?"
Adelia merinding langsung teringat kejadian tempo hari Dante mengganti pakaiannya tanpa izin sekarang membawa kekamar rahasianya seketika bergedik menggeleng cepat.
"tidur" Dante menggoda Adelia yang mulai risih ntah ketakutan atau memikirkan hal jorok.
"ha?"
"kau tidur, aku melanjutkan meeting lima belas menit lagi"
"oohh"
Adelia menghela nafas lega setelah pikirannya melanglang buana.
"selain cengeng kau ternyata mes*m"
"eh!! Aku hanya takut kau kembali berbuat tidak seno**h seperti kemarin"
Adelia menutup dadanya dengan kedua tangan.
"AKU TIDAK TERTARIK"
Dante mencibir melirik ekspresi datar pada posisi tangan Adelia seketika mendapat cubitan menggelikan diperut kotak persegi enam miliknya.
"aawww"
****