Sembilan

1637 Words
Tidak biasanya Ratu kesulitan mengatur emosi namun untuk pertama kali setelah sekian lama, ia muncul di kantor dengan wajah sembab dan dahi berkerut. Rambutnya yang kini sudah kembali berwarna hitam, dipotong sedikit pendek dan di smoothing begitu lembut dan halus oleh Alisia, melayang lembut ketika gadis yang pernah jadi ketua OSIS SMANSA JUARA itu melangkah menuju tempat duduknya sendiri.  Untunglah Lisa tidak berada di tempat duduknya, satu hal yang membuat Ratu amat bersyukur ia bisa menumpukan kedua siku di atas meja lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pagi ini, papi mengamuk. Menangis dan menolak dipasangkan baju dan popok sekali pakai. Pria tua itu mengeluh, badan dan pantatnya perih serta gatal akibat terlalu lama berbaring. Mengeluh karena kasur terlalu tipis dan rumah kontrakan yang ia huni terlalu panas hingga menyebabkan ruam-ruam muncul. Ratu yang menemukan kalau yang terjadi memanglah kenyataan, bahwa papi tidak berbohong, hanya bisa memberi ucapan penghiburan. Krim dan bedak yang biasa ia beli tidak begitu membantu dan ruam-ruam di sekitar perut dan bagian yang tertutupi popok bermaterial plastik agar tidak bocor itu terdapat luka, semakin menjadi karena bercampur air seni nyaris sepanjang waktu, terutama karena ia memakai popok dalam waktu yang lama, atau buang air seni terlalu banyak. Air mata Ratu bahkan jatuh saat papi berteriak perih. Jejak darah bisa ia lihat ketika popok dilepaskan dari tubuh pria ringkih itu. Menempel bersama sisa seni. Padahal ia sudah berusaha mencari popok terbaik, tapi karena papi berbaring begitu lama, membuat segalanya tambah kacau. Ia tidak bisa meminta Uwak Ijah mengganti popok papi dan konsekuensinya adalah pria itu harus sabar menanti hingga putrinya kembali dari kantor, yang mana kadang menjadi sangat lama apabila Ramli tidak sadar buang air besar ketika hari masih pagi dan belum waktunya Ratu pulang. Ia tahu seharusnya dirinya lebih baik berada di samping sang ayah, tetapi jika begitu, mereka tidak akan bisa makan. Om Waluyo adalah satu-satunya harapan bagi wanita itu untuk hidup. Tidak banyak perusahaan mau memperkerjakan wanita tamatan SMA, terutama yang punya jam kerja pendek seperti yang ia jalani saat ini. Ayah tirinya yang tahu bahwa selama bertahun-tahun Ratu menolak uang saku pemberian Indiri, pada akhirnya menaikkan gaji gadis itu dengan harapan hidupnya tidak akan susah, sesuatu yang tidak bisa ditolak oleh anak tiri yang sadar, biaya merawat sang ayah tidak pernah murah. "Papi jangan gitu, kasian Uwak liat papi nggak pake baju. Nanti Atu ke toko obat, cari krim atau obat yang bagus buat sembuhin gatel-gatel papi. Tapi jangan gini, Pi. Atu mesti kerja, kalo papi ngambek, Atu bisa telat." Ramli lalu meraung-raung sambil menggaruk tubuhnya dengan satu tangan yang masih bertenaga, cukup kuat hingga menimbulkan parut luka yang membuat air mata wanita muda itu makin deras mengalir. "Pi, jangan gini. Tambah sakit nanti. Atu dapet duit dari Ali kemaren, Atu bakal beli popok yang mahal biar p****t papi nggak perih lagi, tapi jangan digaruk kayak gini." Butuh banyak waktu untuk membujuk satu-satunya harta paling berharga yang ia punya itu. Ketika sadar, wajahnya sudah sembab karena terus menangis dan tidak ada waktu untuk menyembunyikan semua sehingga saat muncul di kantor, yang bisa lakukan hanyalah menunduk. Setidaknya, saat Damar yang Ratu tahu, seperti biasa menjulurkan kepala hanya untuk mencari keberadaannya, wanita itu berakting sedemikian rupa, meminjam kacamata hitam milik Lisa dan melambaikan tangan dengan genit seolah tidak terjadi apa-apa. "Nggak telat kan, Mas?" Dia berteriak, amat tidak sopan, agar pria itu makin jijik kepadanya. Sisa tangis pagi tadi bahkan membuat suaranya bergetar dan hidungnya bengkak, namun ia tidak peduli. "Ngapain kamu pake kacamata item di kantor? Gaya banget." Celetuk Damar saat ia dengan santai berjalan mendekati meja Lisa dan Ratu, lagaknya seperti hendak inspeksi, hanya saja Ratu tahu, pria itu mencari kesempatan agar bisa mengajaknya bicara. Ratu tidak datang telat, jadi tidak ada alasan untuk memanggilnya ke kantor lalu menceramahi gadis itu seperti biasa. "Sakit mata, Mas. Oh iya, sama pilek juga, mau liat belek aku?" Pura-pura menarik gagang kacamata dengan gerakan amat lambat, Ratu berdoa supaya Damar melarang. Ia bersyukur, dua detik kemudian Tuhan mengabulkan pintanya, hanya bukan pria itu yang melakukannya, melainkan Lisa, sang tetangga. "Ih, Nular nanti. Gue sensitif sama ginian. Bulu kucing aja bersin, apalagi belekan. Harusnya nggak usah kerja aja kenapa, sih? Mau jadi karyawan teladan?" Lisa yang bergidik sayangnya tidak membuat Damar menjauh. Pria itu malah menyuruh Lisa pergi dan mengambil alih tempat duduk wanita itu untuk dirinya sendiri. Ketika Ratu mengoceh bahwa yang Damar lakukan adalah tindakan semena-mena, supervisor tampan itu dengan santai menarik kacamata Ratu dan tidak aneh saat tahu, bukan sakit mata yang sedang gadis itu derita saat ini. "Berapa kali kamu mesti bohong dengan harapan saya percaya? Beberapa hari yang lalu kamu bilang, rambut acak-acakan karena mandi junub, lupa sisiran, padahal satu hari sebelumnya kamu sholat di musola mall. Tahu-tahu, kepala kamu luka. Sekarang, bilang kena sakit mata, kenyataannya mata kamu sembab dan bisa saya tebak, kamu habis menangis. "Dih, sok tau. Ini loh, poni baru, kepanjangan nusuk mata, jadi kelilipan. Bukan apa-apa, sih. Sok kuatir, deh." Damar masih menatap lurus ke arah mata sembab milik Ratu, "Poni kamu pendek, nggak bakalan kena mata. Tapi omong-omong, model begini bikin kamu makin cantik." Ratu tertawa dengan suara sedikit serak yang kelihatan sekali dibuat-buat. Dalam hati berharap pria itu tidak tahu bahwa kalimat yang Damar ucap membuat semangatnya yang sempat anjlok meningkat amat drastis, sampai satu fakta menyadarkan, ia tidak boleh terlalu terbawa perasaan. Putri pasti akan mengetahui bahwa dia bersikap amat genit pada Damar, sehingga setelah tawa terhenti, ia kembali pasang sikap konyol. "Aku emang cakep, ga inget pas SMA, yang nembak banyak? Situ sih, lupa. Sampe sekarang juga masih cakep. Masak iya jadi tambah jelek." "Saya cuma inget, ada cewek genit yang nekat nembak, tapi setelahnya, sebelum dikasih jawaban, dia nggak masuk selama berhari-hari dan kabar paling mengejutkan adalah, dia pindah satu bulan kemudian, hilang tanpa jejak, ninggalin cowok jomblo yang dia tembak tanpa pernah dapet jawaban, sampai hari ini." Jika boleh jujur, Damar mengucapkan sesuatu yang membuatnya nyaris sesak napas. "Lah, siapa suruh dulu lari abis ditembak? Rasain kan, nyesel. Coba kalo ngangguk, jadi cowoknya Ratu kan keren." Damar tersenyum. Kumis tipis di sudut bibir membuatnya amat tampan dan Ratu mengaku kalau senyum pria yang sama itu selalu membuat cacing-cacing di perutnya berubah jadi kepompong yang bertransformasi jadi kupu-kupu dalam hitungan detik. Ia ingin menghambur memeluk Damar namun kemudian memutuskan untuk menjauhkan kursi kerjanya agar pria itu tidak terus-terusan menggoda. Lagipula, mana ada atasan dan bawahan menjadi pacar. Damar juga lebih cocok bersama Putri dibandingkan dirinya. "Saya terlalu kaget waktu itu. Setelah sadar, sudah kehilangan kamu. Nggak nyangka setelah delapan tahun, ketemu kamu lagi di sini dan bersyukur, masih jomblo." "Siapa bilang jomblo? Udah punya solmet, di bawah, tu. Namanya Broto. Guanteng banget biarpun songong." Ratu memotong dengan cepat. Siapa tahu Damar benci dengan perempuan halusinasi yang lebih cinta kucing daripada dirinya. "Kamu yakin nggak mau denger jawaban saya, setelah kamu nembak dulu?" Ratu merasa tubuhnya merinding tidak jelas ditatap sedemikian rupa oleh Damar yang jelas-jelas ia tahu perasaannya. Kenapa sih pria itu tetap nekat? Dia kan sudah merusak segala imej cantik sempurna dalam dirinya hingga hancur, kenapa Damar masih ngotot? Dia bakal rugi kalau terus memaksa, apalagi Ratu lebih memilih papi daripada dirinya, tidak peduli senyum pria itu terus menggodanya dari tadi. Imut banget... "Eh, Mas, Putri anak bos, naksir loh. Dia cakep pake banget, jadi model gitu, model beha ama k****t, susunya gede, yang jadi lakinya, bakal sehat sentosa, padat gizi.." Damar bahkan tidak mendengarkan kalimat Ratu. Mata hitam dengan alis tebal mirip ulat bulu itu menghipnotis Ratu hingga tanpa disadari, ia berhenti bicara. "Putri bilang dia suka..." Ratu megap-megap merangkai kata saat ia sadar Damar menggeleng, tanda tidak setuju kalimat lawan bicaranya saat ini. "Saya suka sama kamu, ketua OSIS gendeng yang berani nembak seorang Prabu Damar tidak peduli setelahnya mesti dihukum oleh Pak Jamal. Harusnya kita punya kesempatan..." Seharusnya, mendengar kalimat pernyataan cinta itu membuat Ratu menganggukkan kepala. Butuh bertahun-tahun akhirnya ia mendapatkan jawaban walau sudah tahu perasaan Damar kepadanya seperti apa. Bukan sekali dua pria itu mengaku sebagai calon suami saat mereka bicara, hanya saja, Ratu merasa semuanya tidak wajar. Sama tidak wajar kalau ia berani menganggukkan kepala sementara ia tahu, Putri bisa kapan saja datang dan mengancamnya. Keberuntungan tiba saat sebuah panggilan masuk dari ponsel  dan wajah Sultan Bangsawan Gana Jati sedang memakai masker berada di sana. tersembunyi memang, tapi Damar tahu bahwa wajah asing yang ia lihat untuk pertama kali itu adalah seorang laki-laki. "Siapa itu?" Nada penasaran terasa sekali saat Damar bicara dan entah kenapa, sesuatu dalam diri Ratu memaksanya untuk berbohong. Siapa tahu setelah ini Damar akan benci dan menjauhinya. Siapa tahu juga, setelah ini, Putri akan berhenti merecokinya. "Yang ini, papinya Broto. Calon imam. Permisi, Mas Damar..." Damar tentu tidak begitu saja percaya. Hanya saja, ketika Ratu menggeser tombol terima, suara Sultan yang memanggil Ratu dengan panggilan "Dek" membuatnya menegang kaku. Sikap yang membuat Ratu yakin, Damar mungkin sudah menyerah. Karena itu, setelah ia berjalan menjauh dari pria itu, perhatianya kini fokus pada Sultan yang menunggu balasannya. "Ngapain, Bang? Gue belom jadi Hulk kalo lo khawatir." Tawa Sultan yang tidak pernah tidak tertawa mendengar gurau ngawur dari bibirnya membuat Ratu sedikit tersenyum. Tidak peduli, setelah itu ia harus meremas ujung roknya kuat-kuat kala melihat Damar berjalan dengan lunglai menuju kantornya lalu menutup pintu tanpa menoleh ke arahnya lagi. Mengabaikan sudut hati yang terasa amat nyeri, ia mencoba membalas protes Sultan dengan tawa walau dua detik kemudian ia sadar, air mata kembali luruh. Kenapa hari ini ia harus meneteskan air mata karena dua laki-laki yang amat disayanginya di dunia? Tuhan tidak sedang mengujinya, kan? Karena kalau memang iya, ia ingin meminta Tuhan sedikit menambah rasa nyeri ini dan menggantinya dengan kesehatan buat papi. Dia masih kuat menanggung sedih dan kehilangan pria seperti Damar, daripada kehilangan Ramli Santoso, mantan Abang Jakarta yang darahnya mengisi setiap jengkal pembuluh dalam tubuh gadis itu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD