Ayah, Di mana jalan menemukanmu. *** Ifa mati. Mati. Mati. Mati. Kemarahan menguasainya. Ia sungguh benci Khumaira. Segala hal tentang anak itu, termasuk ayahnya juga. Bintang tak paham. Pria itu menjadi du-ngu saat tabuhnya diliputi has-rat. Ifa kesakitan, sementara Bintang hanya ingin kepuasan. Setiap bulan setelah malam pesta Abinaya, Ifa seolah tahu apa yang dipersiapkan Bintang untuk kembali membuka luka lamanya. Pria itu selalu mengganggu Ifa dengan pertanyaan tak bermakna. Dia pengganggu pula, sama seperti putrinya. Khumaira itu membuat orang kelimpungan oleh tingkahnya. Dia tak mau diam ke sana kemari mencari benda yang mudah untuk dipecahkan. Khumaira sering menghamburkan mainannya tetapi hanya memainkan satu yang paling disukainya. Kadang, Ifa ingin sekali mencekik musuh ke

