Indira Putri Waluyo yang sedang mengemudikan sedan biru metalik miliknya mendadak tidak bisa melupakan kejadian subuh tadi di kontrakan saudara tirinya, Ratu Intan Wijaya Kusuma. Tiap berhenti pada persimpangan jalan yang lampu rambu lalu lintasnya menyala merah, ia selalu terkenang dengan sosok ringkih yang tidak mau capek-capek menyembunyikan air mata sewaktu dia pamit. "Uhhuuuhh... Pi bakal ri...n...du. Jaga di...ri. Yang akhur zama Atu." Tanpa perlu bantuan penerjemah, dia mulai paham beberapa kalimat yang keluar dari bibir pecah-pecah Ramli. Putri sempat mengomentari pelembab bibir yang dibeli Ratu untuk pria itu, dan berseloroh kalau produk yang kerap Ramli gunakan bukan produk asli. Seketika itu juga, tanpa sadar, Putri menuju kamar Ratu, mengambil tas tangannya yang berharga mah

