Ayah, Ini nyata. *** 02.23. Bintang terbangun saat sebuah tangan memukulnya. Membuka mata, ia temukan Ifa yang menjerit dan meronta. Lebih lagi yang ia khawatirkan adalah kaki Ifa yang bergerak-gerak. Bukan apa-apa, kata dokter kalau jahitannya lepas, Ifa harus dijahit lagi. Dan, itu tak terpikirkan untuk diulang kembali. “Ifa, bangunlah,” panggil Bintang menahan kakinya agar tak terlalu bergerak membuka. “Ifa!” Netra Ifa menatapnya. Ketakutan jelas, keterkejutan juga terlihat sekilas. “T-tuan...!” panggilnya pelan. Kemudian Ifa melihat sekelilingnya. “Ini ... kenyataan?!” Bintang mengangguk pelan, “Tapi semuanya sudah berlalu. Kau, kita, sudah melaluinya.” Ifa meneteskan air mata. Nyeri di tubuhnya terasa, lemas tak berdaya, kehilangan semuanya. Rasa percaya diri, rasa nyaman ak

