***
"Eldrian"
mata Adelia membelalak saat tahu orang yang membekapnya.
"Beib" suara parau Eldrian ditelinga Adel
"lepaskan aku El" Adel meronta tangannya telah ikat
"kali ini aku tidak akan melepaskanmu beib"
suara itu terdengar menakutkan seringai mata El nanar.
"lepas El!!!"
"uuummmmm"
Eldrian memaksa mencium Adel yang terus melakukan perlawanan.
"manis" senyum misterius Eldrian menyirat sesuatu
"aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya" Eldrian mengelus pipi Adel
mobil dikemudikan kencang Eldrian berniat membawa Adelia ke apartementnya.
Sepeninggal Eldrian yang membawa kabur Adel, Dante berkali - kali menghubungi ponsel Adel namun tak ada jawaban, rasa cemas tiba-tiba datang meliputi hatinya. segera dia turun mencari tahu penyebab rasa cemasnya.
Sepanjang jalan terus dihubungi tetap sang empunya tidak menjawab hatinya semakin kalut.
Saat tiba di Diamond Restoran semua sudah sepi lampu-lampu telah pada dari kejauhan dia melihat seonggok tas wanita yang tidak asing berlari mendekati target.
"Tuhan... Adelia" lirihnya
Dante memeriksa isi tas ternyata ponsel Adel didalamnya. rasa takutnya kian memuncak. besok hari pertunangan mereka tapi Adelia menghilang.
***
"El tolong turunkan aku"
"tidak beib"
"El kau bawa kemana"
"ketempat kita menghabiskan malam indah beib hanya kau dan aku"
"kita sudah tidak ada hubungannya apa-apa El"
"kau kan yang memutuskan aku, aku menolaknya"
sampai di basement apartement El menggendong Adel dibahunya, Adel terus meronta kejadian itu dipergoki sekuriti apartemen. Adel sempat melihat sekuriti lalu menjatuhkan kalungnya agar jadi bukti.
Sekuriti tersebut melihat ada yang tidak beres dengan penghuni apartement dan gadis malang itu. dia berjalan memungut kalung yang dicampakkan Adel. sesaat sebelum pintu lift tertutup Adelia berteriak berharap sekuriti tadi mendengarnya.
"Tolong.... to____" Eldrian membekak mulut Adelia
dibukanya pintu Apartement Adelia dibantingkan di atas ranjang.
"tolong El kau mau apa?" Adelia menangis tubuhnya sakit terbanting
"aku mau apa? aku mau kau cantik"
El membuka ikat pinggangnya diayunkan keudara.
"stop El!!!"
"aku belum memulainya cantik"
didekati Adelia kemeja Adel ditarik paksa kancing-kancing berhamburan kesegala arah. terpampang bagian sensitif yang tertutup kain hitam. putih mulus tanpa cela.
El menelentangkan tubuh Adelia tangannya mengayunkan ikat pinggang tepat pada gundukan Adelia.
"aaaaa" teriakan lirih memilukan
tak cukup sekali cambukan itu kembali diulangi
"aaaaarrr" lebih lirih dari sebelumnya
"cukup El sakit" mata adelia mulai bengkak karena tangisannya
rambut panjangnya ditarik dihantukkan pada sisi ranjang, kening Adelia mengucurkan darah segar. belum cukup menyiksanya El membalikan punggung Adelia mencambuki secara brutal.
"El lepaskan aku sakit" suara Adelia memohon hampir tak dapat didengar.
"sakit cantik? sakit mana aku yang kau tinggalkan lalu kau akan menikah dengan sahabatmu bre****k itu"
"sebelum dia menyentuh tubuh ini aku harus lebih dulu menikmatinya!!!"
Giliran rok yang dipakai Adel dirobek paksa menyisakan kain segitiga hitam. kontras sekali dengan kulit seputih s**u bekas cambukan merah kebiruan mengalir darah.
paha mulus gadis bangsawan yang malang itu tak pelak ikut dicambuk berkali-kali. Adelia hampir pingsan disiksa tanpa jeda. sekujur tubuhnya penuh luka dan memar. perlawanan seakan tak berarti terkuras habis tenaganya.
Rupanya El belum puas sekarang tangan kekarnya menarik paksa kain penutup gundukan sensitif Adel. ditarik sekencang-kencangnya teriak Adel menambah gejolak untuk meneruskan siksaannya.
Adelia membuka mata dia mengira siksaannya sudah berakhir rupanya El menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa sehelai benangpun.
"El Jangaan"
"rileks baby jangan menolakku"
"aku benci kau El" Adelia tak sanggup lagi mengeluarkan airmatanya.
"jangan membenci kekasihmu baby"
El mulai memisahkan kedua paha Adelia.
"jangan El"
kain penutup satu-satunya turut disobek hilang sudah pertahanan Adelia. tubuhnya tak sanggup lagi melawan hatinya sudah hancur. orang yang pernah dia cintai menyiksa dirinya seperti binatang.
Eldrian melumat bibir Adel tanpa ampun, berpindah ke leher jenjang digigit meninggalkan bekas kemerahan.
kini dia berlutut paha kedua Adel senjatanya telah siap menggempur musuhnya dengan kekuatan penuh.
"JANGAAAANNNNN EL HENTIKAN"
Brak!!!
Pintu apartement didobrak oleh sekelompok orang.
"Bre****k" maki Eldrian
Belum lagi dirinya berdiri pintu kamar kembali didobrak oleh empat orang polisi. polisi menarik melumpuhkannya membawa keluar. seorang polisi iba melihat gadis terbaring lemah tanpa sehelai benang penuh luka menutup tubuhnya dengan selimut memanggil tim medis.
Dante meninju stirnya karena tak menemukan Adelia. sementara di Puri persiapan terus dilakukan tanpa rasa curiga nasib naas pada putri bangsawan itu.
Adel dibawa kerumah sakit sudah tidak sadarkan diri. Sean yang baru saja keluar dari ruangannya ditarik perawat karena ada pasien darurat.
Sean terlonjak dihadapan seseorang yang dikenal terbujur tak berdaya.
"polisi mengatakan gadis ini korban pemerkosaan" jelas perawat
Kedua tangan Sea terkepal emosi memuncak ke ubun-ubun. diperiksa teliti tubuh terkulai itu meminta perawat membersihkan luka-lukanya.
Lalu dia keluar menelpon seseorang.
kring!
"hhmmm apa?"
Sean aneh mendengar suara diseberang sana seperti habis menangis. melihat kembali kepintu unit gawat darurat tempat Adelia terbaring dia paham pemilik suara itu khawatir sekali.
"Dante dia disini"
"apa...siapa disini!!!"
"Bidadari ada dirumah sakit"
Sean tercekat tidak mampu menerus kata-katanya
tut..... tut....
Sambungan terputus.
Sean masuk memeriksa keadaan Adel. perawat disebelahnya terheran dengan ekspresi dan prilaku Dokter tampan itu.
"maaf Dokter apa anda baik-baik saja?"
"tidak aku hancur" gumam Sean
"Dokter mengenal pasien ini?"
"Dia bidadari" lirih Sean
Perawat semakin kebingungan apa maksud Dokter Sean, dia bidadari? apa gadis ini pacarnya?
***
Dante mengemudikan Bentley hitam sekencang-kencangnya tanpa memikirkan bahaya dalam pikiran hanya Adelia. perasaan mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. kekalutan tak terkendali. memberhentikan mobilnya sembarang tempat lalu berlari mencari keberadaan Adelia.
Sean yang terduduk kaku didepan ruang perawatan menajamkan matanya mencari sumber suara teriakan kegaduhan.
"Dante!!!"
Dante berlari menghampiri Sean yang terlihat terpukul matanya penuh kebencian dan dendam.
"dimana Adel!!! apa yang terjadi!!!"
Dante menguncang tubuh Sean.
"tenangkan dirimu dia didalam"
Dante mendobrak pintu dilihatnya calon tunangannya terbaring penuh luka didekati tubuh lemah itu disingkirkan selimut matanya memanas.
Sean mengikutinya dari belakang lalu mengajak berbicara diruangannya, memerintahkan perawat dan penjaga agar tak meninggalkan Adelia.
"Sean apa yang terjadi?"
"polisi yang mengantarkan kesini di___dia diperkosa"
Bruk!
tubuh kekar Dante terduduk di lantai Sean memapahnya mendudukan di sofa. Dante yang dikenal dingin kini bahunya terguncang menitikkan airmata karena seorang gadis. Adelia berhasil meluluhkan lantakkan seorang Dante.
"siapa pelakunya"
"dari informasi yang kudapatkan anak Surya Wijaya kini sudah ditahan"
"rawat Adel aku akan ke Puri memberitahu tuan Wintama"
Sepanjang jalan Dante melamun rambut acak-acak.
***
Pengawal membukakan pintu Bentley hitam itu berhenti didepan pintu utama. ditatapnya sekeliling bunga-bunga tersusun rapi seratus persen siap menyambut hari besar esok pagi.
kepala pelayan melihat Dante berpenampilan berantakan terkejut.
"tuan muda anda baik-baik saja" tanya Bi Rum
"aku mau bertemu mommy dan Daddy"
"tuan dan nyonya dikamar akan bibi panggilkan"
Dante duduk diruang keluarga para pelayan meninggalkan sendirian.
"Dante apa sayang?" nyonya Sovia kaget melihat Dante
"mom...." dipeluknya ibu calon mertua
"duduklah jelaskan pada kami"
Tuan Wintama duduk disebelah istrinya.
"Adel diperkosa mantan pacarnya"
BRUK!
Kali ini nyonya Wintama yang tak sadarkan diri. segera Dante membopong calon ibu mertuanya ke kamar.
Tuan Wintama menelpon lalu masuk ikut masuk kekamarnya berganti baju.
"ayo Dante temani Daddy"
"tapi mommy"
"biar bi Rum mengurus mommy"
"nyonya kenapa tuan?"
"jaga nyonya!!!"