Ayah, Aku ingin menghilang dari bumi detik itu. Kau tak tahu betapa aku membenci Nyonya Naraya, tapi kau harus yakin aku sangat... teramat sangat membencinya pada hari pernikahanku. *** Ifa dipersilakan duduk di sisi Tuan Bakar, berhadapan dengan pria yang akan menjadi suaminya. Ifa penasaran, tapi juga takut untuk mengangkat kepala. Ia khawatir akan seperti apa rupa pria itu. Ifa seolah tersihir oleh suasana hatinya sendiri yang perasaannya dipenuhi kecemasan. Ia cemas tanpa alasan setelah sebelumnya baik-baik saja. Dekat dengan pria yang akan jadi teman hidupnya membuat Ifa tiba-tiba tidak baik-baik saja. Ia jadi melihat kedua tangannya yang bersatu di pangkuan, kemudian bayangan yang ibunya lakukan pagi tadi juga menghantuinya. “Ikuti saya. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan

