Ayah, Kulihat Nyonya Naraya bertekuk lutut kepadanya. *** Nyonya Naraya diam tak berkutik. Duduk di kursinya seperti anak kecil menunggu titah orang dewasa dengan raut ketakutan. “Kau harusnya lebih prihatin dengan keluargaku. Jika Ibu ingin diakui sebagai bagian dari Abinaya, bersikap angkuh-lah. Keluar dari sana dan lemparkan benda ini ke wajah mereka.” “Aku harus mendapatkan kembali uangku.” “Kau tidak perlu mengemis kepada mereka, Ibu. Anggap uang itu sudah diterbangkan angin.” “T-tapi ....” Nyonya Naraya gelisah. “Sisanya akan diurus Tuan Abimayu. Atau kau ingin Tuan Bakar saja yang mengurus aset keluarga Bakrie?” “Aku lebih percaya Tuan Abimayu daripada dia,” jawab Nyonya Naraya cepat sekaligus sengit. Bintang mengangguk. “Ingat, jangan rendahkan dirimu dihadapkan mereka. K

