Berhari-hari kemudian, melarikan diri adalah jawaban bagi segala kesulitan yang Ratu alami tiap dia bertemu Damar dan Putri yang entah kenapa jadi sering mampir ke kantor. Bersyukur juga setelah itu, Damar jadi jarang berada di kantornya sendiri. Apa memang melakukan tugas luar atau menghindar dari Putri yang tidak malu masuk ke ruangan pria itu dan mendekam di sana selama berjam-jam.
Ratu juga berusaha tidak ambil pusing apa yang dua mahluk berlainan jenis itu lakukan dalam ruangan tertutup selama beberapa waktu. Jika memang keduanya berjodoh, itu sudah takdir Tuhan. Lagipula ia tahu, papi adalah alasan dia tidak memilih perkawinan sebagai salah satu tujuan hidup. Jika itu berarti ia harus meninggalkan mantan Abang Jakarta tukang nangis itu hanya demi label menjadi istri solehah, maka sebelum pendaftaran dimulai, dia undur diri. Biarlah manusia lain saja yang merasakan semua itu. Menjadi kaki, tangan, bahkan kadang tong sampah seorang Ramli Santoso adalah pilihan yang tidak pernah ia sesali.
Kadang juga Broto menjadi tempat keluh kesah wanita muda itu tiap istirahat makan siang. Broto yang sudah pulih dari rasa kehilangan dua biji keramat pusaka, selalu menunggu Ratu yang selalu menyiapkan makan siang untuknya, kadang campuran nasi dan wetfood apabila gajinya sedang sekarat. Ia mesti memilah-milah prioritas penting dalam hidup tiap uang gaji ia dapatkan, dan biasanya, pakaian, sepatu, kosmetik dan jajanan adalah hal terakhir dalam daftar. Termasuk kegiatan kumpul-kumpul dan makan-makan antar pegawai usai kerja yang tidak pernah ia hadiri. Ia harus segera pulang karena tidak ingin menambah beban Wak Ijah yang dimintai tolong untuk menjaga papi.
Tidak pernah ke mana-mana, hal yang pada akhirnya membuat Ratu Intan, anak tiri direktur, dicap sebagai wanita sombong.
Yang benar-benar tahu kondisinya tidaklah banyak, paling banter teman sebelah bangkunya, Lisa dan seorang office girl baik yang sering diajaknya makan siang bersama. Bahkan Damar pun tidak tahu. Ketika fakta baru tentang Ratu ia ketahui, wanita itu malah menghindar tidak peduli ia gigih mengejar dan berusaha untuk tahu.
Ketika hari Minggu tiba, Ratu biasanya tidak berada lama di rumah kontrakan. Segera setelah tugasnya selesai, wanita itu akan menitipkan sang papi pada Wak Ijah dan terburu-buru menuju sebuah salon tempat ia menjadi model bayaran teman akrabnya. Di tempat itulah, rambut, wajah, kadang tubuh Ratu dimanfaatkan oleh sang pemilik salon untuk dipamerkan pada peserta pelatihan Make Up Artist, atau juga korban uji coba tiap produk atau model baru siap diluncurkan ke pasaran.
Hal yang selalu membuat Putri mengatainya macam-macam, termasuk memanfaatkan duit pemberian Waluyo buat foya-foya. Ratu selalu ingin tertawa kalau ingat itu. Tak tahukah, Putri? Ratu bahkan tidak pernah keluar uang barang satu rupiah pun untuk mendapatkan model rambut bahkan riasan wajah model terkini. Ia jadi amat cantik dan modis karena tuntutan pekerjaan, walau hanya duduk diam dan menjadi pusat perhatian orang-orang.
Karena itu juga, ia selalu disangka kelebihan uang oleh teman sekantornya.
Tidak heran, Putri juga memiliki pemikiran yang sama seperti yang lain.
Seperti hari itu, Ratu menghabiskan setengah hari waktunya untuk mengembalikan warna rambut yang sebelum ini diubah oleh Alisia, Ali yang kejantanannya menjadi sia sia (menurut Ratu) karena lebih memilih banting setir, untuk jadi manusia tulang lunak dan bertubuh lentur sejak pria itu mencecap lipstik kepunyaan emak di bibirnya untuk pertama kali dalam hidup, dari abu-abu, kembali menjadi hitam seperti semula.
Dari Alisia juga, Ratu punya ilmu yang cukup untuk berkelit tentang dunia kontes putri-putrian pada Damar, meski ia sepenuhnya tidak paham kalimat yang ia ucapkan dari bibirnya sendiri jika Alisia tidak bercerita.
"Duh si kucing, eke takura bo', kalo dese yang menang. Wakil kita tahun ini eke optimis sih, tapi kadang pesimis, alemong anples, cyiin."
Entah bahasa mana yang pria itu pakai, Ratu tidak mau ambil pusing. Kepalanya yang kini sedang dicuci dengan sampo sudah penuh busa.
"Dia ngapain lagi emangnya?" Ratu bertanya alakadar, siapa tahu apabila nanti Damar bertanya saat ia menghilang, dia punya jawaban unik yang bisa buat pria tampan itu tidak berkutik.
"Nungging, boook. Eke aja yang sekong, rasa gimana liat pose dese. Haduh, alemong alemong. Hayati tinta kuat."
Ratu membuka mata. Pria kemayu berambut pendek dengan winged eyeliner terpasang di matanya itu mengerucutkan bibir.
"Nungging aja lu cemas. Lah, gue ini dari dulu penasaran ama lu ya, Li. Itu lu pake legging ketat kayak gitu, biji lu dua kagak sesek apa, ya? Masih pake sempak nggak, sih? Gue malah cemas, lu masih bisa apa kagak, buntingin anak orang?"
"Ya amsyiooong anak perawan, anaknya bapak Ramli, mulut yey, beeeeeib, lemes bin julid. Ngapain bahas tit*t eke? Masih aja jenis kelamin eke you pertanyakan, Atuuu."
Wajah Alisia tampak merah merona. Dari kaca, Ratu menemukan bahwa pria itu sedang memakai legging ketat warna kulit macan. Ia setengah mati menahan perasaan untuk tidak memukul p****t tipis pria bertubuh kurus itu karena gemas. Geli sekali membayangkan kaki-kaki bak belalang sembah itu dipakaikan busana dengan warna norak bin mencolok. Bikin mata sedikit kerja keras daripada biasa.
"Nanya, Li. Di IG si Lisa, gue suka liat bencong pake bikini, gue penasaran, itu totongnya kaga nyeplak, seriusan. Apa dipotong kayak punya si Broto, apa dikasih plaster? Lah kalo beneran dikasih plaster, Li, gue kejer bayangin dia nyabutnya. Pasti lahannya gersang. Sering ditarik."
Bahu Ratu berguncang karena terlalu banyak tertawa membayangkan organ laki-laki dipasangi plaster agar bisa memakai secarik kain penutup kelamin yang jelas peruntukannya buat perempuan.
"Seriosa yey pengen tau? Sini liat, eke bukain."
Alisia yang hendak membuka celana ketat yang ia pakai buru-buru menutupnya kembali setelah Ratu mengancam tidak akan lagi mau jadi asistennya lagi jika diperlukan, yang mana adalah suatu ancaman paling mengerikan bagi pria kemayu itu. Ratu yang tidak pernah mematok harga tiap dia mesti bertugas adalah pegawai yang paling Alisia sayangi. Lagipula hanya wanita itu yang tahan mendengar curhatnya tentang lelaki, kontes kecantikan dan musuh bebuyutannya yang bernama Mei-Mei, si tomboy dari kampung seberang.
"Tutup. Gue kagak mau liat Squidward ngondoy dalem legging trio macan."
"Lo gitu deh, nek. Bikin eke gemes. Untung centong. Kalalo tinta, huh, udin abis yey eke getok pake sepokat eke yang dua puluh senti."
"Kaga patah leher lo? Pas dikejer trantib, gimana larinya?"
Satu detik kemudian, Ratu meringis karena Alisia mencubit pipi gadis itu, "Idih, eke kok disamain ama bencong komplek? Alisia DeKiss indang sosialita, nek. Lu tau kan tarif eke kalo ngelenongin pewong? Lima jeti paling murah, eke aja minum sparkling water, ga level minum air keran."
"Ya, serah deh. Buruan, beib. Ntar papi beol, gue mesti pulang. Jangan lama-lama, bisa gak? Ga usah rapi-rapi amat, lah."
Kalau sudah begitu, Alisia kemudian akan merepet panjang lebar, "Atu cakep, yey itu endorsenya luar dalem atas bawah, yes. Abis ini, mawar di foto, masuk insta, hasil kreasi jemari seksi Alisia DeKiss. Buat promo. Kalalo acak-acakan, mana mau pelanggan eke mampir. Lu gilda, sih "
"Iya-iya, buruan." Akhirnya Ratu menyerah. Ia tidak berniat protes lagipula, sudah termasuk perjanjian, selain menjadi model di salon, dia juga menjadi model di i********: salon milik Alisia, DeKiss yang punya banyak pengikut. Walau tidak semua dari pengikut itu adalah langganan salon miliknya.
"Nek, kemarin ada g***n, nawar foto elo. Gilingan, yak. Eke bilang, itu segelan, bukan ani-ani. Eh, malah eke diketawain. Dese ngotot bilang, mawar ajak jalan ajija."
Selain langganan salon, tidak sedikit om-om berhidung belang, pencari kenikmatan di s**********n perempuan muda. Ratu nyaris menjadi salah satu dari mereka delapan tahun lalu, masa-masa ia sempat menjadi SPG rokok saking sudah buntu jalan yang harus ia ambil untuk mengobati papi.
Lalu mami dan Om Waluyo menyelamatkannya.
"g***n kaya, Li?" Ratu berusaha tersenyum. Agak nyeri terasa saat mendengar masih saja ada pria yang tidak jemu berusaha menawar harganya.
"Ooh. Keyong nek. Kalalo yey mawar diajak karaoke, satu jam sejeti. Tapi tenang ajija, kaga eke kasih. Ngeri bok, bininya banyak."
Fakta bahwa seorang pria kaya, rela meninggalkan istri yang ada di rumah, untuk kenikmatan sesaat juga membuat wanita itu merasa pilu. Setidaknya, ia salah satu korban dari kejadian tersebut, walau kenyataan adalah mami yang meninggalkan dirinya dan papi.
"Jengong sedih dong, nek. Eke ga bakal biarin lekong-lekong mata keranjang goda-goda yey. Kalalo ada yang berani, eke sedot ubun-ubunnya, biar lemes. Buat Atu, anaknya papi, kesayangannya Alisia, eke bakal bantu cari lekong eslong, yang selain cinta ama lo, cinta juga ama papi."
Ratu tersenyum saat merasakan usapan lembut di bahunya tanda simpati oleh lelaki kemayu yang telah bertahun-tahun ia jadikan teman. Ali tahu alasan Ratu tidak pernah menjalin hubungan dan selalu jadi orang pertama yang menilai tiap ada pria yang berani mendekati wanita itu. Selama bertahun-tahun juga, tidak pernah ada kandidat yang sesuai.
Lima belas menit kemudian, saat foto Ratu sudah berhasil diunggah ke i********:, Ali mendapat pesan dari seorang pria. Pesan yang sama telah ia kirim tanpa lelah dan selalu tidak pernah dihiraukan oleh Ali tiap dia membacanya.
Li, kasih tau temen lo, kalo dia mau tidur ama w, perawannya gue hargai, 150jt.
"Kenapa, Li?" Tanya Ratu saat ia menemukan wajah mendung sang pemilik salon yang terpaku membaca pesan barusan. Alisia dengan cepat menggeleng dan menghapus pesan itu supaya tidak diketahui oleh Ratu.
"No, cuma penggemar eke, nek. You kan tahu, eke femes."
Setelah Ratu mengangguk dan pamit untuk pulang, dengan cepat Ali membuka kembali i********: pria m***m itu dan menekan tombol blok dengan harapan pria yang sama tidak akan kembali mengganggu.
Meski dia tidak pernah tahu, suatu hari, Ratu sendirilah yang akan mendatangi pria itu demi nilai seratus lima puluh juta rupiah.
***