Rumah Bakrie. September 2012
Ayah,
Satu hari berganti.
Satu hidup berubah.
Hidupku!
Ayah, kau akan menertawaiku.
Aku dikalahan oleh pria bernama Bintang Abimayu.
***
Ini bencana. Bencana bencana bencana bencana. Bencana memiliki ibu seperti Nyonya Naraya.
“Nyonya Rani Abimayu. Dia yang akan datang bertamu. Dia ibu dari pria yang akan menikahimu. Anaknya adalah pewaris perusahaan perhiasan.” Nyonya Naraya menangkup wajah Ifa, “Kau yang paling beruntung, Ifa. Mereka keluarga baik-baik. Bersamanya hidupmu akan selalu berlimpah kekayaan dan kesenangan. Lagi pula kau hanya akan bertemu ibunya. Kau cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya. Harusnya kau bisa bersikap lebih nyaman dalam percakapan kalian nantinya.”
“Akan kuusahakan,” jawab Ifa cepat. Ini yang paling mengerikan. Calon yang dimaksud adalah orang yang lebih dari kaya. Nyonya Naraya jelas menyukai harta benda lebih dari apa pun di dunia.
Nyonya Naraya melepas Ifa lalu menepuk pipinya sendiri. “Aku tak percaya ini. Aku merasakan keyakinan yang sangat jelas bahwa Nyonya Rani pasti akan menerimamu. Akan sangat melegakan kalau itu jadi kenyataan.”
Sama sekali tak melegakan untukku, pikir Ifa menekuk bibirnya. Ia hampir meneriakkan kalimat itu tepat di depan wajah ibunya yang penuh harap.
“Mana gaun hijaumu? Kau berencana memakai hijau, bukan?”
“Ya.”
Nyonya Naraya bergerak ke lemari pakaian Ifa. Mengeluarkan tiga lembar gaun hijaunya lalu melepaskan di atas ranjang Ifa. Satu persatu gaun itu dipadankan ke wajah Ifa, ketiganya mendapat gelengan keras Nyonya Naraya. “Aku tak tahu. Menurutku warna kuning lebih bagus untukmu.”
Ifa mengambil satu gaun satinnya yang diberi hiasan bunga kuning di sekeliling kerutan lengannya. “Bagaimana yang ini, Ibu?”
“Terserah padamu,” jawabnya tak berminat. Jelas sekali pilihan Ifa berbeda dari selera ibunya. “Menurutku tak ada yang salah dengan rambutmu, warnanya sangat menarik. Tak ada salahnya kau bertemu Nyonya Rani tanpa jilbab. Dia tidak akan menghina rambutmu.”
“Aku rasa aku akan tetap memakainya,” putus Ifa.
“Terserah padamu. Ibu rasa ini adalah pria terakhir, kesempatanmu untuk menikah.” Nyonya Naraya memegang handel pintu, “Memiliki cinta dan bahagia bersama seorang pria adalah harapan terakhir Bakrie untukmu.”
Ifa memandang pintu yang menutup. Ia tahu harapan ayahnya. Tapi harapan itu tak bisa diwujudkan. Ifa tak memiliki cinta. Dan hidupnya bahagia dengan tanpa kehadiran cinta. Kedua hal itu bertentangan untuk disatukan dalam diri Ifa.
Satu dua tiga. Satu dua tiga.
Ifa menghitung langkah kakinya saat menuju ruang tamu. Ia hanya khawatir tersandung keliman gaunnya sendiri jika kehilangan fokus. Sebenarnya Ifa terlalu fokus, sampai ia melewati meja tamu dan terus berjalan ke pintu keluar.
“Ifa ...!” panggilan Nyonya Naraya terdengar datar dipenuhi peringatan.
Ifa berbalik langkah, membelok diri dan duduk di kursi meja tamu. Ia hampir berhasil menghilang ke pondoknya daripada menemui Nyonya Rani. “Aku melupakan sesuatu di Pondok kemarin. Aku akan mengambilnya sebentar. “
“Tetap di sini. Sebentar lagi tamumu datang.”
Ifa tak bermaksud menghitung, tetapi ia tidak bisa melupakan. Tamu kali ini adalah yang ke 31. Dia akan jadi sejarah dalam hidup Ifa kalau berhasil mengalahkan tiga puluh kandidat sebelumnya. Daftar panjang kegagalan yang patut dipertimbangkan. Seharusnya Ifa tenang. Ia sudah terbukti menyingkirkan 30 lamaran sebelumnya dengan tanpa banyak bicara. Satu lamaran lagi bukan hal yang sulit. Ifa bahkan sudah terbiasa mendengar ibunya mengeluh karena gagalnya Ifa menarik pria yang dijodohkan kepadanya. Ifa ahli dalam hal ini. Ini mungkin penutup kegagalan ibunya dan menjadi simbol kemenangan untuk Ifa dalam meraih gelar perawan tuanya.
Seorang pelayan mempersilakan masuk seorang wanita. Ifa mengamatinya. Ia hanya tak bisa mencegah dirinya sendiri untuk berhenti penasaran dengan wanita itu. Dia mengenakan gamis berwarna hijau dengan jilbab putih. Masih tersisa masa kejayaan masa muda di wajahnya. Ifa yakin sekali wanita tersebut pernah jadi buruan pria terhormat. Nyonya Naraya bangkit lalu menyenggol Ifa. Ifa kemudian sadar atas perlunya ia sebagai tuan rumah untuk menyambut tamu mereka.
“Dia putrimu?” tanya tamu mereka setelah Ifa bersalaman.
Nyonya Naraya memusnahkan senyumannya, mengganti dengan ekspresi sinis. “Kenapa pertanyaan itu seperti bermakna ganda?”
Nyonya Rani tersenyum tanpa raut tersinggung. “Maksudku dia sangat cantik. Terlalu cantik untuk jadi putrimu.”
“Duduklah. Putramu sungguh tak datang?”
“Dia mengajar anak-anak SD.”
Ibu Ifa tampak terkejut. “Apa yang terjadi dengan perusahaan kalian? Mengapa dia butuh gaji dari pemerintah?”
Sekali lagi Nyonya Rani tersenyum, seolah Nyonya Naraya tak bisa membaca situasinya. “Perusahaan baik-baik saja. Bintang hanya ingin mengejar cita-citanya.”
Namanya Bintang. Dia guru. Dia punya cita-cita. Ifa menelaah informasi itu. Pria yang dijodohkan kali ini jelas berbeda dengan yang sebelumnya. Nyonya Naraya selalu memilihkan pria yang mempunyai garis keluarga kaya dan biasanya pria tersebut akan menikmati harta keluarga mereka bukan mengejar cita-cita.
“Siapa namamu, Nak?” tanya Nyonya Rani kepada Ifa.
“Latifa. Ifa.”
Keterkejutan tiba-tiba merambah di wajah Nyonya Rani. Ifa menyadarinya meskipun Nyonya Naraya sama sekali tak melihat itu. Ifa melihatnya walaupun hanya ditampakkan sekian detik saja.
“Silakan mengobrol dulu. Sepertinya kepala pelayan kami lupa membawa jamuannya. Sebentar ya.” Nyonya Naraya pergi dengan alasan yang sama seperti tiga puluh lamaran sebelumnya.
Kini Ifa ditinggal berdua dengan Nyonya Rani. Sebentar yang Nyonya Naraya maksud biasanya lebih dari dua puluh menit. Jadi, yang bisa Ifa lakukan hanya diam, seperti biasa dan dia akan menjawab seperlunya, seperti biasa.
“Ada yang ingin kau tanyakan tentang putraku?”
Ifa ingin menjawab tidak ada, tapi suaranya tak begitu saja keluar. Ifa lalu menelan ludah dan menghirup napas baru. Ia lalu mengucapkannya dengan pelan dan tenang, “Tidak ada.”
Nyonya Rani mengerjap satu, dua, tiga. Tiga kali. Kemudian beliau tertawa. Entah apa yang lucu. Tak biasanya ada tawa yang terdengar dalam rumah ini, terutama kalau tawa itu terjadi di pagi hari. Aya dan Ayu selalu berkunjung sore hari saat suami mereka sudah selesai dari pekerjaan masing-masing. Pagi hari selalu hanya diisi para pelayan dan Nyonya Naraya. Nyonya Naraya lebih dikenal sebagai tuan rumah kritis dan suka mengkritik daripada seorang yang mudah tertawa. Pelamar Ifa bernama Nyonya Rani Abimayu, beliau dengan lugasnya tertawa meski tak ada kejadian apa pun yang lucu. Setidaknya, Ifa tak berniat melucu dalam situasi ini. Jika saja Nyonya Naraya masih duduk di sisi Ifa, beliau mungkin akan mendesiskan kata : Hentikan. Nyonya Naraya sepenuhnya adalah orang yang tak suka segala hal tak sesuai keinginannya. Adalah sebuah kesalahan ketika kedua kakak Ifa tertawa hanya karena masalah gaun mereka yang robek. Hal yang patut Ifa sesali dari dirinya, ketika ia merasa Latifa Bakrie benar-benar anak kandung Nyonya Naraya, ia lebih mirip beliau daripada kedua saudarinya dalam hal tertawa.
“Baiklah. Apa yang kau cari dari seorang pria? Aku akan mencocokkannya dengan putraku.” Nyonya Rani mencoba cara lain untuk menghadapi kekakuan suasana diantara mereka.
Ifa bisa menjawab : Tidak ada. Ia bisa mengatakan itu sekali lagi, lalu Nyonya Rani akan berdiri dari kursi itu dan melangkah ke pintu keluar. Itu ide yang mutakhir kalau Nyonya Naraya tak akan membencinya seumur hidup. Ifa sendiri tak yakin Nyonya Naraya itu menyayanginya atau tidak, tapi lebih baik bagi Ifa untuk tidak membuat ibunya membenci dirinya. Mengingat mereka akan tinggal lama dan menghabiskan masa tua bersama, maka mereka harus hidup rukun tanpa saling membenci. Jika Ifa membuat Nyonya Rani pergi terlalu cepat dari waktunya, itu akan memulai petaka. Nyonya Rani adalah besan yang paling diharapkan Nyonya Naraya.
“Kau tidak banyak bicara, ya. Apa kau takut menikah?” tanya Nyonya Rani terlontar kembali.
“Bukan takut,” jawaban Ifa akhirnya keluar. Ia tak takut menikah. Ifa hanya tak ingin menikah. Takut dan tak ingin itu dua hal berbeda. Ifa tidak ingin berurusan dengan seseorang, termasuk ibunya sendiri, tetapi Ifa sudah menjalani hidup berdampingan dengan ibunya itu, jadi ia sudah terbiasa. Yang Ifa tak ingin dari pernikahan adalah ia harus membiasakan diri dengan seorang pria. Pria asing. Bayangan masa depannya bahkan lebih suram daripada harus melewati hari-hari renta bersama Nyonya Naraya.
Senyuman Nyonya Rani melengkung indah setelah mendengar lagi suara Ifa. “Apa yang kau inginkan dalam pernikahan?”
Ifa tak menginginkan apa pun, termasuk pernikahan itu sendiri. Jadi, pertanyaan Nyonya Rani sama sekali tak perlu jawaban. Akhirnya Nyonya Rani mengangkat tangannya satu kali di udara. Ifa bisa mengartikan itu sebagai tanda kemenangannya. Lawan bicara Ifa lebih senang mengalah daripada mengumumkan banyak pertanyaan tanpa mendapatkan jawaban. Selalu begitu. Mereka tak akan tahan duduk lama menatap Ifa sambil memikirkan kemungkinan kalimat yang Ifa pilih sebagai jawaban. Ifa biasanya hanya menjawab dalam pikirannya sampai pertanyaan lain muncul dan mereka akan mendapatkan satu jawaban ahli dari Ifa. Diam.
“Aku akan berhenti menanyaimu,” putus Nyonya Rani kehilangan aura ramahnya. “Biar kuceritakan padamu tentang putraku. Namanya Bintang Abimayu. Dia...."