***
Kesibukan Adelia bertambah pagi hari dia harus kuliah sore sampai malam magang di Diamond Resto.
Seperti pagi ini Adelia bangun lebih awal padahal baru beberapa jam saja terlelap.
meskipun akhir pekan Restoran tutup maka momen itu tak lantas membuat Adel bermalas-malasan.
Dia menyempatkan diri berolah raga sejenak demi menjaga agar tetap sehat.
Toktok
"Masuklah...." Adelia menyingkap selimut duduk bersandar ditempat tidurnya
"Selamat pagi nona"
"Selamat pagi__ tolong siapkan pakaian olah ragaku bi"
"Segera nona, ada hal lain yang?"
"Tidak bi"
Adelia membersihlan wajahnya mengikat rambut panjangnya lalu berganti pakaian.
udah dingin menusuk ke pori-pori.
Adelia berlari ke taman sekitar kediaman tempat tinggalnya.
Dua putaran cukup untuk menghangatkan tubuh bulir-bulir cairan bening mengalir didahi putihnya.
Adel beristirahat dibangku taman mengatur kembali nafasnya.
Saat bersamaan tersodor handuk kecil dan sebotol air mineral.
Adel mengdongakan pandangannya pada sumber tangan kekar tersebut.
"Seka keringatmu sebelum terkena mata"
Perintah lekaki tinggi bermanik biru laut pemilik suara bariton menghipnotis sejenak
"Terima kasih Dante"
Adelia menyambut handuk dari tangan Dante.
"Bagaimana kau bisa disini?" Adel melihat kanan kiri mencari yang tak tahu apa yang dicarinya.
"Hhhmmm ini tempat umum aku bebas datang tanpa seijinmu"
Dante membukakan tutup botol menyerahkan pada Adeli lalu Adek meneguk beberapa hingga cukup membasahi tenggorokan keringnya.
"Bu__bukan itu maksudku"
"Pelayan yang mengatakan kau berolah raga sekitar sini"
"Aku lelah, Mari kita cari sesuatu untuk sarapan"
Ajak Adelia disusul Dante berjalan disebelahnya
"Apa aku bisa sarapan dengan Sandwich buatanmu?"
Tanya Dante meragu mencari alasan agar bisa berdekatan dengan Adelia.
"Tentu saja aku akan membuatkan yang sangat lezat untukmu"
***
Puri Greenland
"Duduklah Dante aku segera menyiapkan sarapan untuk kita"
"Tak masalah Adelia aku berjalan mengitari taman saja sembari menunggumu"
Halaman samping Puri Greenland ditanami berbagai jenis bunga yang terawat sangat baik nyonya Sovia sangat senang berkebun. salah satu bunga favoritnya adalah melati dari sanalah nama Adelia diambil.
Jasmine Adelia Wintama putri cantik seperti bunga yang harum semerbak itu.
Dante duduk di kursi menghadap ke taman samping. beberapa saat matanya dimanjakan warna-warni bunga dikejutkan panggilan pelayan.
"Tuan Alexander mari ikut saya nona muda sudah menunggu di meja makan" sapa ramah Bi Rum pada pewaris Axan Hotel yang dingin itu.
Dante tak mengeluarkan sepatah katapun bangkit dari tempatnya duduk jalan memasuki ruang makan yang cukup luas berhadapan langsung kolam ikan hias didepannya yang dihalangi kaca-kaca besar.
Roti gandum berisikan telur setengah matang dilapisan bawahnya daging asap dan beberapa lapisan sayuran serta tomat disajikan dihadapan Dante dan Adelia. juga segelas Jus Alpukat dihantarkan pelayan.
"Nikmatilah sarapanmu tuan muda Alexander" seru Adelia
"Mari makan nona Wintama" sahut Dante
"Kau suka sarapanmu Dante?"
"Tidak pernah mengecewakan sejak awal"
Jawab Dante menyeka sudut mulutnya dengan serbet.
"Aku seorang koki handal"
"Hmm, Terima kasih Adelia sudah mengajakku sarapan"
Potong Dante menatap lamat-lamat pada Adelia.
"Eemmm" Adelia tersenyum manis
"Aku rasa kedatanganmu bukan untuk sepotong Sandwich kan?" Tanya Adelia
"Tak ada yang lebih menarik dari sepiring sandwich ini"
"Benarkah?,, mari kita berbicara di taman aku buatkan teh chamomile terlebih dahulu"
Adelia keluar dengan nampan berisi dua cangkir dan seteko kecil seduhan teh chamomile dan krisan.
"Teh ini enak?" Dante menyesap teh rasanya sangat unik
"Aku akan membawakan untukmu dan nyonya Alexander"
"Apa ini dari salah satu bunga disana?" tunjuk Dante pada hamparan bunga-bunga
"Benar aku yang meraciknya dengan beberapa bahan lain"
"Mama pasti sangat menyukai rasa teh ini"
Jawab Dante dengan penuh keyakinan
"Apa aku mengganggu waktu liburmu Adelia?"
"Tidak aku senang kau datang, akhir-akhir ini aku sibuk di restoran sampai tak ada waktu seperti ini"
"Bagaimana apa kau nyaman dengan pekerjaanmu sekarang?"
"Hotel adalah tanggung jawabku perlahan aku mulai membiasakan diri"
"Kau benar Dante masa depan kita sudah ditentukan jauj sebelum kita lahir, Daddy mengizinkan aku menjadi Chef namun tak bisa dipungkiri kelak aku juga akan meneruskan Wins Corp"
"Terkadang aku iri pada orang yang diluar sana yang bisa memilih mau seperti apa mereka, bayang-bayang kehidupan bangsawan melekat kuat semua peraturan tak bisa dielakkan" imbuh Adelia.
"Berdamailah dengan hatimu Adelia jangan memberontak"
"Hhhmmmppp" angguk Adelia
"Apa Tuan Wintama melarangmu dekat dengan anak dari keluarga Wijaya?"
Selidik Dante terkait pernyataan Adelia sebelumnya. karena selama dia mengenal Adelia tak pernah sekalipun gadis itu mengeluhkan sesuatu
"Kau seperti cenayang menebak isi pikiranku"
Adelia tersenyum menyadari Dante mengerti perasaannya saat ini
"Tebakanku benar!!"
"Entahlah lupakan Dante aku tak mau membahasnya saat ini"
"Maaf aku mencampuri urusan pribadimu Adelia"
Dante melihat raut suram diwajah Adel.
"Terima kasih jamuannya Adelia aku pamit"
"Apa kau akan pulang ke mansion?"
Dante setiap akhir pekan mengunjungi kedua orang tuanya di Mansion.
"Hmm"
"Boleh aku ikut bersamamu aku merindukan nyonya Alexander, tunggulah aku berganti pakaian dan menyiapkan beberapa teh tuk nyonya Alexander"
"Dengan senang hati Adelia"
***
Mansion Highland
"Selamat datang kembali Tuan muda"
Seorang pelayan pria paruh baya membukakan pintu mobil
"Terima kasih Gerald"
"Mari silakan Tuan muda dan Nona Wintama"
Gerald terkagum kecantikan anggun putri tunggal Mr. Lee Wintama yang tersohor.
"Apa kabarmu Gerald?" Sapa Adelia
"Seperti yang anda lihat aku sangat baik nona muda"
"Jaga kesehatanmu Gerald kau tampak semakin tua" Canda Adelia
"Benarkah? Aku merasa semakin muda dari kemarin. Terima kasih perhatianmu nona aku sangat tersanjung, aku juga mendoakan kau selalu sehat"
Dante Adelia tertawa mendengar jawaban pelayan setia keluarga Alexander tersebut.
Diruang keluarga Mansion....
"Dante akhirnya kau pulang sayang"
Nyonya Norrah Alexander memeluk putra kesayangannya
"Lihatlah kau datang bersama siapa ini, Aku merindukanmu Adelia"
Adelia dan nyonya saling berpelukan.
"Nyonya aku membawakanmu beberapa teh racikanku"
"Ini pasti merepotkan cantik"
Nyonya Alexander menerima kantung lalu menyerahkan pada pelayan.
"Nancy seduhkan tehnya aku ingin mencicipi segera" perintah nyonya Alexander pada pelayan yang tak berdiri jauh darinya
"Apa kabar Sovia dan Ayahmu? Lama tak berjumpa dengannya bahkan pesta amal musim lalu pun Sovia tidak hadir"
"Mommy sedang berada di Korea nyonya Alexander, Mungkin untuk beberapa minggu depan baru kembali"
"Pasti kau kesepian sekali cantik, Seringlah berkunjung ke Mansion aku ingin belajar meracik teh"
"Dengan senang hati nyonya Alexander"
"Dante ajaklah Adelia berkeliling mama akan menyiapkan cemilan untuk kalian"
Seru nyonya Alexander yang melihat putra menatap terus menerus pada ponselnya.
"Ikutlah denganku Adelia akan kutunjukkan sesuatu"
Dante berdiri berjalan ke taman belakang Mansion
"Pergilah aku akan menyusul kalian" pinta nyonya Alexander
****
Ditaman belakang Mansion...
"Wah dimana tanaman bambunya? terakhir aku kemari mereka masih berada disana"
Adelia melihat heran sekelilingnya mencari keberadaannya pohon bambu, kini berubah menjadi kamar tak terlalu luas namun cukup nyaman, kamar mandinya pun hanya muat bathup dan wastafel serta closed. sinar matahari memenuhi seisi kamar yang berdesign minimalis itu.
Di depannya terdapat jacuzi air hangat ditutupi dinding dengan tumbuhan rambat sehingga tak kelihatan dari luar bila sedang berendam. pinggiran jalan setapak bertabur batu putih.
"Kau mengubahnya Dante?" tanya Adelia antusias
"Kamarku membosankan"
Alasan klise dicetuskan Dante jelas dia jauh-jauh hari menyulap rimbunan pohon bambu ditaman belakang hanya untuk membangun kamar berkonsep outdoor untuk menarik simpati Adelia.
"Nyaman sekali disini"
Adelia duduk di sofa panjang samping jacuzi.
"Hmm" Tetap datar dan dingin demi menyembunyikan detak kencang dibalik kaus hitam yang membungkusnya.
Saat mereka tengah asik bercerita Dante menjelaskan dengan detail setiap ide kamar outdoornya. secara kasarnya sedang memamerkan hasil kerja yang sebenarnya tak begitu membanggakan.
Fasilitas Mansion ini sudah sangat memenuhi diatas standar kepuasan, entah gagasan apa Dante seperti sedang mencoba peruntungan dengan perasaan gundah selama ini.
Toktok
"Masuk" Suruh Dante pada sipengetuk pintu yang tertunduk sopan.
"Maaf Tuan muda, Nyonya besar menyuruh saya membawakan ini untuk Tuan muda dan Nona Adelia"
Seorang pelayan wanita membawa nampan teh dan kue kering
"Letakkan saja disana"
Tunjuk Dante pada nakas dekat tempat tidur.
"Saya permisi Tuan muda, Apa ada yang bisa saya kerjakan lagi?"
"Tidak terima kasih nancy"
"Baik tuan...Nyonya besar mengatakan akan menyusul kesini"
"Hmm"
"Dante , Mama apa kau membuat semua ini agar leluasa bersama Adelia hum?"
"Mam, Aku tidak seburuk itu"
"Buatlah yang kau suka sayang aku selalu mendukungmu"
"Terima kasih mam kau memang yang terbaik" Dante mengecup pipi ibunya
"Nikmati teh kalian aku akan kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan"
Pamit nyonya Alexander
Adelia dan Dante mengangguk serentak.