***
Pria separuh baya turun dari limosin hitam memakai setelan armani menapaki ruang kerjanya langkah tegap menunjukkan kebangsawanannya, Rambut tertata rapi manik mata sipit kehitaman. Beliau adalah tuan Lee Wintama CEO Wins Corps.
"Selamat pagi tuan besar" Sapa para pegawai menyambut kedatangannya
"Cecilia apa jadwalku hari ini?"
Suara bariton sang bangsawan Wintama tanya pada sekretarisnya.
"Pukul 9 meeting dengan perusahaan dari jepang Mr.Yakimoto dan sehabis makan siang Pemilik Axan Hotel membuat janji bertemu anda tuan"
"Hhmm majukan jadwalnya aku ingin makan siang dengan pemilik Axan Hotel"
"Baik tuan akan saya infokan pada mereka perubahan jadwal"
"Pesan tempat terbaik untuk makan siangku"
"Laksanakan tuan"
Jawab menyakin sang sekretaris yang sudah 10 tahun bekerja sebagai bawahan CEO Wins Corps tersebut.
***
Gedung Axan Hotel
"Selamat pagi saya Cecilia perwakilan dari Wins Corps ingin memberitahukan pimpinan kami memajuka jadwal pada jam makan siang beliau ingin makan siang bersama pimpinan anda"
"Baik nona Cecilia akan segera saya infokan kembali setelah mendapatkan jawaban dari pimpinan kami terima kasih sebelumnya"
Tok...Tok...
"Permisi Mr.Josh"
"Masuk Amber"
"Maaf Mr.Josh baru saja saya dapat kabar dari sekretaris Wins Corps pimpinan mereka memajukan jadwal pertemuan saat makan siang apa anda bersedia?"
"Ada jadwal yang bentrok?"
"Tidak ada Mr hanya pukul 10 nanti meeting dengan pihak pemenang tender"
"Baik aku bersedia"
"Terima kasih Mr"
"Sebentar Amber siapkan hadiah tuk diberikan pada Tuan Wintama"
"Baik sesuai perintah anda Mr"
***
Redwoll Resto
"Alexander senang bertemu denganmu"
Tuan Lee Wintama menjabat tangan tuan Alexander.
"Lee apa kabarmu?" Tuan Alexander menyambut jabatan tangan kemudian saling memeluk.
"Aku membawakanmu Cerutu terbaik"
Tuan Alexander memberikan kotak bingkisan.
"Hahaha kau masih ingat kebiasaanku"
"Lee bagaimana kabar anak gadismu kudengar dia bekerja disebuah restoran?"
"Huhf Adelia keras kepala aku tak bisa membantahnya"
Sesal tuan Wintama tak tega dengan anak semata wayangnya yang ingin belajar mandiri.
"Mengapa terlihat menyedihkan bukankah dia mewarisi sifatmu"
Keduanya tertawa...
"Dari orang kepercayaanku dan pelayan beberapa minggu lalu Dante membawa Adelia ke hotel" Imbuh tuan Alexander
"Hhhmmm Dante mengantarkan keesokan paginya, menurutku itu kabar baik"
"Akupun turut senang kemajuan hubungan mereka meskipun keduanya saling membatah embel-embel sebatas sahabat"
"Apa kau keberatan bila aku percepat lamaran Lee?"
"Aku setuju aku tak ingin memiliki cucu diluar pernikahan"
antusias semangat tuan Wintama mendengar kabar baik.
"Baiklah besok pagi aku dan istrk akan berkunjung ke Puri"
"Dengan senang hati Josh pintu puri terbuka lebar untuk keluargamu"
"Umurku semakin menua Lee aku ingin segera menimang cucu"
"kau sangat tidak sabaran Josh mereka mungkin sedang berproses membuatkan untuk kita"
***
Kesibukan para pelayan di Puri Greenland hari tidak seperti biasanya. para koki Puri menyiapkan hidangan spesial seperti sedang menyambut tamu istimewa.
Tok...Tok...
"Nona muda apa anda sudah bangun?"
"Iya Bi masuk"
"Nona saya diminta nyonya membantu anda berhias"
"Ada apa bi?"
"Saya kurang tahu nona muda saya akan menyiapkan pakaian nona mandilah"
Adelia satu-satunya tidak diberitahu kabar kedatangan keluarga Alexander.
"Mengapa harus baju itu bi, apa ada penyambutan tamu di Puri?"
"Sepertinya begitu nona muda"
Bi Rum memilihkan dress putih semata kaki dengan aksen renda didadanya, menata rambut Adelia kecoklatan dengan penjepit berwarna senada. polesan make up tipis sudah cukup dengan wajah cantiknya seperti peri langit bermain ditaman bunga.
"Oohh Tuhan sesempurna itukah lihatlah putri yang diciptakan disurga ini"
Puji Bi Rum menitikan airmata kagum kecantikan majikannya
"Bibi terlalu berlebihan, siapa tamu yang berkunjung bi?"
"Bibi tidak tahu nona muda"
***
Sementara di Mansion tuan dan nyonya Alexander merahasiakan tujuan mereka dari Dante.
Dante diminta berpakaian rapi mengenakan kemeja putih jas navy celana senada juga dasi maroon. Ketampanan meningkatkan Berkali-kali lipat seperti patung dewa yunani.
"Mam kita mau kemana?"
"Berkunjung kerumah teman lama papi"
nyonya Alexander merapikan dasi Dante sedikit miring.
"Sudah mari berangkat papi tidak mau mereka menunggu"
Keluarga itu menaiki limosin Dante was-was namun tak menaruh curiga tentang tujuan mereka. limosin melaju selama 3 jam tiba dihalaman puri Greenland. mata Dante membulat memasuki puri mewah milik keluarga bangsawan terkaya di negara ini.
"Ki___Kita kesini mam?"
"Kenapa gugup ayo turun"
nyonya Alexander mengandeng lengan Dante.
"Norrah apa kabarmu?" nyonya Sovia memeluk tamunya.
"Aku sangat baik Sovia"
"Josh senang kau mengunjungimu kami"
"Aku senang melihat kau sehat Sovia"
"Masuk Norrah Josh Dante, Lee sudah menunggu kalian didalam"
Nyonya Sovia terkagum dengan penampilan Dante.
"Silakan duduk Norrah akan kupanggilkan Adelia"
Nyonya Sovia mengintruksi pelayan memanggil Adelia.
Adelia menapaki tangga dengan anggunnya. Sepasang mata kebiruan menatap terpesona terhipnotis seketika. desir-desir darahnya mengalir cepat mengikuti irama jantung.
"Lihat putramu Josh seperti ingin menerkam mangsa" Ledek tuan Wintama
Tuan Alexander menyenggol sikut Dante.
Adelia duduk berhadapan dengan nyonya Norrah. Dante masih tak bisa memalingkan pandangannya.
"Well semua sudah berkumpul jelaskan maksud tujuanmu Josh"
Tuan Wintama membuka pembicaraan.
"Begini Lee Sovia aku tak ingin berbasa-basi tujuan kami kesini tuk melamar putrimu Jasmine Adelia Wintama untuk putra kami Dante William Alexander"
Deg!!
Adelia terdiam seribu bahasa.
"Aku menyambut niat baik kalian bukan begitu Sovia?"
"Bener sayang" Jawab nyonya Sovia
"Aku serahkan keputusan ditangan Adelia, sayang bagaimana jawabanmu atas lamaran tuan Alexander"
Tanya tuan Wintama
"A___Aku___Aku__ Maaf aku bisa berbicara berdua dengan Dante?"
Adelia menarik Dante memasuki ruang perpustakaan mengunci pintunya.
"Dante bisa kau jelaskan ini padaku?"
"Jelaskan apa?"
"Apa kau sengaja menjebakku Dante?"
"Hei siapa yang menjebakmu!!"
"Rencana apa yang kau sembunyikan dariku"
"Apa maksud semua pertanyaanmu Adelia?"
"Aku yang bertanya padamu kenapa kau membalikan pertanyaanku"
"Kau tahu Dante kita bersahabat tak mungkin aku menikah denganmu"
"Kau kira aku mau"
"Jangan berpura-pura Dante aku hampir gila"
"Huh aku tidak mau menikahi orang gila"
"YAY!!!"
"Jawab aku Dante apa maksud semua ini"
"Aku baru tahu saat tiba di Puri"
"Jadi bukan rencanamu"
Adelia terkulai lemah dan dengan sigap menangkapnya.
"Batalkan___Mari kita batalkan perjodohan kita"
"Kau berani membantah orang tua kita"
"Aku?"
Adelia menunjuk dirinya.
"Kau saja yang batalkan" desis Dante
"Aku benar-benar gila sekarang"
Pintu perpustakaan diketuk.
"Nona muda dan tuan muda diminta keluar oleh nyonya"
"Keluarlah tenang dirimu" Dante menepuk pundak Adelia
"Sayang bisakah kalian bermesraan setelah menjawab lamarannya"
Goda nyonya Norrah yang mengundang tawa semua orang.
Adelia kembali duduk menarik nafas berkali-kali.
"Dad mom aku menerima lamaran keluarga Alexander"
Ganti Dante yang menahan nafas mendengar jawaban Adelia.
"Ohhh Sovia apa sebentar lagi kita akan memiliki cucu"
"CUCU!!!" pekik Adelia dan Dante serempak
"Kau benar Norrah liatlah mereka pasangan yang dibentuk disurga aku iri"
Kini Adelia dan Dante saling pandang tak percaya bahwa mereka akan melangkah kejenjang pernikahan. sedikitpun tak tersirat dibenak keduanya.
Tuan Alexander angkat bicara
"Lee Sovia bagaimana kalau kita tetapkan hari pertunangan putra putri kita"
"Menurutku pekan depan waktu yang tepat" sahut tuan Wintama
"Aku setuju" jawab Sovia dan Norrah bersamaan
"Aku akan menyiapkan lamaran resmi tuk Adelia" ulas nyonya Norrah
"Katakan sayang kau ingin pesta pertunangan seperti apa mom dan mami Norrah akan membantunya"
"Berdiskusilah dengan Dante, biar mereka saja yang menentukan" Usul tuan Wintama
"Dante menginaplah disini diskusikan rencana kalian" Ujar nyonya Sovia
"MENGINAP!!!"
Kali ini keterkejutan lebih dahsyat dilontarkan Dante dan Adelia
Para orang tua dan pelayanpun tertawa.