CEMBURU BUTA

1198 Words
*** Sementara diparkiran kampus Eldrian berdiri tegap dengan sorot mata kemarahan tak terbendung, Seakan ingin memangsa mencabik-cabik mencincang korban didepannya. Kepal tangannya meremas sesuatu. Adelia yang baru tiba turun perlahan membuka pintu mobilnya, Tiba-tiba tangan kasar mendeprak mobilnya. "Astaga apa ini Eldrian?" "Kamu yang apa?" bentak Eldrian membuang nafas kasar "Maksud kamu?" Adelia kaget kebingungan dicerca pertanyaan malah dijawab dengan pertanyaan pula dia terintimidasi seakan melakukan kesalahan fatal. "Ini apa!!!!" Teriak Eldrian tepat diwajah Adelia yang menciut ketakutan semakin tidak mengerti apa yang membuat kekasihnya sebringas ini Adelia dengan tangan gemetar mengambil amplop coklat dari tangan Eldrian. Membuka perlahan ketakutannya bertambah saat bersitatap dengan El. pria arogan itu selalu mendominasikan amarahnya tanpa peduli tempat. Dikeluarkan isi amplop yang terdapat beberapa lembar foto, Rasa takut yang tadinya mengetarkan Adelia kini pelan-pelan menyusut. Adelia menarik nafas dalam-dalam membuang perlahan menenangkan mengatur degub jantung yang hampir terlonjak keluar dari sarangnya. "Eehhmp" Adelia berdeham pelan "Jelaskan!!!" Emosi El belum sedikit pun berkurang "I___ini a___ku Dante" Jawab Adelia terbata-bata menahan genangan airmatanya yang siap tertumpah. "Kamu mencoba selingkuh dariku Adelia!!!" Eldrian menarik paksa foto-foto dari tangan Adel mencampakkan sembarang. "See__lingkuhh?" "Jelaskan!!!!" Bentakan El lebih keras dari sebelumnya "Aku dan Dante kebetulan bertemu ditaman saat berolah raga" Jawab enteng Adelia meski dadanya terasa sesak karena merasa hal yang dituduhkan tak terjadi seperti yang dituduhkan padanya. "Yakin!!" tegas El menekan bahu Adel "Eemmm, Untuk apa aku membohongimu, Antara aku dan Dante memang tak terjadi apapun. Kami bertemu tanpa direncanakan. Eldrian mengapa kau tidak mempercayaiku" "Sebentar mengapa bisa foto-foto itu ada padamu?" Tanya Adelia dalam hati penuh selidik. Apa selama ini ada penguntit disekitarnya. "Berapa kali aku ingatkan aku gak mau milikku disentuh siapapun!" "Aku tidak__" Nada suara El mulai sedikit turun pandangan matanya melunak saat melihat Adelia menitikan airmata. "Kita bahas ini didalam" Segera Eldrian membuka pintu mobil adel dan adel duduk disampingnya. Hal itu dilakukan sadar kini mereka jadi pusat perhatian seisi kampus. Pengawal Eldrian membubarkan kerumunan yang tadinya ikut menyaksikan kemarahan pria yang tak pernah bisa mengontrol emosinya. Sedetik kemudian Eldrian menarik kuat dagu Adel memutar menghadap padanya. Menempelkan bibirnya ke bibir Adel dengan paksa mengigit hingga meninggalkan bekas kemerahan bengkak pada kulit lembut. Adelia meringis meraba bibirnya yang sedikit bengkak. "Itu hukuman berani bermain-main dibelakangku" Senyum curang Eldrian penuh kemenangan. Bintik-bintik bening menggantung kedua bola mata Adelia. belum sepenuhnya hilang keterkagetannya dibentak Eldrian kini dicium paksa. Adelia menyeka sudut matanya air hangat mengalir dipipinya. Sesak sekali rasanya tercekat ditenggorokan tak mampu bersuara. "Kamu kenapa baby?" Eldrian menyeka air mata Adel lembut "Kamu yang kenapa?" ketus Adelia El menatap bibir Adel yang bengkak karena ulahnya barusan sedikit merasa bersalah. "Keluar El tinggalkan aku sendiri" "Baby ayolah harusnya aku yang marah, Mengapa kau malah mengusirku" "Turun Eldrian!!" "tidak!!" Eldrian menyandarkan kepalanya. "Turun!!" "Aku bilang tidak ya tidak" "Kalau begitu aku yang turun" Adelia keluar dari mobil membanting keras pintu mobil. "Loh!!" Eldrian berburu turun mencegah Adel menjauh. "Lepaskan El" "Kenapa jadi kamu yang balik marah baby?" "Terserah saja" "Mau kemana urusan kita belum selesai" Eldrian menarik paksa tangan Adel "Kalau marah sana marah saja sendiri" Adelia menghentakkan cengkraman El "Adel!!!" "Bisa kau jangan menahanku Eldrian, Kelasku sebentar lagi dimulai simpan saja energimu untuk hal lain" "Apa? Hal lain, Misalnya? Jawab El tersenyum tipis Menyadari kesalahan menahan Adelia lalu mengejar Adel menyamakan langkahnya. "dress kuning ini bagus, nanti akan kubelikan selusin seperti ini untukmu" "Simpan saja uangmu, Isi lemariku belum semua terpakai" Dasar labil batin Adelia padahal baru saja emosinya berapi-api gumam Adel "Aku tahu kamu bisa membeli seisi kota tapi ini kan dari kekasihmu" Rayu Eldrian Huft... "Kelasmu juga akan dimulai sebaiknya kau pergi Eldrian" "Baik, baiklah nona Adelia, Aku menantikan jawabanmu tentang membuang energiku untuk hal lain" Eldrian yang berusaha menahan amarahnya merogoh ponsel menghubungi seseorang. lalu saat memasuki kelas sengaja ia duduk bersebelahan dengan Dante. Dante sama sekali tak menghiraukannya. kecemburuan Eldria pada sahabat kekasihnya itu semakin hari makin mengebu-gebu. Seakan menggenggam bom waktu. dia merasakan Dante lebih dari seorang teman sebagai sesama pria dia dapat dengan membaca gerak gerik ketertarikan pada gadisnya. Namun Eldrian tahu bukan mudah menghancurkan Dante. banyak pertimbangan harus mencari cara lain memisahkannya dengan Adelia. Gadis itu antara polos, Lugu, Baik, Bodoh itu sangat tipis perbedaannya. *** Kantin kampus... Dante tengah meneguk kopi dikejutkan gebrakan meja. orang-orang didalam ruangan itu pergi menghindar satu persatu. Dante melihat arah sumber pembuat kegaduhan. "Boleh aku bergabung disini" Eldrian yang mendominasi menarik satu kursi untuknya. "Silahkan aku sudah selesai" Dante meraih cangkir kopi berjalan dengan satu tangan disakunya. "s**t!!!!" Pekik Eldrian "See, Makin besar kepala si Bre****k itu" Maki Eldrian memukul meja melempar apa saja diatas meja hingga membuat suara gaduh. "Turunkan pandangan kalian!!!" Teriak Eldrian pada beberapa orang sengaja melihatnya sebagai pembuat onar. "Adelia....Aarrggghhh!!!!" *** Kelas selesai lebih awal Eldrian berniat mengajak Adelia ke apartementnya. Adelia tidak kerestoran hari ini. dan keduanya jalan menyusuri koridor kampus sambil bergandengan mengundang decak kagum sekaligus iri pada pasangan beda karakter tersebut. Eldrian jelas memamerkan kepemilikan atas gadis cantik bersurai panjang itu. "Kita mau kemana?" "Kenapa, Kau takut aku membawamu membuang energi bersama?" "Ya, APA?" "Hei baby, Aku hanya sedikit membayangkan tentang...." "Tentang,... Tentang apa? Tidak baik menggantung pembicaraan" "Kau penasaran?" "Tidak! Apa peduliku, Aku hanya memastikan arah jalan bisa saja kau masih marah lalu membuangku ditempat sepi" "Aku? Membuangmu? Mencicipi saja belum" "Heh!" Mereka menaiki mobil yang dikendarai Eldrian menuju kediaman pribadinya. Adelia baru tiga kali berkunjung keapartement Eldrian. "8055" Eldrian menyebutkan sandi pintu unitnya sambil menekan tombol-tombol yang tertera. "Hem" Adelia yang belum melepaskan tautan tangan mereka tak begitu ambil pusing soal rangkaian angka-angka itu. "Itu passwordnya kau bisa keluar masuk sesukamu" Adelia hanya mengangguk, setelah masuk kemudian menjatuhkan bo**ng pada sofa diikuti Eldrian duduk disebelahnya melebarkan kedua tangannya melingkarkan pinggul ramping Adelia dan meletakkan kepalanya bersandar pada bahu pacarnya. "Baby..." "Ya" "Apa kau menyukai Dante?" Eldrian mempererat pelukannya kini menenggelamkan wajahnya dileher jenjang seputih s**u. "Apa maksud dari pertanyaanmu?" "Jawab aku" "Tentu, Dia sahabatku kami saling mengenal dari kecil" Adelia menjelaskan panjang lebar kedekatan dengan Dante. bagaimana hubungan kedua keluarga mereka, diumur berapa dia mengenal Dante dan keluarganya. Bahkan sampai sekolah yang sama hingga sekarang. "Bukan itu yang kumaksud, Apa kau menyukai sebagai seorang pria?" "Eldrian jangan membahas hal yang tidak perlu aku menjawabnya" Adelia bergeser melepaskan pelukan Eldrian lalu berdiri sedetik kemudian dia terjatuh dipangkuan paha yang keras. "El" Adelia sekuat tenaga menjauhkan diri dari Eldrian. "Eldrian apa didapurmu ada makanan" Adelia menghindar kearah dapur lalu membuka lemari pendingin mencari sesuatu agar Eldrian tak lagi memikirkan melakukan hal yang Adelia jaga sampai tiba waktunya. "Apa kau lapar?" Sungguh ujian berat menahan gejolak dibawah sana yang terasa sempit saat berdua Adelia. gadis itu mati-matian menolak benteng pertahanan sangat kuat. Bertolak belakang dengan dirinya yang mudah terpancing hawa panas. "Sedikit" Adelia tak menemukan apapun kecuali sekotak sereal dan s**u. "Kau ingin memasak untuk makan malam kita?" "Tentu, Apa kau bisa membeli bahan dibawah?" Adelia berharap usulnya disetujui agar bisa menjaga jarak. "Kau berusaha mengalihkanku baby?" "Hem" "Beli saja, Aku tidak mau aroma tubuhmu menjadi bau makanan membuatku ingin melahap sampai habis" "Hah!" Eldrian tertawa melihat ekspresi kesal Adelia, Sebenarnya itu hampir saja kelepasan saat menghirup harum gardenia diceruk leher jenjang Adelia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD