***
La Diamond Blue Restaurant
Siang ini Restoran lagi ramai berkenaan jam makan siang para pengunjung datang silih berganti tanpa henti.
Adel dan beberapa staf dapur mondar mandir tanpa henti menyiapkan semua pesanan pelanggan.
Para pelayanpun tak kalah sibuknya.
Demi menjaga kepuasan semua dilakukan semaksimal mungkin tak ingin pengunjung kecewa.
Sehingga jam makan merekapun terabaikan prioritas adalah pelanggan.
"Nona beberapa pelanggan tetap kita menitipkan salam mereka mengatakan masakan anda selalu yang terbaik"
Ucap pelayan laki-laki yang berdiri dipintu dapur.
"Syukurlah mereka puas" Senyum sumringah Adelia
Ditengah kesibukan semua, Sementara itu terdengar suara teriakan dari salah satu pengunjung. Seperti sengaja memancing perhatian pengunjung lain.
Pelayan wanita segera menghampiri meja sumber teriakan dari seorang wanita muda yang dandannya sedikit menor lipstik merah menyala.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?"
"Hah!!! Makanan seperti apa ini, Dimana Manager kalian suruh menghadapku aku akan menuntut Restoran ini"
"Maaf nona apa yang salah dengan makanan anda?"
"Apa kau buta lihat ini ada rambut dalam pastaku!!
"Maafkan kami nona akan segera kami ganti"
"Semudah itu!!! Panggil koki kesini!!"
Teriakannya lebih kencang lalu menyiram air kemuka pelayan, Sontak pelayan wanita itu menangis.
Seorang pelayan laki-laki berlari kedapur melaporkan kejadian di depan.
"Nona Adelia ada pengunjung marah-marah didepan"
"Ada masalah apa Ryan?"
"Sa__saya kurang tahu nona sebaiknya anda menemui langsung"
"Tenanglah Ryan aku selesaikan"
Adelia berjalan pada pengunjung tersebut kaget melihat Riri tengah menangis wajah rambut dan pakaiannya basah
"Apa yang terjadi Riri?"
"I__ii__Itu nona"
"Hhmmm bersihkan dirimu"
"Ba___baik nona Adel"
"Selamat siang nyonya ada yang bisa saya bantu?"
Tanya Adel ada wanita berambut pirang bibir merah menyala.
"Apa kau koki disini?" jawabnya sinis
"Anda benar nyonya"
"Apa kau mau meracuniku!!"
"Maksud anda apa nyonya?"
"Kau lihat ini mengapa ada rambut dalam pastaku!!"
"Mana mungkin seperti itu nyonya, Kualitas serta kebersihan sangat terjaga di restoran kami bahkan saya turun tangan sendiri mengawasinya"
"Kau pikir aku mengada-ngada hah!!!"
"Maaf nyonya saya ganti makanan nyonya"
"Ganti!!! aku bahkan bisa membeli 1000 kali yang lebih baik dari ini, Aku tak terima keteledoran kalian kau yang harus tanggung jawab"
"Baik saya akan bertanggung jawab nyonya"
"Aku akan menuntut ganti ganti rugi seratus juta dollar atas kelalaian restoran ini"
Sela sombong wanita tersebut
"Apa??"
Teriak Adel tak terima begitu saja pernyataan wanita didepannya
"Apa kau keberatan koki sok cantik"
Adelia tak mau kalah dia memikirkan cara membuktikan bahwa itu bukan kesalahan dari mereka.
"Baik aku akan memberi seratus juta dollar bahkan dua ratu juta dollar, Aku harus memeriksa CCTV terlebih dahulu, Kalau terbukti bukan kami yang melakukan kesalahan maka nyonya yang terhormat akan saya laporkan atas pencemaran nama baik"
Tentu hal itu langkah tepat yang tercetus dipikiran Adelia ia tak mau nama besar Restoran tempatnya bekerja dipertaruhkan tanpa bukti yang konkret.
Perempuan rambut pirang tersebut terlihat sangat cemas dia lupa kalau restoran sebesar ini tak mungkin tidak mempunyai camera pengawas.
Raut mukanya berubah panik tak terkira yang tadinya arogan dan angkuh kini berganti pucat pasi bahkan lipstik merahnya pun tak dapat menutupi ketakutannya.
Baru beberapa langkah Adelia ingin keruang kontrol kamera pengawas lengan bajunya ditarik oleh seseorang.
"Sebentar nyonya beri saya waktu 5 menit mengeceknya"
"Aku tak mau waktuku terbuang sia-sia berasa di restoran dan tenggorokanku sudah ternodai makanan sampah ini"
Wanita tersebut berlari meninggalkan restoran tanpa melihat kebelakang sekalipun menyetop taksi lalu pergi.
Adelia masih terbelalak terdiam ditempat.
"Oohh Tuhan apa itu" desis Adel
***
Adelia kembali ke dapur meneruskan perkerjaannya, pelayan membersihkan kekacauan dan meminta maaf pada pengunjung lain yang tergantung kejadian beberapa waktu lalu.
Didapur Adelia terduduk lemas menyatukan kedua lutut ke dadanya.selama dia bekerja baru kali ini ada pelanggan yang berulah tanpa jelas.
kejadian tadi cukup menguras energinya staf dapur mencoba menghibur nona muda bangsawan tersebut dengan membuatkan segelas s**u coklat hangat. namun tak cukup hilangkan risau hatinya.
"Sudah nona muda tak usah dipikirkan" hibur Viona
"Tapi Viona aku bingung kenapa bisa wanita itu memfitnah restoran kita"
"Aku tak pernah melihatnya makan disini dan ini pertama kalinya"
"Benarkah Viona?"
"Para pelayanpun mengakui itu nona muda"
***
Axan Hotel
Sosok pria mengenakan kemeja lengan panjang kancing atas terbuka membentuk menonjolkan d**a bidang dengan sedikit bulu-bulu halus disana dan celana hitam tengah menikmati santai sorenya dilantai paling atas gedung tinggi hotel, menatap bebas langit berwarna jingga keemasan yang hangat lukisan awan-awan putih terbentuk sempurna menghias. kembali lamunannya menerawang pada sosok yang selalu hadir dalam diamnya. indah bahkan jauh lebih indah dari lukisan alam.
Semakin hari rasa ini semakin sulit diungkapkan, tak ingin kecewa dia menghentikan mengendalikan akal sehatnya.
Ting!
[Dante apa kau sibuk]
Dante membaca pesan dadanya berdegub....
[Tidak]
[Aku butuh teman berbicara, Boleh aku datang]
[Tunggu, Aku akan menjemput]
[Aku tunggu di restorant]
[Hmm]
Tanpa menunggu dan tak mengganti pakaiannya Dante turun mejalukan mobil ketempat tujuan.
Tiba di Diamond Blue Restaurant Dante melangkah tegap memasuki pintu kaca yang dibukakan seorang pelayan wanita mata tak berkedip menatap pria yang begitu memukau.
"Silahkan tuan"
"Hmm"
Kedatangan Dante sangat menarik perhatian persis dengan kejadian siang tadi saat ulah pelanggan aneh yang membuat kegaduhan lalu pergi tanpa pertanggungjawaban.
"Anda mau duduk dimana? Ruang VVIP masih ada yang kosong"
"Tidak, Aku mau bertemu kokimu"
Ohh, Siapa lagi ini datang mencari nona Adelia. baru selesai drama monster rambut pirang sekarang patung dewa yunani hidup.
"Koki kami sedang sibuk tuan"
"Panggilkan!"
"Tunggulah sebentar tuan, Silahkan duduk dimanapun"
Adelia muncul dari ruangannya memakai gaun hijau muda selulut dan rambut terkuncir keatas.
Senyum lebar menampakkan barisan gigi putih tersusun rapi. wajah bundar perpaduan eropa dan asia. pipi merona bibir cherry melengkung sempurna.
"Nona maaf, didepan ada yang mencari anda"
"Siapa?"
"Malaikat,, aahh bukan dewa.. tidak..tidak mungkin artist atau model tapi aku belum pernah melihatnya ditelevisi atau majalah"
"Hem?"
"Tidak, sepertinya patung dewa yunani hidup"
Adelia tak menunggu lagi penjelasan pegawainya dia tahu siapa yang dimaksud pelayan itu. pesona Dante memang diatas rata-rata.
"Dante"
"Hmm"
"Kita berangkat sekarang"
Dante dan Adelia memasuki mobil yang sama, lagi-lagi semua pasang mata tertuju pada mereka.
"Apa itu pasangan dari surga" Celetuk wanita separuh baya pada temannya.
"Siapa pria itu, Dia wanita yang beruntung" Sela teman wanita yang sama tuanya dimeja sebelah.
"Aahhh aku menyesal terlahir lebih awal" kini wanita lebih muda ikut berbicara menimbulkan gelak tawa teman semejanya yang berisika empat orang.