Ayah, Aku, antara hidup dan mati. *** “Bolehkah saya panik?” tanya Ifa kepada ibu mertuanya yang baru saja melepas ponsel. “Jangan! Aku saja.” Ifa menarik napas sambil menahan kesakitannya. Ya Tuhan! Dr. Safitra tak menjawab panggilan, beliau kemungkinan besar masih dalam ruang operasi. Sementara itu suaminya sedang tak di sini. Kemudian Ifa sendiri tidak diperbolehkan panik. Satu lagi, ibu mertuanya gelisah, gelisah sekali. Ifa merasakan aliran mengalir dari pangkal pahanya. Ketika ia melihat ke kakinya, basah kain pembungkus kaki yang ia pakai oleh bercak merah. “Nyonya...!” panggil Ifa pelan. Nyonya Rani menghambur mendekatinya. Matanya terbelalak. “Oh, Ifa! Apa yang harus kita lakukan?!” Ifa tak tahu. Ia belum pernah mengalami ini sebelumnya. Jika ia pernah memikirkan saat gent

