***
Sesuai janji yang disepakati Eldrian menjemput Adelia saat restoran tutup pukul 22:00 pm. rasa lelah seharian tak dipungkiri. Adelia berpamitan pada pelayan dan karyawan lainnya.
"Viona, sebelum pulang aku meminta tolong cek stok bahan protein dilemari pendingin, kalau ada yang kurang segera pesan ke pemasok minta mereka antar dibawah pukul 7 besok pagi"
titah Adelia yang baru mengganti pakaiannya duduk menunggu Eldrian datang menjemput. dirinya menyempatkan memeriksa laporan mingguan perkembangan restorant.
"Ya nona, akan saya kerjakan secepatnya. nona mau saya buatkan secangkir cokelat panas?"
tawar Viona pada koki sekaligus pemilik restoran tempatnya bekerja. udara malam ini cukup sejuk meski musim dingin masih jauh.
"Eum, Terima kasih Viona, jangan memaksakan diri kau juga sudah lelah"
"Tidaklah menguras seluruh tenagaku hanya untuk cokelat panas, kecuali nona memintaku memetik cokelat dari negara tropis dan akupun harus terbang kesana malam ini"
Viona terkikik sedikit bercanda mencairkan keheningan dan melupakan rasa penat,
"Aku akan mempertimbangkan ide cemerlangmu. mungkin kau mulai bosan bercengkerama dengan daging dan sayuran didapurku, aku orang pertama yang ku izinkan berpetualang dinegara tropis.
Adelia ikut tertawa menimpal celoteh candaan sahabat sekaligus pegawai kepercayaannya.
"Hahaa... Tidak nona aku asisten koki yang setia bahkan kalau kau mengusirku aku akan mengikuti menempel padamu sepanjang hari"
Viona memutar bola matanya melebarkan sungging bibir kecilnya.
"Kau akan bersaing dengan pacarku?"
"Tidak, Tuan Eldrian akan menelanku hidup-hidup."
Viona memasukan dua sendok bubuk chocolate dan menuangkan s**u yang sudah dihangatkan. lalu membawakannya pada Adelia.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu"
"tentu nona, aku sangat beruntung dan bahagia kau tidak menolak tawaranku"
"eemm Viona... jangan terlalu merendah aku juga senang kau banyak membantuku selama ini"
Seteguk cokelat panas melewati tenggorokan Adelia sebuah jeep putih berhenti didepan. Eldrian turun tanpa ada pengawal yang biasa mendampinginya. pria tegap itu berjalan dengan arogansi ekspresi wajah tanpa senyum tatap mata setajam pisau dapur, rambut panjang sebahu diikat asal sedikit berantakan terkena tiupan angin.
"Nona anda sudah dijemput"
Viona berkata pada atasannya lalu membawa langkahnya mundur menjauh menghindari pria yang terkenal arogan.
"Baby, apa aku membuatmu menunggu?"
"Tidak, aku memeriksa laporan hari ini"
Adelia mengangkat cangkir kearah bibirnya menempelkan pinggiran meneguk isinya kemudian ditarik Eldrian cangkir tersebut dari tangannya.
"Eldrian, hati-hati hampir saja kau menumpahkannya"
Siapa yang tidak sebal minuman dirampas sepihak secara paksa dan nyaris tumpah diatas laptop yang masih menyala.
"Sorry, Dimana bekas bibirmu, disini atau disini"
Eldrian memutar cangkir lalu meminum cokelat yang masih hangat. Adelia malas meladeni otak mes*m pacarnya.
"Bisa kau meminumnya saja tak ada kaitannya dengan bekas bibirku dengan cokelat ya tetaplah cokelat tidak mengubah rasanya"
Protes Adelia, menutup laptop didepannya dan menyimpan kedalam tas. malam semakin larut baiknya dia pulang rasa kantuk mulai menyerang.
"Manis, bekas bibir disini menambah manis"
"Aku lelah, kita pulang sekarang."
"Siap baby aku akan mengantarkanmu kemana saja, bahkan jika kau meminta untuk menemani tidur aku___ aaww"
Eldrian kaget dipukul pakai tas dibahu kirinya.
"Bersihkan otak kotormu itu Eldrian menyebalkan sekali"
"Kau salah otakku tidak kotor aku mereka bersih didalam sana penuh dengan imajinasi luar biasa, apa aku mau melihatnya?"
"aku pulang sendiri!!"
"Hei baby jauh-jauh aku menjemputmu"
Eldrian menarik lengan Adelia membawa masuk kemobilnya.
"Apa kau mau kita menginap saja disini umm?"
"Tidak, Antarkan aku atau aku pergi sendiri"
"Huh! Aku akan mengalah malam ini, Pakai sabuk pengaman sebelum aku menciummu"
Eldrian melajukan mobilnya memecah keheningan malam. lampu-lampu kota menghiasi sepanjang jalan. kedua membisu dalam perjalanan.
"Apa kau lelah?"
Eldrian membuka suara melirik pada kekasihnya yang terlihat diam menyandarkan kepala sejak tadi. matanya sayu seperti menahan kantuk.
"Eemm"
"Tidurlah aku kubangunkan saat kita sampai"
"Eemm"
Adelia memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tak bisa dikuasainya lagi. tanpa dia sadar roknya sedikit tersingkap menampakkan paha seputih porselen kini ditatap sepasang mata berbinar. Eldrian meneguk salivanya berkali-kali.
Damn it!
Tulang selangka Adelia yang tertutup kemeja putih terseakan memanggil jiwa me**m Eldrian sekuat tenaga menahan saraf-saraf menegang yang tidak sabar ingin berpetualang mencari pelampiasan pelepasan.
****
Setelah mengantar Adelia ke Puri Greenland langsung kembali ke apartement miliknya yang berada ditengah kota.
Memarkirkan mobil sedannya di basement lalu naik ke unit tempat tinggalnya dilantai 15.
Pintu lift terbuka tiba dilantai yang dituju segera dia menekan sandi dan masuk lalu menghamburkan diri di sofa. menekan layar gawainya mengetik pesan singkat pada seseorang. Tak lama pintu apartementnya diketuk.
"Hai sayang apa kau merindukanku"
Sapa seorang dengan suara manja dibuat-buat berbalut busana minim lekuk tubuh nyaris sempurna bibirnya penuh terlukis lipstik merah menyala.
Tanpa aba-aba Eldrian menarik pinggang wanita itu merapatkan pada tubuhnya yang sudah terbakar ingin meraih puncak kenikmatan mengarungi lubang gelap basah dan sempit.
"Sshhhh...."
"Aawwwhhhhh...."
"Oohhh baby"
Erangan silih berganti terdengar dari dinding-dinding kokoh ruangan yang dihuni oleh dua orang saling memburu menyenangkan masing-masing. aktivitas pergerakan maju mundur seirama diakhiri teriakan keduanya lalu tubuh yang basah akibat pertempuran panas diruangan yang tidak panas sama sekali lalu keduanya terbaring bersisian dan terlelap kelelahan.
Eldrian yang pertama terbangun membuka matanya yang masih mengantuk mengeser selimut lalu memakai boxer dan kausnya dan duduk bersandar kemudian memukul kepalanya sendiri.
"s**t!"
"hei...hei... bangun"
"Pergilah sebelum ada yang melihatmu"
"Kau selalu mengusirku pagi-pagi tampan"
"Menyingkirlah atau kulempar kau dari sini"
"Baik...baik tuan... kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, Aku selalu siap memberimu pelayanan terbaik"
"Cepat keluar!"
Wanita itu memunguti kain yang berserak dilantai tanpa risih memakainya didepan Eldrian yang membuang muka dan masuk kekamar mandi.
***
Dante duduk di balkon kamarnya menikmati malam dalam kesendirian. beberapa hari ini akal sehat sedikit terusik dengan hal yang sulit dijelaskan.
Dia mengeluarkan ponselnya dari saku membuka file penyimpanan galeri foto. tersenyum dalam ada getaran-getaran yang menggelitik jauh dalam relung hatinya. sadar akan tingkah konyolnya lalu menutup dan meletakkan gawainya ke meja.
Ting!
[Son, besok kau pulanglah mam akan memasak makanan kesukaanmu, pulanglah jangan menunda]
[Ya]
[Ajak Adelia bersamamu aku merindukan gadis kecilku]
[Hmm]
[Jangan mengelak mam tidak menerima alasan apapun]
[Hmm]
[Dante jawab mam, Ingat bawa Adelia!]
[Iya]
Dante membalas pesan ibunya dengan helaan nafas pasrah. orang yang bisa mengendalikan memiliki kekuatan super meski berbadan kecil.
((Diseberang sana nyonya Norrah Edwards Alexander mendesis kesal pada putranya yang jarang sekali pulang ke Mansion))
Dante masuk menutup pintu kaca lalu melangkah merebahkan diri di ranjangnya, sekelebat bayangan tersusun dimemorinya memutar ulang setiap adegan demi adegan layaknya film"
"Hah! Mengapa terus muncul dan sangat mengganggu" Kesalnya mengacak rambutnya kasar.
Baru akan memejamkan mata bayangan itu kembali datang. reka ulang kejadian tempo hari benar-benar membuat frustrasi.
"Aku tidak waras!" Rutuknya sendiri.
Sulit sekali memejamkan mata Dante lipat kedua lengannya menaruh dibelakang kepala posisi tidur menatap langit kamar.